Daily Update : 21-08-2018 | Download File :

BERITA GLOBAL

  • Bursa saham AS ditutup menguat pada perdagangan Senin (20/08). Sentimen positif yeng mendorong Wall Street berasal dari optimisme atas perundingan perdagangan antara AS dan yang akan berlangsung pekan ini di Washington DC. Di sisi lain, bursa AS juga terbebani oleh pernyataan Presiden AS yang mengkritik langkah the Fed dalam menaikkan suku bunga acuan. Pada Rabu (22/8) besok, FOMC akan merilis hasil notulensi rapat pada bulan Agustus. Notulensi ini diprediksi akan mengindikasikan kepercayaan The Fed terhadap pertumbuhan ekonomi AS dan komitmen atas kenaikan suku bunga acuan lanjutan. Indeks Dow Jones Industrial Average naik 89,37 poin atau 0,35 persen menjadi 25.758,69 sedangkan indeks S&P 500 naik 6,92 poin atau 0,24 persen menjadi 2.857,05. (Kontan)
  • Harga minyak mentah acuan global naik setelah pelaku pasar optimis mengenai perkembangan perang dagang, setelah AS dan Tiongkok direncanakan untuk melakukan perundingan perdagangan. Selain itu, terdapat ekspektasi bahwa sanksi AS terhadap Iran akan mengurangi pasokan minyak secara global mengingat Iran akan mengurangi ekspor minyaknya. Harga minyak mentah berjangka Brent naik 0,53 persen menjadi US$ 72,21 per barel. (Investing)
  • Turki secara resmi mengadukan AS ke Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) soal tarif tambahan yang dikenakan atas impor produk baja dan alumunium dari Turki. Dalam suratnya ke WTO, Turki menuduh AS melanggar aturan perdagangan bebas ketika pada awalnya mengenakan tarif sebesar 25 persen untuk baja dan 10 persen untuk impor aluminium pada bulan Juni 2018 lalu, dari sebagian besar negara, dengan beberapa pengecualian seperti Argentina dan Australia. Tarif tersebut selanjutnya digandakan pada awal bulan Agustus sebagai respons AS atas penahanan seorang pendeta asal AS Andrew Brunson oleh otoritas Turki atas tuduhan terorisme. urki mengklaim tindakan tersebut tidak konsisten dengan sejumlah ketentuan perjanjian WTO tentang pengamanan atau safeguard maupun ketentuan The General Agreement on Tariffs and Trade (GATT) tahun 1994. (Kontan)

BERITA DOMESTIK

  • Bank Indonesia melakukan relaksasi peraturan terkait batas minimal transaksi valuta asing swap lindung nilai (hedging) yang bisa dilakukan melalui BI, untuk menjangkau pelaku usaha yang lebih luas. Dalam hal ini, BI menurunkan nilai minimal transaksi, dari sebelumnya 10 juta dollar AS menjadi 2 juta dollar AS. Peraturan tersebut tertuang dalam Peraturan Anggota Dewan Gubernur Nomor 20/ 16 /PADG/2018 Tentang Transaksi Valuta Asing Terhadap Rupiah Antara Bank Dengan Pihak Domestik. Dengan adanya batas minimal baru yang lebih rendah, diharapkan dapat memperdalam jangkauan pasar eksportir serta nasabah bank lain sehingga meningkatkan efisiensi dari transaksi di pasar uang. (Kompas)
  • Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) menargetkan total dana kelolaan haji tahun ini bisa mencapai Rp110 triliun. Per akhir semester I 2018, total dana kelolaan termasuk Dana Abadi Umat telah terkumpul sekitar Rp107 triliun. Untuk meningkatkan pelayanan kepada jemaah dan mendorong dana kelolaan haji, BPKH terus memperbanyak jumlah bank penerima setoran haji. Saat ini, 28 bank umum syariah dan unit usaha syariah berperan sebagai Bank Penerima Setoran Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji. (CNN Indonesia)
  • OJK telah mengeluarkan paket kebijakan untuk meningkatkan kredit dan pembiayaan di sektor produktif dengan tujuan meningkatkan multiplier effect terhadap pertumbuhan sektor riil dan penciptaan lapangan kerja serta mendorong ekspor. Pertama, OJK memberikan insentif bagi lembaga jasa keuangan untuk menyalurkan pembiayaan ke industri yang berorientasi ekspor. Kedua, merevitalisasi peran Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI). Ketiga, menfasilitasi penyediaan sumber pembiayaan dari pasar modal untuk pengembangan 10 Kawasan Strategis Pariwisata Nasional selain Bali. Terakhir, menfasilitasi KUR Klaster untuk pengembangan UMKM di sektor pariwisata yang bekerja sama dengan Kementerian Koordinator Perekonomian. (CNN Indonesia)

Sumber Data: Bloomberg, WEC, Bank Indonesia, Bisnis Indonesia, Reuters, FT, CNN Indonesia, CNBC, Investor Daily, Ipot News, BBC, Kompas, Antara News, Kontan.

Weekly Update : 13-08-2018 s.d 19-08-2018 | Download File :

 

 

Highlight  Minggu Ini

  • Wall Street ditutup menguat di tengah sentimen krisis Turki dan rencana negosiasi kembali AS – Tiongkok.
  • Indeks dolar AS berada pada level 96,10 pada akhir pekan (17/08) atau melemah sebesar 0,27 persen dalam sepekan.
  • IHSG tercatat melemah sebesar 4,83 persen secara mingguan ke level 5.783,80  di tengah posisi jual bersih investor non residen.
  • Rupiah melemah sebesar sebesar 0,79 persen secara mingguan.
  • Bank Indonesia dalam Rapat Dewan Gubernur yang berakhir pada pada hari Rabu (15/08) menaikkan suku bunga acuan untuk keempat kalinya dalam tiga bulan.

I.    Pasar Global

Pasar Saham. Wall Street ditutup menguat dibanding penutupan pekan sebelumnya dengan indeks Dow Jones dan S&P 500 mencatatkan kenaikan masing – masing sebesar 1,41 dan 0,59 persen. Sentimen yang mempengaruhi pergerakan bursa saham Wall Street selama sepekan berasal dari kekhawatiran lanjutan atas krisis Turki dan rencana negosiasi perdagangan kembali AS – Tiongkok. Pada awal pekan, mata uang Lira Turki kembali melemah hingga mencatatkan rekor terendah baru, sehingga kemudian memicu peningkatan kekhawatiran investor bahwa krisis Turki akan menyebar ke kawasan lainnya. Tekanan terhadap Lira Turki mulai mereda pada tengah pekan seiring penyuntikan likuiditas oleh Bank Sentral Turki. Namun, sepanjang pekan, ketegangan Turki – AS tetap tinggi seiring penolakan Presiden Erdogan untuk membebaskan pastor Brunson. AS mengancam akan memberikan sanksi tambahan jika Turki tidak membebaskan Brunson. Selain itu, Turki membalas AS dengan menaikkan tarif bea masuk atas produk impor dari AS seperti alkohol, beras, dan mobil. Sebelumnya, AS mengenakan tarif bea masuk atas produk baja dan aluminium Turki. Dari rilis data ekonomi AS, indeks awal sentimen konsumen bulan Agustus menunjukkan penurunan dari bulan Juli, sementara penjualan eceran bulan Juli mencatatkan angka di atas ekspektasi. Sementara itu, Philadelphia Fed index yang mengukur performa sektor manufaktur AS untuk bulan Agustus menunjukkan penurunan dibanding kinerja bulan Juli. Pada akhir pekan, sentimen positif datang dari kabar bahwa Wakil Menteri Perdagangan Tiongkok akan bertemu dengan delegasi AS untuk membicarakan kembali terkait isu perdagangan pada bulan November mendatang.

