Daily Update : 24-04-2018 | Download File :

Berita Global

  • Bursa saham AS ditutup bervariasi pada akhir perdagangan Senin  (23/04). Pelemahan sektor teknologi seiring kekhawatiran menurunnya permintaan smartphone menahan penguatan S&P 500 meskipun sekitar 18 persen dari perusahaan di S&P 500 telah melaporkan pendapatan mereka, dan 78,2 persen diantaranya lebih tinggi dari perkiraan konsensus. Di sisi lain, sementara itu imbal hasil obligasi AS 10-tahun naik ke level tertinggi sejak Januari 2014 di tengah kekhawatiran meningkatnya pasokan utang pemerintah dan percepatan inflasi. Indeks Dow Jones ditutup melemah 0,06 persen ke level 24.448,69 sementara indeks S&P 500 naik tipis 0,01 persen ke level 2.670,29. (Kontan)
  • Penjualan rumah di AS pada bulan Maret mencapai 5,60 juta atau tumbuh 1,1 persen mom, lebih tinggi dari perkiraan konsensus yang memperkirakan pertumbuhan 0,2 persen. Pada bulan Februari, penjualan rumah mencapai 5,54 juta atau tumbuh 3 persen mom. Hal ini menjadi salah satu indikasi bahwa perekonomian AS yang terus membaik. (CNBC)
  • Harga minyak dunia terus naik seiring dengan naiknya tensi geopolitik di Timur Tengah. Konflik Yaman dan Arab Saudi yang terus bereskalasi. Kemarin (23/04), kelompok pemberontak Houthis yang didukung oleh Iran di Yaman gagal meluncurkan serangan rudal terhadap Arab Saudi, sedangkan pasukan yang dipimpin kerajaan Arab Saudi menewaskan seorang pemimpin senior kelompok tersebut. Harga minyak Brent untuk pengiriman Juni 2018 menguat 0,88 persen dan ditutup di US$74,71 per barel. (Bisnis Indonesia)

Berita Domestik

  • Bank Indonesia menyatakan bahwa untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sesuai fundamentalnya, bank sentral telah melakukan intervensi baik di pasar valas maupun pasar SBN dalam jumlah cukup besar. BI akan terus memonitor dan mewaspadai risiko berlanjutnya tren pelemahan nilai tukar rupiah, baik yang dipicu gejolak global (dampak kenaikan suku bunga AS, perang dagang AS-Tiongkok, kenaikan harga minyak, dan eskalasi tensi geopolitik terhadap berlanjutnya arus keluar asing dari pasar SBN dan saham Indonesia) maupun yang bersumber dari kenaikan permintaan valas oleh korporasi domestik (terkait kebutuhan pembayaran impor, Utang Luar Negeri, dan dividen yang biasanya cenderung meningkat pada kuartal II 2018). (Kompas)
  • Bank Indonesia (BI) menerapkan penguatan perizinan kepesertaan operasi moneter melalui penerbitan Peraturan Bank Indonesia Nomor 20/5/PBI/2018 tentang Operasi Moneter. Bank atau lembaga perantara yang sebelumnya mengikuti operasi moneter namun belum berizin, kini harus mengantongi izin. Penguatan perizinan operasi moneter mengatur masuk dan keluarnya bank dan lembaga perantara dari yang sebelumnya secara otomatis menjadi harus melewati empat syarat. Adapun, empat syarat yang harus dipenuhi peserta operasi moneter, yakni kelembagaan, infrastruktur, sumber daya manusia (SDM), dan manajemen risiko. Saat ini, terdapat 115 bank yang sudah mengikuti operasi moneter. Bank-bank tersebut harus melengkapi administrasi kepesertaan dalam enam bulan masa transisi. (CNN Indonesia)

Sumber Data: Bloomberg, WEC, Bank Indonesia, Bisnis Indonesia, Reuters, FT, CNN Indonesia, CNBC, Investor Daily, Ipot News, BBC, Kompas, Antara News, Kontan.

Weekly Update : 16-04-2018 s.d 22-04-2018 | Download File :

Highlight  Minggu Ini

  • Wall Street masih mengalami penguatan di tengah kekhawatiran investor atas kenaikan imbal hasil US Treasury.
  • Indeks dolar AS berada pada level 90,48 pada akhir pekan (20/04) atau menguat sebesar 0,79 persen.
  • IHSG menguat 1,07 persen ke level 6.337,70 dan diperdagangkan di kisaran 6.259,59 – 6.360,32.
  • Nilai tukar Rupiah terpantau melemah 1,00 persen dan secara ytd melemah 2,49 persen, berada di level Rp13.893 per USD.