Dari kawasan Eropa, bursa saham utama di kawasan seperti FTSE 100 Inggris, DAX Jerman, dan CAC Prancis ditutup melemah secara mingguan, masih terdampak kekhawatiran atas krisis Turki. Dari rilis data ekonomi, PDB Jerman Q2 2018 tumbuh sebesar 0,5 persen qoq, lebih tinggi dari bulan sebelumnya dan dari consensus pasar. Penjualan eceran UK bulan Juli juga tercatat menguat ke angka 0,7 persen mom, dari -0,5 persen mom pada bulan sebelumnya. Sementara itu, inflasi Eropa pada bulan Juli stabil di angka 2,1 persen yoy.

Dari kawasan Asia, indeks di kawasan ditutup sebagian besar melemah secara mingguan dengan IHSG dan Shanghai mengalami penurunan mingguan paling dalam masing – masing sebesar 4,83 dan 4,52 persen. Selain isu krisis Turki dan perang dagang AS – Tiongkok, kekhawatiran investor bertambah akan isu perlambatan perekonomian Tiongkok. Produksi sektor industri Tiongkok bulan Juli tumbuh sebesar 6,0 persen yoy, di bawah ekspektasi sebesar 6,3 persen. Perang dagang dengan AS dikhawatirkan akan semakin memperburuk kinerja perekonomian Tiongkok.

Pasar Uang.  Indeks dolar AS berada pada level 96,10 pada akhir pekan (17/08) atau melemah sebesar 0,27 persen dalam sepekan terhadap enam mata uang utama dunia dari posisi 96,36 pada penutupan akhir pekan sebelumnya (10/08). Hingga pertengahan pekan lalu, indeks dolar AS terpantau menguat dan sempat menyentuh level tertinggi dalam 13 bulan seiring krisis mata uang Turki yang merembet ke negara berkembang lainnya sehingga memicu investor untuk mengalihkan asetnya ke ke aset safe haven seperti dolar AS dan US Treasury. Indeks dolar AS berbalik melemah jelang akhir pekan seiring recovery yang dialami oleh Lira Turki dan Yuan Tiongkok. Selain itu, ekspektasi meredanya perang dagang AS – Tiongkok juga sedikit meredam kenaikan indeks dolar setelah pejabat Tiongkok mengumumkan akan mengunjungi AS untuk melakukan negosiasi perdagangan. Indeks dolar juga mendapat tekanan dari indeks sentimen konsumen yang dirilis oleh University of Michigan. Dalam rilisnya, University of Michigan menyatakan bahwa indeks sentimen konsumen AS untuk bulan Agustus berada di level 95,3, turun dari 97,9 pada bulan Juli serta merupakan yang terendah dalam 11 bulan terakhir. Penurunan indeks terutama bersumber dari masyarakat yang berada pada sepertiga penghasilan terendah dengan kekhawatiran utama adalah kenaikan harga yang terjadi secara persisten dalam beberapa bulan terakhir.

Pasar Obligasi. Yield treasury AS tenor 10 tahun bergerak turun sekitar 1 bps pekan lalu setelah ditutup pada level 2,86 pada akhir pekan (17/08), lebih rendah dibandingkan 2,87 pada penutupan akhir pekan sebelumnya (19/08). Relatif stagnannya pergerakan imbal hasil US treasury terutama dipengaruhi oleh perkembangan krisis Turki. Sempat diburu oleh investor sebagai aset safe haven seiring meluasnya dampak krisis Turki ke negara emerging market, permintaan US treasury kembali stabil setelah Lira Turki berhasil melakukan recovery. Selain komitmen bank sentral Turki untuk menyediakan likuditas domestik, recovery Lira juga didukung komitmen Qatar untuk memberikan suntukan sebesar US$ 15 miliar kepada Turki dalam bentuk investasi. Terakhir, Tiongkok juga dikabarkan akan memberikan bantuan likuiditas untuk Turki mengingat krisis Turki juga berdampak terhadap pasar keuangan Tiongkok. Selain itu, relatif meredanya perang isu dagang AS – Tiongkok sepanjang pekan lalu juga turut mendorong penurunan yield US treasury.

Pasar Komoditas. Melanjutkan tren pelemahan pada pekan-pekan sebelumnya. harga komoditas minyak mentah kembali melemah pekan lalu. Harga minyak mentah Brent terpantau melemah sebesar 1,35 persen secara mingguan ke level US$71,83 per barel. Tiga sentimen utama yang membebani harga minyak adalah krisis mata uang yang dialami Turki, kenaikan persediaan dan produksi minyak AS serta kekhawatiran melemahnya permintaan Tiongkok sebagai dampak perang dagang dan perlambatan ekonomi.

Pelaku pasar melihat potensi merambatnya krisis keuangan Turki secara luas ke negara berkembang lainnya setelah dalam periode yang relatif singkat telah menyeret pelemahan Rand Afrika Selatan, Peso Argentina dan Meksiko serta Rubel Rusia. Meskipun Turki merupakan konsumen minyak yang relatif kecil yaitu kurang dari 1 juta barel per hari atau sekitar 1 persen dari permintaan global, dampak krisis yang meluas ke negara-negara berkembang berpotensi memicu pelemahan permintaan di tengah meningkatnya pasokan global. Dalam proyeksi terbaru, OPEC memperkirakan pasokan di luar organisasi pengekspor minyak ini naik sebesar 2,13 juta barel per hari pada tahun 2019, atau 30 ribu barel per hari lebih tinggi dibandingkan proyeksi yang dibuat pada bulan lalu.

Dari AS, otoritas minyak AS Energy Information Administration (EIA) melaporkan bahwa jumlah persediaan minyak mentah AS meningkat 6,81 juta barel pada pekan sebelumnya, jauh lebih tinggi dibandingkan konsensus pelaku  pasar yang memperkirakan penurunan persediaan hingga 2,5 juta barel. Selain itu, stok minyak mentah AS di hub pengiriman Cushing, Oklahoma juga mengalami kenaikan sebesar 1,6 juta barel. EIA juga melaporkan bahwa kilang-kilang minyak AS beroperasi pada 98,1% dari kapasitasnya pekan lalu, level tertinggi sejak 1999. Adapun jumlah rig pengeboran minyak AS yang beroperasi pekan lalu sejumlah 869 rig atau jauh lebih tinggi dibandingkan 763 rig yang beroperasi setahun yang lalu.

Terakhir, pelaku pasar terus mencermati perkembangan perekonomian Tiongkok di tengah panasnya perang dagang antara negara tersebut dengan AS. Data terakhir menunjukkan sejumlah indikator ekonomi Tiongkok menunjukkan perlambatan. Pertumbuhan investasi aset tetap melambat lebih dari yang diperkirakan menjadi 5,5 persen pada periode Januari - Juli 2018. Hal ini menyoroti melemahnya permintaan domestik serta goyahnya kepercayaan bisnis. Kinerja penjualan ritel juga meleset dari ekspektasi, dengan konsumen Tiongkok lebih enggan berbelanja barang-barang, mulai dari kosmetik hingga barang-barang besar seperti peralatan rumah tangga dan furniture. Penjualan ritel naik 8,8 persen pada Juli dari tahun sebelumnya, di bawah perkiraan untuk peningkatan sebesar 9,1 persen serta turun dari raihan sebesar 9 persen pada Juni. Di sisi lain, produksi industri gagal berakselerasi seperti yang diharapkan, dengan hanya mencatat kenaikan sebesar 6 persen pada Juli. Capaian ini lebih rendah dari estimasi analis untuk kenaikan 6,3 persen. Perlambatan perekonomian Tiongkok tentu akan diikuti dengan melemahnya permintaan minyak.  Di sisi lain, importir minyak mentah Tiongkok  terlihat menghindari pembelian minyak mentah dari AS. Pasalnya, mereka takut Pemerintah Tiongkok akan memasukkan minyak mentah sebagai komoditas yang dikenakan tarif impor. Berdasarkan data pelacak kapal Thomson Reuters Eikon, tidak ada satu pun minyak kapal tanker pengangkut minyak mentah AS yang merapat ke Tiongkok sejak awal Agustus. Sebagai pembanding, pada Juni dan Juli, kapal tanker menuju Tiongkok masih mengangkut sekitar 300 ribu barel per hari minyak AS.

Dari komoditas batubara, setelah sempat mengalami pelemahan mingguan pada pekan sebelumnya, harga batubara berbalik menguat pekan lalu. Harga batubara ICE Newcastle kontrak berjangka tercatat menguat 1,16 persen dalam sepekan ke level US$118,00 per metriks ton. Penguatan harga batubara terutama didorong oleh menurunnya cadangan batubara Tiongkok serta permintaan yang masih kuat dari negara konsumen batubara lainnya.

Cadangan batubara Tiongkok dilaporkan turun di tengah perubahan musim yang telah melewati puncak musim panas. China Coal Resource melaporkan bahwa persediaan batubara pada enam pembangkit listrik utama Tiongkok turun 1,4 persen secara week-to-week (WtW) menjadi 15,13 juta ton pada hari Jumat (10/08). Hal ini mendorong ekspektasi pelaku pasar bahwa konsumsi batubara untuk pembangkit listrik Tiongkok tetap tinggi meskipun suhu relatif telah lebih dingin dibanding puncak musim panas.

Di sisi lain, India yang negara konsumen batu bara utama dunia lainnya dilaporkan mengimpor batubara sebesar 57,99 juta ton pada periode April - Juni 2018 atau meningkat 4,1 persen dari periode yang sama tahun lalu. Menteri batubara India Piyush Gosal juga melaporkan bahwa selama 2017 - 2018, impor batubara telah meningkat ke angka 208,27 juta ton sebagai akibat permintaan yang kuat dari sektor konsumsi. Hal tersebut mengindikasikan telah pulihnya konsumsi batubara India. Sebagai informasi, impor batubara India telah jatuh cukup dalam sebelumnya, dari 217,7 juta ton pada 2014-2015 menjadi 190,9 juta ton pada periode 2016 - 2017.

Dari komoditas CPO, harga CPO terpantau mengalami pelemahan sepanjang pekan lalu. Harga CPO di Bursa Malaysia Derivatives Exchange turun tipis sebesar 0,09 persen secara mingguan ke level 2.204 Ringgit/metriks ton. Dua sentiment utama yang membebani pergerakan harga CPO sepanjang pekan lalu adalah pelemahan nilai tukar Rupee India dan meningkatnya pasokan dari Indonesia dan Malaysia selaku produsen utama CPO. Sepanjang pekan lalu, Rupee terdepresiasi sebesar 1,92 persen dan sempat menyentuh titik terendahnya sepanjang sejarah. Sebagai importer terbesar CPO, pelemahan Rupee akan mengurangi kemampuan India untuk mengimpor. Hal ini dipandang oleh pelaku pasar bahwa terdapat indikasi bahwa permintaan CPO global akan mengalami penurunan.

Di sisi lain, produksi Malaysia dan Indonesia, dua negara produsen CPO terbesar di dunia, justru sedang menguat. Malaysian Palm Oil Board (MPOB) melaporkan adanya kenaikan produksi CPO Malaysia sebesar 12,8 persen secara bulanan ke level 1,5 juta ton pada bulan Juli 2018. Ekspor minyak kelapa sawit Malaysia juga dilaporkan naik hingga 6,8 persen mom pada bulan Juli 2018 meskipun secara tahunan ekspor minyak sawit Malaysia masih  turun hingga 13,57 persen. Stok CPO Malaysia juga dilaporkan mengalami pertumbuhan sebesar 1,3 persen mom ke 2,21 juta ton pada bulan lalu. Produksi CPO Malaysia diperkirakan akan terus menanjak dalam beberapa bulan ke depan, dan diperkirakan akan mencapai puncaknya pada akhir tahun ini.

Dari dalam negeri, data dari Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menunjukkan ekspor minyak kelapa sawit Indonesia turun 2 persen yoy pada semester I-2018, dari 15,62 juta ton menjadi 15,30 juta ton. Namun demikian, produksi minyak sawit Indonesia justru naik cukup signifikan sebesar 23 persen yoy dari 18,15 juta ton menjadi 22,32 juta ton dalam periode yang sama.

II. Pasar Keuangan Domestik

  • Pada penutupan pekan, IHSG tercatat menguat 4,83 persen secara mingguan ke level 5.783,80 di tengah posisi jual bersih investor non residen, imbal hasil SBN seri benchmark bergerak naik dengan posisi kepemilikan investor non residen yang mengalami penurunan mingguan baik dalam nominal maupun persentase kepemilikan, dan nilai tukar Rupiah melemah 0,97 persen ke level Rp14.615 per USD.

IHSG tercatat mengalami pelemahan sebesar 4,83 persen secara mingguan ke level 5.783,80 dan diperdagangkan di kisaran 5.689,94 – 6.034,56 pekan lalu. Investor nonresiden mencatatkan jual bersih sebesar Rp2,54 triliun  miliar sepanjang pekan lalu dan tercatat jual bersih Rp51,30 triliun secara ytd. Nilai rata-rata transaksi perdagangan harian selama sepekan turun ke level Rp8,05 triliun dari pekan sebelumnya yang sebesar Rp8,15 triliun.

Dari pasar SBN, yield SUN seri benchmark bergerak naik dalam sepekan dengan kenaikan antara 26 bps hingga 36 bps. Berdasarkan data setelmen BI per 15 Agustus 2018, kepemilikan nonresiden atas SBN tercatat sebesar Rp844,62 triliun, turun Rp2,79 triliun dibandingkan posisi akhir pekan sebelumnya yang sebesar Rp847,41 triliun. Secara persentase, kepemilikan non residen turun dari 37,83 persen terhadap total outstanding ke level 37,78 persen secara mingguan. Secara year to date, kepemilikan non residen naik Rp8,48 triliun (1,00 persen) sementara secara month to date, kepemilikan non residen tercatat naik sebesar Rp5,36 triliun atau 0,63 persen.

Nilai tukar Rupiah melemah sebesar 0,97 persen secara mingguan dan secara ytd mengalami depresiasi sebesar 7,16 persen, berada di level Rp14.615 per USD pada akhir perdagangan hari Kamis (17/08) jelang long weekend libur hari kemerdekaan RI. Tekanan terhadap nilai tukar Rupiah relatif lebih kuat dibandingkan pekan sebelumnya, sebagaimana tercermin dari perkembangan spread harian antara nilai spot dan non deliverable forward 1 bulan yang bergerak dalam rentang Rp64 sampai Rp179 per USD, jauh lebih tinggi dibanding spread Rp23 sampai Rp121 per USD. Pekan lalu Rupiah diperdagangkan di kisaran 14.435 – 14.618 per USD.

III. Perekonomian Internasional

Dari kawasan AS, penjualan ritel AS naik sebesar 0,5 persen secara bulanan pada bulan Juli. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang sebesar 0,2 persen. Kenaikan ini didukung oleh pembelian kendaraan bermotor dan pakaian. Kenaikan ini mengindikasikan ekonomi pada Q3 2018 mulai membaik.

Dari kawasan Eropa, Pertumbuhan ekonomi zona Eropa pada Q2 2018 tercatat tumbuh 0,4 persen qoq, lebih tinggi dari perkiraan analis dan pertumbuhan Q1 yang 0,3 persen qoq. Secara tahunan, zona Eropa tumbuh 2,2 persen, lebih tinggi dari Q1 2018 dan konsensus analis yang sebesar 2,1 persen. Perkembangan ini diperkirakan akan menambah kepercayaan diri ECB untuk mengurangi stimulus moneter (QE) meskipun outlook ke depan zona Eropa masih diliputi ketidakpastian, terutama terkait dengan output industri.

Inflasi Eropa untuk bulan Juli 2018 tercatat sebesar -0,3 persen atau lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 0,1 persen. Secara tahunan inflasi kawasan tersebut tercatat sebesar 2,1 persen atau sama dengan bulan sebelumnya. Kenaikan inflasi ini dipengaruhi oleh kenaikan harga energi, jasa dan bahan makanan. Estonia, Latvia, dan Belgia menjadi negara di kawasan Eropa yang menyumbang inflasi terbesar.