I.    Pasar Global

Pasar Saham. Wall Street kembali mencatatkan penguatan pada pekan lalu, dengan indeks Dow Jones naik sebesar 0,42 persen secara mingguan, sementara indeks S&P 500 menguat 0,52 persen. Sentimen yang mempengaruhi pergerakan Wall Street sepanjang pekan lalu antara lain rilis laba emiten, kekhawatiran investor atas kenaikan imbal hasil US Treasury (UST), dan volatilitas di pasar komoditas. Di awal pekan, rilis laporan laba emiten yang melebihi ekspektasi menjadi pendorong utama bursa saham Wall Street. Kemudian pada akhir pekan, kekhawatiran investor meningkat seiring naiknya imbal hasil UST.

Pada hari Jumat (20/04), imbal hasil UST tenor 10 tahun sempat menyentuh level 2,956 persen atau merupakan yang tertinggi sejak Januari 2014. Kenaikan ini dipicu oleh stance kebijakan moneter the Fed yang hawkish seiring ekspektasi kenaikan inflasi ke depan. Kebijakan proteksionis Presiden AS Donald Trump juga dikhawatirkan semakin mendorong inflasi AS lebih tinggi.

Dari kawasan Eropa, bursa saham Eropa ditutup bervariasi pada pekan lalu. Indeks FTSE 100 (Inggris), indeks CAC (Prancis), dan indeks Stoxx 600 mencatatkan penguatan secara mingguan, sementara indeks DAX (Jerman) mengalami pelemahan. Pergerakan bursa saham Eropa selama sepekan masih dipengaruhi oleh faktor global, terutama dari AS, dan rilis laba emiten kuartal I 2018. Sebagai contoh, emiten teknologi Ericcson yang menyatakan ekspektasi kerugian akan lebih kecil dari perkiraan di periode kuartal pertama tahun ini. Selain faktor global dan rilis laporan kinerja emiten, komentar dovish dari Gubernur Bank Sentral Inggris Mark Carney juga turut berkontribusi terhadap penguatan bursa saham Inggris. Sementara itu, dari pasar Asia, mayoritas bursa saham Asia ditutup menguat secara mingguan. Hanya indeks Hang Seng (Hongkong), Shanghai (Tiongkok), dan Indeks PSEi (Filipina) yang mengalami pelemahan. Selain dipengaruhi pergerakan bursa global, investor di bursa Asia juga masih berhati – hati mencermati rilis laporan kinerja emiten dalam beberapa waktu ke depan.

Pasar Uang.  Indeks dolar AS berada pada level 90,48 pada akhir pekan (20/04) atau menguat sebesar 0,79 persen dalam sepekan terhadap enam mata uang utama dunia dari posisi 89,77 pada penutupan akhir pekan sebelumnya. Level itu merupakan level tertinggi dolar AS dalam dua pekan. Sentimen utama yang mempengaruhi penguatan dolar AS dalam sepekan terutama bersumber dari isyarat the Fed yang hawkish seiring performa ekonomi AS yang stabil akan mendorong inflasi ke level target the Fed sebesar 2 persen. Inflasi AS akan lebih tinggi bila risiko trade war dengan China terealisasi. Hampir seluruh mata uang di dunia terdepresiasi menyusul penguatan dolar AS tersebut. Depresiasi terdalam terhadap dolar AS dialami oleh mata uang Real Brazil, Poundsterling Inggris, dan Rupee India. Terhadap mata uang safe haven, Yen Jepang, dolar AS menguat mencapai level tertinggi dalam dua bulan. Sementara itu, Rupiah juga mengalami tekanan dan sempat menyentuh level Rp13.946 per dolar AS atau merupakan level terendah dalam satu tahun terakhir.

Pasar Obligasi. Yield treasury AS tenor 10 tahun kembali bergerak naik ke level 2.956 persen pada akhir pekan lalu (20/4), setelah ditutup pada level 2,834 persen pada pekan sebelumnya (13/4). Level yield treasury AS pada pekan lalu tersebut merupakan level tertinggi sejak Januari 2014. Hal ini dipengaruhi oleh stance kebijakan moneter the Fed yang hawkish seiring ekspektasi kenaikan inflasi ke depan.

Pasar Komoditas. Harga minyak mentah global kembali melanjutkan tren penguatan. Secara mingguan, harga minyak Brent menguat 2,04 persen dan menyentuh titik tertinggi sejak 2014 di US$74,06/barel pada hari Jumat (20/04). Penguatan harga minyak global terutama dipengaruhi oleh kekhawatiran turunnya pasokan minyak seiring kenaikan tensi geopolitik di Timur Tengah. Di sisi lain, persediaan minyak AS terus menurun sebagaimana dilaporkan oleh American Petroleum Institute bahwa persediaan minyak mentah AS jatuh 1,05 juta barel pekan lalu, sementara persediaan minyak di Cushing, Oklahoma menurun untuk pertama kalinya sejak awal Maret 2018. Harga minyak diperkirakan masih akan terus menguat seiring kesepakatan negara-negara OPEC untuk memperpanjang pembatasan output hingga 2019.