Dari kawasan Asia Pasifik, Standard & Poor's (S&P) memutuskan untuk memangkas peringkat utang Turki menjadi 'junk' atau sampah akibat gejolak mata uang dan ekonomi yang melanda negara tersebut. Selain itu, pemangkasan peringkat utang juga dilakukan dengan memperkirakan gejolak mata uang Turki masih berlangsung hingga tahun depan. S&P memperkirakan bahwa dalam beberapa waktu ke depan, ekonomi Turki masih akan mendapat tekanan nilai tukar dan inflasi.

Pertumbuhan ekonomi Singapura untuk Q2-2018 tercatat sebesar 0,6 persen qoq atau 3,9 persen yoy. Pertumbuhan tersebut melambat dibandingkan dengan kuartal sebelumnya yang sebesar 2,2 persen yoy atau 4,5 persen yoy. Kinerja sektor konstruksi tercatat melambat pada kuartal ini. Berbeda dengan konstruksi, sektor manufaktur menjadi sektor penyumbang GDP terbesar negara tersebut pada kuartal ini (Q2 = 10,2 persen yoy)

IV. Perekonomian Domestik

Lembaga Penjamin Simpanan menetapkan tingkat bunga penjaminan perbankan periode 18 Juli sampai 17 September 2018 untuk simpanan rupiah dan valuta asing tidak mengalami perubahan. Untuk Bank umum, bunga penjaminan simpanan rupiah 6,25 persen dan valas 1,5 persen. Sedangkan untuk BPR, bunga penjaminan simpanan rupiah tetap 8,75 persen. LPS melihat bahwa tingkat bunga penjaminan saat ini masih sejalan dengan perkembangan suku bunga acuan perbankan.

Bank Indonesia telah menurunkan tarif swap lindung nilai (swap hedging). Tujuannya, agar korporasi berminat menukarkan Devisa Hasil Ekspor (DHE) berupa valuta asing menjadi rupiah. Gubernur BI menyatakan BI telah menurunkan tarif swap hedging satu bulan dari 5 persen menjadi 4,25 persen. Menurutnya, tarif ini sudah sangat kompetitif dibandingkan suku bunga swap pada umumnya yakni 5 persen. Selain itu, tarif swap (swap rate) dengan tenor tiga bulan juga berubah dari 5,2 persen menjadi 4,75 persen. Swap valas lindung nilai ini tidak hanya berlaku untuk penukaran dolar AS semata, tetapi juga mata uang seperti Euro, Yen Jepang, dan Yuan.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menargetkan penghimpunan dana (raising fund) di pasar modal lebih dari Rp250 triliun sepanjang 2018. Angka itu hampir sama dibanding realisasi tahun lalu yang sebesar Rp254,51 triliun. OJK akan mendorong Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dan melakukan edukasi pelaku UKM untuk menambah pengetahuan terkait pasar modal agar target perhimpunan dana tahun ini bisa terealisasi. Hingga 9 Agustus 2018, data OJK menunjukkan total penawaran umum di Bursa Efek Indonesia (BEI) sebesar Rp111,22 triliun.

Presiden Joko Widodo telah menyampaikan pidato dalam rangka penyampaian Rancangan Undang-Undang APBN Tahun Anggaran 2018 beserta Nota Keuangan di hadapan DPD dan DPR RI pada Kamis (16/08). Tema kebijakan fiskal tahun 2019 adalah “APBN untuk mendorong investasi dan daya saing melalui pembangunan SDM”. Pendapatan Negara dan Hibah diperkirakan sebesar Rp2.142,5 triliun yang meliputi penerimaan perpajakan sebesar Rp1.781,0 triliun dan PNBP sebesar Rp361,1 triliun. Di sisi belanja, Pemerintah merencanakan belanja negara mencapai Rp2.439,7 triliun. Dengan demikian, defisit RAPBN 2019 direncanakan sebesar Rp297,2 triliun (1,84% PDB) dengan keseimbangan primer mendekati Rp0, yaitu Rp21,7 triliun (0,13% PDB).

Langkah Proaktif dan Preemptive Bank Indonesia: Kenaikan BI 7DRR Sebesar 25 bps ke 5,50 Persen

  • Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan untuk keempat kalinya dalam tiga bulan.
  • Latar belakang kenaikan suku bunga adalah menguatnya dolar AS dan kecenderungan investor global untuk mengalihkan dananya dari pasar negara berkembang.
  • Otoritas moneter di India, Filipina dan Meksiko juga memperketat kebijakan moneter dalam merespon tekanan eksternal.
  • Investor masih berpotensi melakukan rebalancing aset.

Bank Indonesia dalam Rapat Dewan Gubernur yang berakhir pada pada hari Rabu (15/08) menaikkan suku bunga acuan untuk keempat kalinya dalam tiga bulan. Kebijakan tersebut salah satunya ditujukan untuk mempertahankan nilai tukar Rupiah setelah aksi jual atas aset-aset keuangan negara berkembang meluas. Dalam pernyaatannya, Bank Indonesia menyatakan kenaikan suku bunga ditujukan untuk menjaga daya tarik pasar keuangan domestik sekaligus untuk menjaga current account deficit dalam batas yang aman. Dalam beberapa hari terakhir Rupiah telah jatuh ke level terendahnya dalam hampir tiga tahun, setelah penurunan tajam Lira Turki memicu kekhawatiran tentang penularan di pasar keuangan dan mata uang yang lebih berisiko. Dengan kenaikan sebesar 25 bps, maka suku bunga acuan 7-day reverse repo rate (7-DRRR) saat ini menjadi 5,5 persen atau telah naik sebesar 125 bps dari posisi awal tahun 2018 yang sebesar 4,25 persen. Bank Indonesia juga menaikkan suku bunga deposit facility dan lending facility masing-masing sebesar 25 persen level ke 4,75 persen dan 6,25 persen. Dengan demikian, Bank Indonesia merupakan salah satu bank sentral paling agresif di Asia dalam hal pengetatan kebijakan moneter sejauh ini pada tahun 2018.

Bank Indonesia seperti halnya banyak bank sentral di negara berkembang menghadapi pilihan yang tidak menyenangkan untuk menaikkan suku bunga seiring menguatnya dolar AS dan kecenderungan investor global untuk mengalihkan dananya dari pasar negara berkembang. Kenaikan suku bunga di satu sisi  dapat membantu membatasi arus keluar modal, namun di sisi lainnya dapat menghambat  pertumbuhan ekonomi. Membiarkan suku bunga tidak berubah dapat membuat mata uang lebih rentan terhadap penurunan lebih lanjut dan menciptakan risiko kenaikan inflasi yang lebih tinggi. Langkah yang diambil Bank Indonesia hanya berselang beberapa hari setelah bank sentral Argentina menaikkan suku bunga acuannya dari 40 persen menjadi 45 persen.

Otoritas moneter di India, Filipina dan Meksiko juga memperketat kebijakan moneter dalam merespon tekanan eksternal yang terjadi tahun ini. Pengalaman Turki menunjukkan bahwa keputusan bank sentral Turki pada bulan Juli untuk mempertahankan suku bunga acuan tidak berubah di level 17,75 persen dan posisi Pemerintah Turki yang mendukung suku bunga yang tetap merupakan faktor utama yang disalahkan investor atas aksi jual atas aset-aset keuangan Turki. Penurunan tajam nilai tukar Lira Turki selanjutnya memicu penjualan aset yang meluas ke pasar negara berkembang lainnya dalam seminggu terakhir. Harus dicatat bahwa saat bank sentral Turki memutuskan untuk mempertahankan suku bunga, inflasi negara tersebut mencapai 15,4 persen atau tiga kali lipat lebih tinggi dibandingkan target inflasi yang ditetapkan oleh otoritas moneter.