Dari komoditas batubara, harga acuan batubara juga mengalami penguatan mingguan setelah perkiraan pertumbuhan ekonomi Tiongkok yang lebih tinggi pada tahun 2018 diperkirakan mendorong permintaan batubara yang tinggi sepanjang 2018. Dari sisi komoditas perkebunan, harga CPO juga mencatatkan penguatan secara mingguan terimbas dari kenaikan harga minyak dunia. Selain itu, pelemahan Ringgit terhadap dolar AS dalam sepekan turut mendorong harga CPO mengingat harga CPO menjadi relatif lebih murah di pasaran. Terakhir, data Amspec Agri Malaysia melaporkan bahwa ekspor CPO Malaysia meningkat 2 persen pada periode 1-20 April disbanding periode yang sama bulan sebelumnya setelah Pemerintah Malaysia memperpanjang pembebasan tarif ekspor hingga akhir April 2018.

II. Pasar Keuangan Domestik

  • Pada penutupan pekan, IHSG menguat 1,07 persen secara mingguan ke level 6.337,70 dengan posisi jual bersih investor non residen, imbal hasil SBN seri benchmark bergerak naik antara 16 hingga 26 bps dengan posisi kepemilikan investor non residen yang membukukan penurunan mingguan, dan nilai tukar Rupiah terdepresiasi sebesar 1,00 persen ke level Rp13.893 per USD.

IHSG tercatat menguat 1,07 persen secara mingguan ke level 6.337,70 dan diperdagangkan di kisaran 6.259,59 – 6.360,32 pada pekan ini. Investor nonresiden membukukan jual bersih sebesar Rp970,23 miliar pada pekan ini dan tercatat jual bersih Rp27,57 triliun secara ytd. Nilai rata-rata transaksi perdagangan harian selama sepekan turun ke level Rp6,52 triliun dari pekan sebelumnya yang sebesar Rp6,91 triliun.

Dari pasar SBN, yield SUN seri benchmark bergerak naik antara 16 s.d. 26 bps dalam sepekan. Berdasarkan data setelmen BI per 18 April 2018, kepemilikan nonresiden atas SBN tercatat sebesar Rp871,44 T (39,65 persen terhadap total outstanding), turun Rp0,21 T secara mingguan.

Nilai tukar Rupiah terpantau melemah 1,00 persen secara mingguan dan secara ytd melemah 2,49 persen, berada di level Rp13.893 per USD. Tekanan terhadap nilai tukar Rupiah meningkat, sebagaimana tercermin dari perkembangan spread harian antara nilai spot dan non deliverable forward 1 bulan. Pekan ini Rupiah diperdagangkan spot di 13.731 – 13.946 per USD.

III. Perekonomian Internasional

Dari AS, Penjualan retail AS bulan Maret 2018 tumbuh 0,6 persen mom setelah tiga bulan beruntun mencatatkan pertumbuhan negatif (Februari: -0,1 persen). Penjualan kendaraan motor yang tumbuh 2 persen mom menjadi motor peningkatan penjualan retail.

Dari kawasan Eropa,  Inflasi Inggris pada bulan Maret 2018 tercatat sebesar 2,5 persen atau turun dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang sebesar 2,7 persen. Angka tersebut merupakan yang terendah dalam satu tahun terakhir. Penurunan ini menjadi tekanan tersendiri bagi Bank Sentral Inggris yang sebelumnya berencana untuk menaikkan tingkat suku bunga acuannya pada bulan Mei mendatang. Sementara itu, penjualan retail Inggris mencatatkan penurunan kuartalan terbesar dalam setahun selama periode Q1 tahun 2018. Volume penjualan ritel pada bulan Maret 2018 turun  1,2 persen dari bulan sebelumnya disebabkan oleh periode salju yang tidak pada musimnya dan cuaca dingin yang dijuluki ‘The Beast from the East’ membuat pembeli tetap di rumah. Untuk kuartal pertama secara keseluruhan, volume penjualan turun 0,5 persen dibandingkan dengan Q4 tahun 2017 atau merupakan penurunan kuartalan terbesar sejak kuartal pertama 2017.

Dari kawasan Asia Pasifik, neraca perdagangan Tiongkok terhadap AS pada Maret 2018 tercatat defisit sebesar US$4,98 miliar, sementara pada bulan sebelumnya surplus US$33,75 miliar. Defisit ini merupakan yang pertama dalam tiga belas bulan terakhir akibat ekspor yang menurun di tengah meningkatnya pertumbuhan impor di tengah tingginya permintaan dalam negeri. Kondisi ini terjadi di tengah dinamika perseteruan perang dagang antara Tiongkok dan AS. Sementara itu, neraca perdagangan Jepang untuk bulan Maret 2018 kembali mencatatkan surplus. Pada bulan tersebut tercatat surplus sebesar US$797 miliar, jauh di atas surplus yang tercatat pada bulan sebelumnya yang sebesar US$3 miliar. Namun, peningkatan ekspor masih kurang dari yang diharapkan akibat pelemahan sektor manufaktur, dengan penjualan ke AS dan Uni Eropa yang hampir tidak menunjukkan perubahan signifikan.

 IV. Perekonomian Domestik

Badan Pusat Statistik pada hari Senin (16/04) menyatakan neraca perdagangan bulan Maret 2018 surplus 1,09 miliar dollar AS. Neraca perdagangan surplus setelah tiga bulan sebelumnya, dari Desember 2017 hingga Januari dan Februari 2018 mengalami defisit. Total nilai ekspor Maret tercatat sebesar 15,58 miliar dollar AS atau naik 10,24 persen dibanding Februari. Sementara nilai impor Maret mencapai 14,49 miliar dollar AS atau naik 2,13 persen dibanding Februari. Secara kumulatif, neraca perdagangan Januari-Maret 2018 juga mengalami surplus sebesar 0,28 miliar dollar AS. Namun demikian, apabila dibandingkan dengan tahun sebelumnya (yoy) Januari-Maret 2017 yang surplus 4,08 miliar dollar AS, surplus neraca perdagangan Q1 2018 masih lebih rendah.

Pemerintah bersama Bank Indonesia menetapkan empat kebijakan untuk mendorong industri berorientasi ekspor yang diyakini akan menopang pertumbuhan ekonomi dengan lebih cepat. Empat kebijakan tersebut yaitu (1) Mendorong berkembangnya industri berorientasi ekspor di daerah melalui pemberian kemudahan perizinan dan insentif fiskal, (2) Menurunkan biaya logistik industri domestik melalui peningkatan kapasitas dan efisiensi infrastruktur konektivitas, air, dan listrik, (3) Penguatan sumber daya manusia untuk mendukung penyediaan tenaga kerja dengan skill yang sejalan dengan kebutuhan perkembangan teknologi dan otomasi proses produksi, dan (4) Perluasan pasar ekspor industri nasional dengan menambah kerja sama perjanjian perdagangan bilateral/multilateral (Free Trade Agreement-FTA dan Preferential Trade Agreement-PTA) dengan tetap mempertimbangkan kepentingan nasional.

Bank Indonesia dalam Survei Perbankan melaporkan pertumbuhan kredit baru pada Q1-2018 melambat. Hal ini sesuai dengan pola penyaluran kredit pada awal tahun, namun lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Hal ini tecermin dari Saldo Bersih Tertimbang (SBT) pertumbuhan kredit baru yang mencapai 75,9 persen pada Q1-2018. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan 94,3 persen pada kuartal sebelumnya. Namun demikian, pertumbuhan kredit baru pada Q1-2018 tersebut masih lebih tinggi dibandingkan SBT pertumbuhan kredit baru pada Q1-2017 yang sebesar 52,9 persen. Pertumbuhan kredit baru pada Q1-2018 mengindikasikan pertumbuhan PDB sebesar 5,1% di periode yang sama.

Kenaikan Harga Minyak Tekan Pasar Keuangan Global

  • Harga minyak acuan global Brent menyentuh level 74,06 pada Jumat (20/04) atau yang tertinggi dalam 3 tahun terakhir
  • Kenaikan harga minyak yang diikuti ekspektasi inflasi yang tinggi memicu penguatan dolar AS dan kenaikan yield US Treasury tenor 10 tahun menyentuh titik tertingginya sejak Januari 2014 di 2,968 pada Jumat (20/04)

Menjelang akhir pekan lalu, bursa saham AS dan bursa di kawasan Asia, termasuk IHSG, cemas menantikan rilis survei manufaktur global bulan April untuk memastikan apakah pelambatan ekonomi pada Q1 2018 hanya merupakan fenomena temporer setelah indikasi pertumbuhan ekonomi di negara-negara besar di bawah ekspektasi. Ekspor Cina Maret secara tak terduga turun 2,7 persen dari tahun sebelumnya, inflasi produsen juga turun ke level terendah 17-bulan. Ekspor Jerman juga merosot secara tak terduga pada bulan Februari dan indeks kejutan ekonomi Citigroup. CESIG10 untuk ekonomi G10 berada pada level terendah sejak pertengahan 2017 dan menjadi bahasan pertemuan musim semi IMF/WB dengan Bank Sentral dan Menteri Keuangan dunia yang tengah berlangsung di Washington DC.