Secara geografis, Indonesia terletak sangat jauh dari Turki dan hanya terdapat sedikit hubungan keuangan dan perdagangan antara Indonesia dan Turki. Ekspor tahunan Indonesia ke Turki berjumlah sekitar $ 1,2 miliar atau kurang dari 1 persen dari total ekspor Indonesa. Namun demikian, para analis tetap melihat Indonesia sangat rentan terhadap efek penularan pasar jika investor global secara massal memutuskan untuk keluar dari pasar negara berkembang yang berisiko dan melarikan diri ke aset yang lebih aman. Pasar saham dan obligasi Indonesia dalam beberapa tahun terakhir telah mendapat manfaat dari arus masuk yang besar dari investor yang mencari keuntungan lebih tinggi serta fundamental perekonomian domestik yang kuat. Capital inflow dalam bentuk portfolio investment dapat ditarik dengan cepat dibandingkan dengan investasi langsung atau foreign direct investment yang lebih stabil.

Dengan kondisi global yang masih diliputi ketidakpastian dimana the Fed sepertinya akan menaikkan Fed Funds Rate pada bulan September dan perkembangan tensi perang perdagangan global yang turun naik, investor masih berpotensi melakukan rebalancing aset sekaligus mencari aset safe haven seperti dolar AS atau yen Jepang, maka patut ditunggu dampak kebijakan pengetatatan moneter yang ditempuh oleh Bank Indonesia terhadap pasar keuangan domestik. Selain itu, perkembangan neraca perdagangan juga harus terus diawasi. Defisit perdagangan yang mencapai US$2,03 miliar pada bulan Juli tentu akan memberikan tekanan terhadap CAD pada Q3. Pada Q2 2018, CAD tercatat sebesar USD $ 8,0 miliar atau 3,0 persen dari produk domestik bruto Indonesia. CAD yang semakin dalam menyebabkan Bank Indonesia juga menggunakan suku bunga yang lebih tinggi sebagai instrumen untuk memperbaikinya.


Sumber Data: Bloomberg, WEC, Bank Indonesia, Bisnis Indonesia, Reuters, FT, CNN Indonesia, CNBC, Investor Daily, Ipot News, BBC, Kompas, Antara News, Kontan.

 

 

Highlight  Minggu Ini

  • Wall Street ditutup menguat di tengah sentimen krisis Turki dan rencana negosiasi kembali AS – Tiongkok.
  • Indeks dolar AS berada pada level 96,10 pada akhir pekan (17/08) atau melemah sebesar 0,27 persen dalam sepekan.
  • IHSG tercatat melemah sebesar 4,83 persen secara mingguan ke level 5.783,80  di tengah posisi jual bersih investor non residen.
  • Rupiah melemah sebesar sebesar 0,79 persen secara mingguan.
  • Bank Indonesia dalam Rapat Dewan Gubernur yang berakhir pada pada hari Rabu (15/08) menaikkan suku bunga acuan untuk keempat kalinya dalam tiga bulan.

I.    Pasar Global

Pasar Saham. Wall Street ditutup menguat dibanding penutupan pekan sebelumnya dengan indeks Dow Jones dan S&P 500 mencatatkan kenaikan masing – masing sebesar 1,41 dan 0,59 persen. Sentimen yang mempengaruhi pergerakan bursa saham Wall Street selama sepekan berasal dari kekhawatiran lanjutan atas krisis Turki dan rencana negosiasi perdagangan kembali AS – Tiongkok. Pada awal pekan, mata uang Lira Turki kembali melemah hingga mencatatkan rekor terendah baru, sehingga kemudian memicu peningkatan kekhawatiran investor bahwa krisis Turki akan menyebar ke kawasan lainnya. Tekanan terhadap Lira Turki mulai mereda pada tengah pekan seiring penyuntikan likuiditas oleh Bank Sentral Turki. Namun, sepanjang pekan, ketegangan Turki – AS tetap tinggi seiring penolakan Presiden Erdogan untuk membebaskan pastor Brunson. AS mengancam akan memberikan sanksi tambahan jika Turki tidak membebaskan Brunson. Selain itu, Turki membalas AS dengan menaikkan tarif bea masuk atas produk impor dari AS seperti alkohol, beras, dan mobil. Sebelumnya, AS mengenakan tarif bea masuk atas produk baja dan aluminium Turki. Dari rilis data ekonomi AS, indeks awal sentimen konsumen bulan Agustus menunjukkan penurunan dari bulan Juli, sementara penjualan eceran bulan Juli mencatatkan angka di atas ekspektasi. Sementara itu, Philadelphia Fed index yang mengukur performa sektor manufaktur AS untuk bulan Agustus menunjukkan penurunan dibanding kinerja bulan Juli. Pada akhir pekan, sentimen positif datang dari kabar bahwa Wakil Menteri Perdagangan Tiongkok akan bertemu dengan delegasi AS untuk membicarakan kembali terkait isu perdagangan pada bulan November mendatang.

Dari kawasan Eropa, bursa saham utama di kawasan seperti FTSE 100 Inggris, DAX Jerman, dan CAC Prancis ditutup melemah secara mingguan, masih terdampak kekhawatiran atas krisis Turki. Dari rilis data ekonomi, PDB Jerman Q2 2018 tumbuh sebesar 0,5 persen qoq, lebih tinggi dari bulan sebelumnya dan dari consensus pasar. Penjualan eceran UK bulan Juli juga tercatat menguat ke angka 0,7 persen mom, dari -0,5 persen mom pada bulan sebelumnya. Sementara itu, inflasi Eropa pada bulan Juli stabil di angka 2,1 persen yoy.

Dari kawasan Asia, indeks di kawasan ditutup sebagian besar melemah secara mingguan dengan IHSG dan Shanghai mengalami penurunan mingguan paling dalam masing – masing sebesar 4,83 dan 4,52 persen. Selain isu krisis Turki dan perang dagang AS – Tiongkok, kekhawatiran investor bertambah akan isu perlambatan perekonomian Tiongkok. Produksi sektor industri Tiongkok bulan Juli tumbuh sebesar 6,0 persen yoy, di bawah ekspektasi sebesar 6,3 persen. Perang dagang dengan AS dikhawatirkan akan semakin memperburuk kinerja perekonomian Tiongkok.

Pasar Uang.  Indeks dolar AS berada pada level 96,10 pada akhir pekan (17/08) atau melemah sebesar 0,27 persen dalam sepekan terhadap enam mata uang utama dunia dari posisi 96,36 pada penutupan akhir pekan sebelumnya (10/08). Hingga pertengahan pekan lalu, indeks dolar AS terpantau menguat dan sempat menyentuh level tertinggi dalam 13 bulan seiring krisis mata uang Turki yang merembet ke negara berkembang lainnya sehingga memicu investor untuk mengalihkan asetnya ke ke aset safe haven seperti dolar AS dan US Treasury. Indeks dolar AS berbalik melemah jelang akhir pekan seiring recovery yang dialami oleh Lira Turki dan Yuan Tiongkok. Selain itu, ekspektasi meredanya perang dagang AS – Tiongkok juga sedikit meredam kenaikan indeks dolar setelah pejabat Tiongkok mengumumkan akan mengunjungi AS untuk melakukan negosiasi perdagangan. Indeks dolar juga mendapat tekanan dari indeks sentimen konsumen yang dirilis oleh University of Michigan. Dalam rilisnya, University of Michigan menyatakan bahwa indeks sentimen konsumen AS untuk bulan Agustus berada di level 95,3, turun dari 97,9 pada bulan Juli serta merupakan yang terendah dalam 11 bulan terakhir. Penurunan indeks terutama bersumber dari masyarakat yang berada pada sepertiga penghasilan terendah dengan kekhawatiran utama adalah kenaikan harga yang terjadi secara persisten dalam beberapa bulan terakhir.