Memasuki pertengahan pekan, tekanan mulai dihadapi oleh pasar saham secara global seiring kenaikan tajam imbal hasil obligasi Pemerintah AS yang dipicu oleh kenaikan harga minyak. Penurunan persediaan minyak AS dan pembatasan pasokan oleh anggota OPEC dan produsen non-OPEC mendorong kenaikan harga minyak acuan global Brent hingga menyentuh level 74,06 pada penutupan pekan (20/04) atau yang tertinggi dalam 3 tahun terakhir. Kenaikan minyak yang tajam meningkatkan kekhawatiran akan inflasi yang tinggi sehingga mendorong kenaikan yield US Treasury tenor 10 tahun menyentuh titik tertingginya sejak Januari 2014 di 2,968 pada hari Jumat (20/04) atau mendekati threshold psikologis di 3 persen. Terakhir kali US Treasury tenor 10 tahun mendekati angka ini terjadi pada tahun 2013 yang menurunkan risk appetite dan mendorong pasar saham global anjlok menjelang taper tantrum.

Naiknya yield US Treasury tenor 10 tahun memberikan tekanan yang kuat pada pasar saham global dan nilai tukar mata uang terhadap dolar AS di seluruh dunia. Dari bursa saham di kawasan Asia, indeks Hangseng dan Shanghai melemah masing-masing 1,47 dan 0,94 persen dalam perdagangan Jumat (20/04) sementara Indeks MSCI Asia tercatat turun 0,70 persen. Dari pasar valuta asing, kenaikan yield US Treasury tenor 10 tahun memberikan tenaga bagi penguatan dolar AS. Indeks dolar AS tercatat menguat 0,79 persen dalam sepekan dan berakhir di  90,48 yang merupakan titik tertinggi dalam dua pekan. Tercatat seluruh mata uang utama di kawasan Asia melemah pada hari Jumat (20/04), dimana Rupiah di pasar spot mencatatkan pelemahan tertinggi di kawasan Asia sebesar 0,78 persen, diikuti oleh Won dan Rupee yang masing-masing terdepresiasi sebesar 0,53 dan 0,47 persen. Dari kawasan Eropa, Euro terdepresiasi sebesar 0,47 persen sedangkan Pounsterling terdepresiasi sebesar 0,60 persen dalam satu hari perdagangan (20/04).

Beberapa analis memperkirakan kenaikan harga minyak lebih lanjut sebesar U$5/barel akan cukup untuk mendorong  kenaikan yield US Treasury tenor 10 tahun melampaui threshold psikologis 3 persen. Dengan harga minyak berada di titik tertingginya dalam tiga tahun terakhir, kenaikan harga yang lebih tinggi akan memicu volatilitas foreign exchange lebih besar dan pasar ekuitas yang lebih luas. Secara tradisional, dolar AS memiliki korelasi negatif yang rendah dengan harga minyak, terutama apabila penyebab dominan pelemahan dolar AS berasal dari kenaikan harga minyak. Jika harga minyak global membantu mendorong kenaikan yield US Treasury tenor 10 tahun pada fase saat ini, maka terjadi perubahan korelasi antara harga minyak dan dolar AS menjadi positif.

OPEC dan negara-negara produsen minyak non-OPEC berencana memperpanjang pembatasan pasokan minyak hingga tahun 2019 Hal ini berpotensi dorong naiknya volatitas pasar keuangan seiring dorongan inflasi terhadap kenaikan yield US Treasury dan penguatan dolar AS yang berdampak pada arus modal global.

Dari sisi APBN 2018, harga minyak yang jauh lebih tinggi dari asumsi dasar ICP US$48 per barel tentu berdampak positif terhadap APBN mengingat sensitivitas ICP yang bernilai positif terhadap penerimanaan negara, terutama berasal dari kenaikan penerimaan migas baik PNBP maupun Pajak Penghasilan. Namun, Pemerintah dan otoritas moneter harus terus waspada apabila kenaikan harga minyak dunia ternyata memicu penguatan dolar AS lebih lanjut karena dapat mempengaruhi psikologis investor sekaligus meningkatkan tekanan di sektor keuangan domestik.


Sumber Data: Bloomberg, WEC, Bank Indonesia, Bisnis Indonesia, Reuters, FT, CNN Indonesia, CNBC, Investor Daily, Ipot News, BBC, Kompas, Antara News, Kontan.

Highlight  Minggu Ini

  • Wall Street masih mengalami penguatan di tengah kekhawatiran investor atas kenaikan imbal hasil US Treasury.
  • Indeks dolar AS berada pada level 90,48 pada akhir pekan (20/04) atau menguat sebesar 0,79 persen.
  • IHSG menguat 1,07 persen ke level 6.337,70 dan diperdagangkan di kisaran 6.259,59 – 6.360,32.
  • Nilai tukar Rupiah terpantau melemah 1,00 persen dan secara ytd melemah 2,49 persen, berada di level Rp13.893 per USD.

I.    Pasar Global

Pasar Saham. Wall Street kembali mencatatkan penguatan pada pekan lalu, dengan indeks Dow Jones naik sebesar 0,42 persen secara mingguan, sementara indeks S&P 500 menguat 0,52 persen. Sentimen yang mempengaruhi pergerakan Wall Street sepanjang pekan lalu antara lain rilis laba emiten, kekhawatiran investor atas kenaikan imbal hasil US Treasury (UST), dan volatilitas di pasar komoditas. Di awal pekan, rilis laporan laba emiten yang melebihi ekspektasi menjadi pendorong utama bursa saham Wall Street. Kemudian pada akhir pekan, kekhawatiran investor meningkat seiring naiknya imbal hasil UST.

Pada hari Jumat (20/04), imbal hasil UST tenor 10 tahun sempat menyentuh level 2,956 persen atau merupakan yang tertinggi sejak Januari 2014. Kenaikan ini dipicu oleh stance kebijakan moneter the Fed yang hawkish seiring ekspektasi kenaikan inflasi ke depan. Kebijakan proteksionis Presiden AS Donald Trump juga dikhawatirkan semakin mendorong inflasi AS lebih tinggi.

Dari kawasan Eropa, bursa saham Eropa ditutup bervariasi pada pekan lalu. Indeks FTSE 100 (Inggris), indeks CAC (Prancis), dan indeks Stoxx 600 mencatatkan penguatan secara mingguan, sementara indeks DAX (Jerman) mengalami pelemahan. Pergerakan bursa saham Eropa selama sepekan masih dipengaruhi oleh faktor global, terutama dari AS, dan rilis laba emiten kuartal I 2018. Sebagai contoh, emiten teknologi Ericcson yang menyatakan ekspektasi kerugian akan lebih kecil dari perkiraan di periode kuartal pertama tahun ini. Selain faktor global dan rilis laporan kinerja emiten, komentar dovish dari Gubernur Bank Sentral Inggris Mark Carney juga turut berkontribusi terhadap penguatan bursa saham Inggris. Sementara itu, dari pasar Asia, mayoritas bursa saham Asia ditutup menguat secara mingguan. Hanya indeks Hang Seng (Hongkong), Shanghai (Tiongkok), dan Indeks PSEi (Filipina) yang mengalami pelemahan. Selain dipengaruhi pergerakan bursa global, investor di bursa Asia juga masih berhati – hati mencermati rilis laporan kinerja emiten dalam beberapa waktu ke depan.

Pasar Uang.  Indeks dolar AS berada pada level 90,48 pada akhir pekan (20/04) atau menguat sebesar 0,79 persen dalam sepekan terhadap enam mata uang utama dunia dari posisi 89,77 pada penutupan akhir pekan sebelumnya. Level itu merupakan level tertinggi dolar AS dalam dua pekan. Sentimen utama yang mempengaruhi penguatan dolar AS dalam sepekan terutama bersumber dari isyarat the Fed yang hawkish seiring performa ekonomi AS yang stabil akan mendorong inflasi ke level target the Fed sebesar 2 persen. Inflasi AS akan lebih tinggi bila risiko trade war dengan China terealisasi. Hampir seluruh mata uang di dunia terdepresiasi menyusul penguatan dolar AS tersebut. Depresiasi terdalam terhadap dolar AS dialami oleh mata uang Real Brazil, Poundsterling Inggris, dan Rupee India. Terhadap mata uang safe haven, Yen Jepang, dolar AS menguat mencapai level tertinggi dalam dua bulan. Sementara itu, Rupiah juga mengalami tekanan dan sempat menyentuh level Rp13.946 per dolar AS atau merupakan level terendah dalam satu tahun terakhir.

Pasar Obligasi. Yield treasury AS tenor 10 tahun kembali bergerak naik ke level 2.956 persen pada akhir pekan lalu (20/4), setelah ditutup pada level 2,834 persen pada pekan sebelumnya (13/4). Level yield treasury AS pada pekan lalu tersebut merupakan level tertinggi sejak Januari 2014. Hal ini dipengaruhi oleh stance kebijakan moneter the Fed yang hawkish seiring ekspektasi kenaikan inflasi ke depan.