Pasar Obligasi. Yield treasury AS tenor 10 tahun bergerak turun sekitar 1 bps pekan lalu setelah ditutup pada level 2,86 pada akhir pekan (17/08), lebih rendah dibandingkan 2,87 pada penutupan akhir pekan sebelumnya (19/08). Relatif stagnannya pergerakan imbal hasil US treasury terutama dipengaruhi oleh perkembangan krisis Turki. Sempat diburu oleh investor sebagai aset safe haven seiring meluasnya dampak krisis Turki ke negara emerging market, permintaan US treasury kembali stabil setelah Lira Turki berhasil melakukan recovery. Selain komitmen bank sentral Turki untuk menyediakan likuditas domestik, recovery Lira juga didukung komitmen Qatar untuk memberikan suntukan sebesar US$ 15 miliar kepada Turki dalam bentuk investasi. Terakhir, Tiongkok juga dikabarkan akan memberikan bantuan likuiditas untuk Turki mengingat krisis Turki juga berdampak terhadap pasar keuangan Tiongkok. Selain itu, relatif meredanya perang isu dagang AS – Tiongkok sepanjang pekan lalu juga turut mendorong penurunan yield US treasury.

Pasar Komoditas. Melanjutkan tren pelemahan pada pekan-pekan sebelumnya. harga komoditas minyak mentah kembali melemah pekan lalu. Harga minyak mentah Brent terpantau melemah sebesar 1,35 persen secara mingguan ke level US$71,83 per barel. Tiga sentimen utama yang membebani harga minyak adalah krisis mata uang yang dialami Turki, kenaikan persediaan dan produksi minyak AS serta kekhawatiran melemahnya permintaan Tiongkok sebagai dampak perang dagang dan perlambatan ekonomi.

Pelaku pasar melihat potensi merambatnya krisis keuangan Turki secara luas ke negara berkembang lainnya setelah dalam periode yang relatif singkat telah menyeret pelemahan Rand Afrika Selatan, Peso Argentina dan Meksiko serta Rubel Rusia. Meskipun Turki merupakan konsumen minyak yang relatif kecil yaitu kurang dari 1 juta barel per hari atau sekitar 1 persen dari permintaan global, dampak krisis yang meluas ke negara-negara berkembang berpotensi memicu pelemahan permintaan di tengah meningkatnya pasokan global. Dalam proyeksi terbaru, OPEC memperkirakan pasokan di luar organisasi pengekspor minyak ini naik sebesar 2,13 juta barel per hari pada tahun 2019, atau 30 ribu barel per hari lebih tinggi dibandingkan proyeksi yang dibuat pada bulan lalu.

Dari AS, otoritas minyak AS Energy Information Administration (EIA) melaporkan bahwa jumlah persediaan minyak mentah AS meningkat 6,81 juta barel pada pekan sebelumnya, jauh lebih tinggi dibandingkan konsensus pelaku  pasar yang memperkirakan penurunan persediaan hingga 2,5 juta barel. Selain itu, stok minyak mentah AS di hub pengiriman Cushing, Oklahoma juga mengalami kenaikan sebesar 1,6 juta barel. EIA juga melaporkan bahwa kilang-kilang minyak AS beroperasi pada 98,1% dari kapasitasnya pekan lalu, level tertinggi sejak 1999. Adapun jumlah rig pengeboran minyak AS yang beroperasi pekan lalu sejumlah 869 rig atau jauh lebih tinggi dibandingkan 763 rig yang beroperasi setahun yang lalu.

Terakhir, pelaku pasar terus mencermati perkembangan perekonomian Tiongkok di tengah panasnya perang dagang antara negara tersebut dengan AS. Data terakhir menunjukkan sejumlah indikator ekonomi Tiongkok menunjukkan perlambatan. Pertumbuhan investasi aset tetap melambat lebih dari yang diperkirakan menjadi 5,5 persen pada periode Januari - Juli 2018. Hal ini menyoroti melemahnya permintaan domestik serta goyahnya kepercayaan bisnis. Kinerja penjualan ritel juga meleset dari ekspektasi, dengan konsumen Tiongkok lebih enggan berbelanja barang-barang, mulai dari kosmetik hingga barang-barang besar seperti peralatan rumah tangga dan furniture. Penjualan ritel naik 8,8 persen pada Juli dari tahun sebelumnya, di bawah perkiraan untuk peningkatan sebesar 9,1 persen serta turun dari raihan sebesar 9 persen pada Juni. Di sisi lain, produksi industri gagal berakselerasi seperti yang diharapkan, dengan hanya mencatat kenaikan sebesar 6 persen pada Juli. Capaian ini lebih rendah dari estimasi analis untuk kenaikan 6,3 persen. Perlambatan perekonomian Tiongkok tentu akan diikuti dengan melemahnya permintaan minyak.  Di sisi lain, importir minyak mentah Tiongkok  terlihat menghindari pembelian minyak mentah dari AS. Pasalnya, mereka takut Pemerintah Tiongkok akan memasukkan minyak mentah sebagai komoditas yang dikenakan tarif impor. Berdasarkan data pelacak kapal Thomson Reuters Eikon, tidak ada satu pun minyak kapal tanker pengangkut minyak mentah AS yang merapat ke Tiongkok sejak awal Agustus. Sebagai pembanding, pada Juni dan Juli, kapal tanker menuju Tiongkok masih mengangkut sekitar 300 ribu barel per hari minyak AS.

Dari komoditas batubara, setelah sempat mengalami pelemahan mingguan pada pekan sebelumnya, harga batubara berbalik menguat pekan lalu. Harga batubara ICE Newcastle kontrak berjangka tercatat menguat 1,16 persen dalam sepekan ke level US$118,00 per metriks ton. Penguatan harga batubara terutama didorong oleh menurunnya cadangan batubara Tiongkok serta permintaan yang masih kuat dari negara konsumen batubara lainnya.

Cadangan batubara Tiongkok dilaporkan turun di tengah perubahan musim yang telah melewati puncak musim panas. China Coal Resource melaporkan bahwa persediaan batubara pada enam pembangkit listrik utama Tiongkok turun 1,4 persen secara week-to-week (WtW) menjadi 15,13 juta ton pada hari Jumat (10/08). Hal ini mendorong ekspektasi pelaku pasar bahwa konsumsi batubara untuk pembangkit listrik Tiongkok tetap tinggi meskipun suhu relatif telah lebih dingin dibanding puncak musim panas.

Di sisi lain, India yang negara konsumen batu bara utama dunia lainnya dilaporkan mengimpor batubara sebesar 57,99 juta ton pada periode April - Juni 2018 atau meningkat 4,1 persen dari periode yang sama tahun lalu. Menteri batubara India Piyush Gosal juga melaporkan bahwa selama 2017 - 2018, impor batubara telah meningkat ke angka 208,27 juta ton sebagai akibat permintaan yang kuat dari sektor konsumsi. Hal tersebut mengindikasikan telah pulihnya konsumsi batubara India. Sebagai informasi, impor batubara India telah jatuh cukup dalam sebelumnya, dari 217,7 juta ton pada 2014-2015 menjadi 190,9 juta ton pada periode 2016 - 2017.

Dari komoditas CPO, harga CPO terpantau mengalami pelemahan sepanjang pekan lalu. Harga CPO di Bursa Malaysia Derivatives Exchange turun tipis sebesar 0,09 persen secara mingguan ke level 2.204 Ringgit/metriks ton. Dua sentiment utama yang membebani pergerakan harga CPO sepanjang pekan lalu adalah pelemahan nilai tukar Rupee India dan meningkatnya pasokan dari Indonesia dan Malaysia selaku produsen utama CPO. Sepanjang pekan lalu, Rupee terdepresiasi sebesar 1,92 persen dan sempat menyentuh titik terendahnya sepanjang sejarah. Sebagai importer terbesar CPO, pelemahan Rupee akan mengurangi kemampuan India untuk mengimpor. Hal ini dipandang oleh pelaku pasar bahwa terdapat indikasi bahwa permintaan CPO global akan mengalami penurunan.