Pasar Komoditas. Harga minyak mentah global kembali melanjutkan tren penguatan. Secara mingguan, harga minyak Brent menguat 2,04 persen dan menyentuh titik tertinggi sejak 2014 di US$74,06/barel pada hari Jumat (20/04). Penguatan harga minyak global terutama dipengaruhi oleh kekhawatiran turunnya pasokan minyak seiring kenaikan tensi geopolitik di Timur Tengah. Di sisi lain, persediaan minyak AS terus menurun sebagaimana dilaporkan oleh American Petroleum Institute bahwa persediaan minyak mentah AS jatuh 1,05 juta barel pekan lalu, sementara persediaan minyak di Cushing, Oklahoma menurun untuk pertama kalinya sejak awal Maret 2018. Harga minyak diperkirakan masih akan terus menguat seiring kesepakatan negara-negara OPEC untuk memperpanjang pembatasan output hingga 2019.

Dari komoditas batubara, harga acuan batubara juga mengalami penguatan mingguan setelah perkiraan pertumbuhan ekonomi Tiongkok yang lebih tinggi pada tahun 2018 diperkirakan mendorong permintaan batubara yang tinggi sepanjang 2018. Dari sisi komoditas perkebunan, harga CPO juga mencatatkan penguatan secara mingguan terimbas dari kenaikan harga minyak dunia. Selain itu, pelemahan Ringgit terhadap dolar AS dalam sepekan turut mendorong harga CPO mengingat harga CPO menjadi relatif lebih murah di pasaran. Terakhir, data Amspec Agri Malaysia melaporkan bahwa ekspor CPO Malaysia meningkat 2 persen pada periode 1-20 April disbanding periode yang sama bulan sebelumnya setelah Pemerintah Malaysia memperpanjang pembebasan tarif ekspor hingga akhir April 2018.

II. Pasar Keuangan Domestik

  • Pada penutupan pekan, IHSG menguat 1,07 persen secara mingguan ke level 6.337,70 dengan posisi jual bersih investor non residen, imbal hasil SBN seri benchmark bergerak naik antara 16 hingga 26 bps dengan posisi kepemilikan investor non residen yang membukukan penurunan mingguan, dan nilai tukar Rupiah terdepresiasi sebesar 1,00 persen ke level Rp13.893 per USD.

IHSG tercatat menguat 1,07 persen secara mingguan ke level 6.337,70 dan diperdagangkan di kisaran 6.259,59 – 6.360,32 pada pekan ini. Investor nonresiden membukukan jual bersih sebesar Rp970,23 miliar pada pekan ini dan tercatat jual bersih Rp27,57 triliun secara ytd. Nilai rata-rata transaksi perdagangan harian selama sepekan turun ke level Rp6,52 triliun dari pekan sebelumnya yang sebesar Rp6,91 triliun.

Dari pasar SBN, yield SUN seri benchmark bergerak naik antara 16 s.d. 26 bps dalam sepekan. Berdasarkan data setelmen BI per 18 April 2018, kepemilikan nonresiden atas SBN tercatat sebesar Rp871,44 T (39,65 persen terhadap total outstanding), turun Rp0,21 T secara mingguan.

Nilai tukar Rupiah terpantau melemah 1,00 persen secara mingguan dan secara ytd melemah 2,49 persen, berada di level Rp13.893 per USD. Tekanan terhadap nilai tukar Rupiah meningkat, sebagaimana tercermin dari perkembangan spread harian antara nilai spot dan non deliverable forward 1 bulan. Pekan ini Rupiah diperdagangkan spot di 13.731 – 13.946 per USD.

III. Perekonomian Internasional

Dari AS, Penjualan retail AS bulan Maret 2018 tumbuh 0,6 persen mom setelah tiga bulan beruntun mencatatkan pertumbuhan negatif (Februari: -0,1 persen). Penjualan kendaraan motor yang tumbuh 2 persen mom menjadi motor peningkatan penjualan retail.

Dari kawasan Eropa,  Inflasi Inggris pada bulan Maret 2018 tercatat sebesar 2,5 persen atau turun dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang sebesar 2,7 persen. Angka tersebut merupakan yang terendah dalam satu tahun terakhir. Penurunan ini menjadi tekanan tersendiri bagi Bank Sentral Inggris yang sebelumnya berencana untuk menaikkan tingkat suku bunga acuannya pada bulan Mei mendatang. Sementara itu, penjualan retail Inggris mencatatkan penurunan kuartalan terbesar dalam setahun selama periode Q1 tahun 2018. Volume penjualan ritel pada bulan Maret 2018 turun  1,2 persen dari bulan sebelumnya disebabkan oleh periode salju yang tidak pada musimnya dan cuaca dingin yang dijuluki ‘The Beast from the East’ membuat pembeli tetap di rumah. Untuk kuartal pertama secara keseluruhan, volume penjualan turun 0,5 persen dibandingkan dengan Q4 tahun 2017 atau merupakan penurunan kuartalan terbesar sejak kuartal pertama 2017.