Di sisi lain, produksi Malaysia dan Indonesia, dua negara produsen CPO terbesar di dunia, justru sedang menguat. Malaysian Palm Oil Board (MPOB) melaporkan adanya kenaikan produksi CPO Malaysia sebesar 12,8 persen secara bulanan ke level 1,5 juta ton pada bulan Juli 2018. Ekspor minyak kelapa sawit Malaysia juga dilaporkan naik hingga 6,8 persen mom pada bulan Juli 2018 meskipun secara tahunan ekspor minyak sawit Malaysia masih  turun hingga 13,57 persen. Stok CPO Malaysia juga dilaporkan mengalami pertumbuhan sebesar 1,3 persen mom ke 2,21 juta ton pada bulan lalu. Produksi CPO Malaysia diperkirakan akan terus menanjak dalam beberapa bulan ke depan, dan diperkirakan akan mencapai puncaknya pada akhir tahun ini.

Dari dalam negeri, data dari Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menunjukkan ekspor minyak kelapa sawit Indonesia turun 2 persen yoy pada semester I-2018, dari 15,62 juta ton menjadi 15,30 juta ton. Namun demikian, produksi minyak sawit Indonesia justru naik cukup signifikan sebesar 23 persen yoy dari 18,15 juta ton menjadi 22,32 juta ton dalam periode yang sama.

II. Pasar Keuangan Domestik

  • Pada penutupan pekan, IHSG tercatat menguat 4,83 persen secara mingguan ke level 5.783,80 di tengah posisi jual bersih investor non residen, imbal hasil SBN seri benchmark bergerak naik dengan posisi kepemilikan investor non residen yang mengalami penurunan mingguan baik dalam nominal maupun persentase kepemilikan, dan nilai tukar Rupiah melemah 0,97 persen ke level Rp14.615 per USD.

IHSG tercatat mengalami pelemahan sebesar 4,83 persen secara mingguan ke level 5.783,80 dan diperdagangkan di kisaran 5.689,94 – 6.034,56 pekan lalu. Investor nonresiden mencatatkan jual bersih sebesar Rp2,54 triliun  miliar sepanjang pekan lalu dan tercatat jual bersih Rp51,30 triliun secara ytd. Nilai rata-rata transaksi perdagangan harian selama sepekan turun ke level Rp8,05 triliun dari pekan sebelumnya yang sebesar Rp8,15 triliun.

Dari pasar SBN, yield SUN seri benchmark bergerak naik dalam sepekan dengan kenaikan antara 26 bps hingga 36 bps. Berdasarkan data setelmen BI per 15 Agustus 2018, kepemilikan nonresiden atas SBN tercatat sebesar Rp844,62 triliun, turun Rp2,79 triliun dibandingkan posisi akhir pekan sebelumnya yang sebesar Rp847,41 triliun. Secara persentase, kepemilikan non residen turun dari 37,83 persen terhadap total outstanding ke level 37,78 persen secara mingguan. Secara year to date, kepemilikan non residen naik Rp8,48 triliun (1,00 persen) sementara secara month to date, kepemilikan non residen tercatat naik sebesar Rp5,36 triliun atau 0,63 persen.

Nilai tukar Rupiah melemah sebesar 0,97 persen secara mingguan dan secara ytd mengalami depresiasi sebesar 7,16 persen, berada di level Rp14.615 per USD pada akhir perdagangan hari Kamis (17/08) jelang long weekend libur hari kemerdekaan RI. Tekanan terhadap nilai tukar Rupiah relatif lebih kuat dibandingkan pekan sebelumnya, sebagaimana tercermin dari perkembangan spread harian antara nilai spot dan non deliverable forward 1 bulan yang bergerak dalam rentang Rp64 sampai Rp179 per USD, jauh lebih tinggi dibanding spread Rp23 sampai Rp121 per USD. Pekan lalu Rupiah diperdagangkan di kisaran 14.435 – 14.618 per USD.

III. Perekonomian Internasional

Dari kawasan AS, penjualan ritel AS naik sebesar 0,5 persen secara bulanan pada bulan Juli. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang sebesar 0,2 persen. Kenaikan ini didukung oleh pembelian kendaraan bermotor dan pakaian. Kenaikan ini mengindikasikan ekonomi pada Q3 2018 mulai membaik.

Dari kawasan Eropa, Pertumbuhan ekonomi zona Eropa pada Q2 2018 tercatat tumbuh 0,4 persen qoq, lebih tinggi dari perkiraan analis dan pertumbuhan Q1 yang 0,3 persen qoq. Secara tahunan, zona Eropa tumbuh 2,2 persen, lebih tinggi dari Q1 2018 dan konsensus analis yang sebesar 2,1 persen. Perkembangan ini diperkirakan akan menambah kepercayaan diri ECB untuk mengurangi stimulus moneter (QE) meskipun outlook ke depan zona Eropa masih diliputi ketidakpastian, terutama terkait dengan output industri.

Inflasi Eropa untuk bulan Juli 2018 tercatat sebesar -0,3 persen atau lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 0,1 persen. Secara tahunan inflasi kawasan tersebut tercatat sebesar 2,1 persen atau sama dengan bulan sebelumnya. Kenaikan inflasi ini dipengaruhi oleh kenaikan harga energi, jasa dan bahan makanan. Estonia, Latvia, dan Belgia menjadi negara di kawasan Eropa yang menyumbang inflasi terbesar.

Dari kawasan Asia Pasifik, Standard & Poor's (S&P) memutuskan untuk memangkas peringkat utang Turki menjadi 'junk' atau sampah akibat gejolak mata uang dan ekonomi yang melanda negara tersebut. Selain itu, pemangkasan peringkat utang juga dilakukan dengan memperkirakan gejolak mata uang Turki masih berlangsung hingga tahun depan. S&P memperkirakan bahwa dalam beberapa waktu ke depan, ekonomi Turki masih akan mendapat tekanan nilai tukar dan inflasi.

Pertumbuhan ekonomi Singapura untuk Q2-2018 tercatat sebesar 0,6 persen qoq atau 3,9 persen yoy. Pertumbuhan tersebut melambat dibandingkan dengan kuartal sebelumnya yang sebesar 2,2 persen yoy atau 4,5 persen yoy. Kinerja sektor konstruksi tercatat melambat pada kuartal ini. Berbeda dengan konstruksi, sektor manufaktur menjadi sektor penyumbang GDP terbesar negara tersebut pada kuartal ini (Q2 = 10,2 persen yoy)

IV. Perekonomian Domestik

Lembaga Penjamin Simpanan menetapkan tingkat bunga penjaminan perbankan periode 18 Juli sampai 17 September 2018 untuk simpanan rupiah dan valuta asing tidak mengalami perubahan. Untuk Bank umum, bunga penjaminan simpanan rupiah 6,25 persen dan valas 1,5 persen. Sedangkan untuk BPR, bunga penjaminan simpanan rupiah tetap 8,75 persen. LPS melihat bahwa tingkat bunga penjaminan saat ini masih sejalan dengan perkembangan suku bunga acuan perbankan.

Bank Indonesia telah menurunkan tarif swap lindung nilai (swap hedging). Tujuannya, agar korporasi berminat menukarkan Devisa Hasil Ekspor (DHE) berupa valuta asing menjadi rupiah. Gubernur BI menyatakan BI telah menurunkan tarif swap hedging satu bulan dari 5 persen menjadi 4,25 persen. Menurutnya, tarif ini sudah sangat kompetitif dibandingkan suku bunga swap pada umumnya yakni 5 persen. Selain itu, tarif swap (swap rate) dengan tenor tiga bulan juga berubah dari 5,2 persen menjadi 4,75 persen. Swap valas lindung nilai ini tidak hanya berlaku untuk penukaran dolar AS semata, tetapi juga mata uang seperti Euro, Yen Jepang, dan Yuan.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menargetkan penghimpunan dana (raising fund) di pasar modal lebih dari Rp250 triliun sepanjang 2018. Angka itu hampir sama dibanding realisasi tahun lalu yang sebesar Rp254,51 triliun. OJK akan mendorong Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dan melakukan edukasi pelaku UKM untuk menambah pengetahuan terkait pasar modal agar target perhimpunan dana tahun ini bisa terealisasi. Hingga 9 Agustus 2018, data OJK menunjukkan total penawaran umum di Bursa Efek Indonesia (BEI) sebesar Rp111,22 triliun.

Presiden Joko Widodo telah menyampaikan pidato dalam rangka penyampaian Rancangan Undang-Undang APBN Tahun Anggaran 2018 beserta Nota Keuangan di hadapan DPD dan DPR RI pada Kamis (16/08). Tema kebijakan fiskal tahun 2019 adalah “APBN untuk mendorong investasi dan daya saing melalui pembangunan SDM”. Pendapatan Negara dan Hibah diperkirakan sebesar Rp2.142,5 triliun yang meliputi penerimaan perpajakan sebesar Rp1.781,0 triliun dan PNBP sebesar Rp361,1 triliun. Di sisi belanja, Pemerintah merencanakan belanja negara mencapai Rp2.439,7 triliun. Dengan demikian, defisit RAPBN 2019 direncanakan sebesar Rp297,2 triliun (1,84% PDB) dengan keseimbangan primer mendekati Rp0, yaitu Rp21,7 triliun (0,13% PDB).

Langkah Proaktif dan Preemptive Bank Indonesia: Kenaikan BI 7DRR Sebesar 25 bps ke 5,50 Persen

  • Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan untuk keempat kalinya dalam tiga bulan.
  • Latar belakang kenaikan suku bunga adalah menguatnya dolar AS dan kecenderungan investor global untuk mengalihkan dananya dari pasar negara berkembang.
  • Otoritas moneter di India, Filipina dan Meksiko juga memperketat kebijakan moneter dalam merespon tekanan eksternal.
  • Investor masih berpotensi melakukan rebalancing aset.

Bank Indonesia dalam Rapat Dewan Gubernur yang berakhir pada pada hari Rabu (15/08) menaikkan suku bunga acuan untuk keempat kalinya dalam tiga bulan. Kebijakan tersebut salah satunya ditujukan untuk mempertahankan nilai tukar Rupiah setelah aksi jual atas aset-aset keuangan negara berkembang meluas. Dalam pernyaatannya, Bank Indonesia menyatakan kenaikan suku bunga ditujukan untuk menjaga daya tarik pasar keuangan domestik sekaligus untuk menjaga current account deficit dalam batas yang aman. Dalam beberapa hari terakhir Rupiah telah jatuh ke level terendahnya dalam hampir tiga tahun, setelah penurunan tajam Lira Turki memicu kekhawatiran tentang penularan di pasar keuangan dan mata uang yang lebih berisiko. Dengan kenaikan sebesar 25 bps, maka suku bunga acuan 7-day reverse repo rate (7-DRRR) saat ini menjadi 5,5 persen atau telah naik sebesar 125 bps dari posisi awal tahun 2018 yang sebesar 4,25 persen. Bank Indonesia juga menaikkan suku bunga deposit facility dan lending facility masing-masing sebesar 25 persen level ke 4,75 persen dan 6,25 persen. Dengan demikian, Bank Indonesia merupakan salah satu bank sentral paling agresif di Asia dalam hal pengetatan kebijakan moneter sejauh ini pada tahun 2018.

Bank Indonesia seperti halnya banyak bank sentral di negara berkembang menghadapi pilihan yang tidak menyenangkan untuk menaikkan suku bunga seiring menguatnya dolar AS dan kecenderungan investor global untuk mengalihkan dananya dari pasar negara berkembang. Kenaikan suku bunga di satu sisi  dapat membantu membatasi arus keluar modal, namun di sisi lainnya dapat menghambat  pertumbuhan ekonomi. Membiarkan suku bunga tidak berubah dapat membuat mata uang lebih rentan terhadap penurunan lebih lanjut dan menciptakan risiko kenaikan inflasi yang lebih tinggi. Langkah yang diambil Bank Indonesia hanya berselang beberapa hari setelah bank sentral Argentina menaikkan suku bunga acuannya dari 40 persen menjadi 45 persen.

Otoritas moneter di India, Filipina dan Meksiko juga memperketat kebijakan moneter dalam merespon tekanan eksternal yang terjadi tahun ini. Pengalaman Turki menunjukkan bahwa keputusan bank sentral Turki pada bulan Juli untuk mempertahankan suku bunga acuan tidak berubah di level 17,75 persen dan posisi Pemerintah Turki yang mendukung suku bunga yang tetap merupakan faktor utama yang disalahkan investor atas aksi jual atas aset-aset keuangan Turki. Penurunan tajam nilai tukar Lira Turki selanjutnya memicu penjualan aset yang meluas ke pasar negara berkembang lainnya dalam seminggu terakhir. Harus dicatat bahwa saat bank sentral Turki memutuskan untuk mempertahankan suku bunga, inflasi negara tersebut mencapai 15,4 persen atau tiga kali lipat lebih tinggi dibandingkan target inflasi yang ditetapkan oleh otoritas moneter.

Secara geografis, Indonesia terletak sangat jauh dari Turki dan hanya terdapat sedikit hubungan keuangan dan perdagangan antara Indonesia dan Turki. Ekspor tahunan Indonesia ke Turki berjumlah sekitar $ 1,2 miliar atau kurang dari 1 persen dari total ekspor Indonesa. Namun demikian, para analis tetap melihat Indonesia sangat rentan terhadap efek penularan pasar jika investor global secara massal memutuskan untuk keluar dari pasar negara berkembang yang berisiko dan melarikan diri ke aset yang lebih aman. Pasar saham dan obligasi Indonesia dalam beberapa tahun terakhir telah mendapat manfaat dari arus masuk yang besar dari investor yang mencari keuntungan lebih tinggi serta fundamental perekonomian domestik yang kuat. Capital inflow dalam bentuk portfolio investment dapat ditarik dengan cepat dibandingkan dengan investasi langsung atau foreign direct investment yang lebih stabil.

Dengan kondisi global yang masih diliputi ketidakpastian dimana the Fed sepertinya akan menaikkan Fed Funds Rate pada bulan September dan perkembangan tensi perang perdagangan global yang turun naik, investor masih berpotensi melakukan rebalancing aset sekaligus mencari aset safe haven seperti dolar AS atau yen Jepang, maka patut ditunggu dampak kebijakan pengetatatan moneter yang ditempuh oleh Bank Indonesia terhadap pasar keuangan domestik. Selain itu, perkembangan neraca perdagangan juga harus terus diawasi. Defisit perdagangan yang mencapai US$2,03 miliar pada bulan Juli tentu akan memberikan tekanan terhadap CAD pada Q3. Pada Q2 2018, CAD tercatat sebesar USD $ 8,0 miliar atau 3,0 persen dari produk domestik bruto Indonesia. CAD yang semakin dalam menyebabkan Bank Indonesia juga menggunakan suku bunga yang lebih tinggi sebagai instrumen untuk memperbaikinya.

Download Publication
Data Source: Bloomberg, WEC, Bank Indonesia, Bisnis Indonesia, Reuters, FT, CNN Indonesia, CNBC, Investor Daily, Ipot News, BBC, Kompas, Antara News, Kontan.

Briefing Notes Update

Alternative text - include a link to the PDF!


ESELON I KEMENTERIAN KEUANGAN


KONTAK: Jl. Dr. Wahidin No. 1 Gd. R. M. Notohamiprodjo, Jakarta Pusat 10710
email: ikp@fiskal.depkeu.go.id

  Kurs Pajak : KMK Nomor 35/KM.10/2018,   USD : 14,599.00    AUD : 10,615.86    GBP : 18,577.97    SGD : 10,615.67    JPY : 13,180.93    EUR : 16,624.38    CNY : 2,122.47