Dari kawasan Asia Pasifik, neraca perdagangan Tiongkok terhadap AS pada Maret 2018 tercatat defisit sebesar US$4,98 miliar, sementara pada bulan sebelumnya surplus US$33,75 miliar. Defisit ini merupakan yang pertama dalam tiga belas bulan terakhir akibat ekspor yang menurun di tengah meningkatnya pertumbuhan impor di tengah tingginya permintaan dalam negeri. Kondisi ini terjadi di tengah dinamika perseteruan perang dagang antara Tiongkok dan AS. Sementara itu, neraca perdagangan Jepang untuk bulan Maret 2018 kembali mencatatkan surplus. Pada bulan tersebut tercatat surplus sebesar US$797 miliar, jauh di atas surplus yang tercatat pada bulan sebelumnya yang sebesar US$3 miliar. Namun, peningkatan ekspor masih kurang dari yang diharapkan akibat pelemahan sektor manufaktur, dengan penjualan ke AS dan Uni Eropa yang hampir tidak menunjukkan perubahan signifikan.

 IV. Perekonomian Domestik

Badan Pusat Statistik pada hari Senin (16/04) menyatakan neraca perdagangan bulan Maret 2018 surplus 1,09 miliar dollar AS. Neraca perdagangan surplus setelah tiga bulan sebelumnya, dari Desember 2017 hingga Januari dan Februari 2018 mengalami defisit. Total nilai ekspor Maret tercatat sebesar 15,58 miliar dollar AS atau naik 10,24 persen dibanding Februari. Sementara nilai impor Maret mencapai 14,49 miliar dollar AS atau naik 2,13 persen dibanding Februari. Secara kumulatif, neraca perdagangan Januari-Maret 2018 juga mengalami surplus sebesar 0,28 miliar dollar AS. Namun demikian, apabila dibandingkan dengan tahun sebelumnya (yoy) Januari-Maret 2017 yang surplus 4,08 miliar dollar AS, surplus neraca perdagangan Q1 2018 masih lebih rendah.

Pemerintah bersama Bank Indonesia menetapkan empat kebijakan untuk mendorong industri berorientasi ekspor yang diyakini akan menopang pertumbuhan ekonomi dengan lebih cepat. Empat kebijakan tersebut yaitu (1) Mendorong berkembangnya industri berorientasi ekspor di daerah melalui pemberian kemudahan perizinan dan insentif fiskal, (2) Menurunkan biaya logistik industri domestik melalui peningkatan kapasitas dan efisiensi infrastruktur konektivitas, air, dan listrik, (3) Penguatan sumber daya manusia untuk mendukung penyediaan tenaga kerja dengan skill yang sejalan dengan kebutuhan perkembangan teknologi dan otomasi proses produksi, dan (4) Perluasan pasar ekspor industri nasional dengan menambah kerja sama perjanjian perdagangan bilateral/multilateral (Free Trade Agreement-FTA dan Preferential Trade Agreement-PTA) dengan tetap mempertimbangkan kepentingan nasional.

Bank Indonesia dalam Survei Perbankan melaporkan pertumbuhan kredit baru pada Q1-2018 melambat. Hal ini sesuai dengan pola penyaluran kredit pada awal tahun, namun lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Hal ini tecermin dari Saldo Bersih Tertimbang (SBT) pertumbuhan kredit baru yang mencapai 75,9 persen pada Q1-2018. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan 94,3 persen pada kuartal sebelumnya. Namun demikian, pertumbuhan kredit baru pada Q1-2018 tersebut masih lebih tinggi dibandingkan SBT pertumbuhan kredit baru pada Q1-2017 yang sebesar 52,9 persen. Pertumbuhan kredit baru pada Q1-2018 mengindikasikan pertumbuhan PDB sebesar 5,1% di periode yang sama.

Kenaikan Harga Minyak Tekan Pasar Keuangan Global

  • Harga minyak acuan global Brent menyentuh level 74,06 pada Jumat (20/04) atau yang tertinggi dalam 3 tahun terakhir
  • Kenaikan harga minyak yang diikuti ekspektasi inflasi yang tinggi memicu penguatan dolar AS dan kenaikan yield US Treasury tenor 10 tahun menyentuh titik tertingginya sejak Januari 2014 di 2,968 pada Jumat (20/04)

Menjelang akhir pekan lalu, bursa saham AS dan bursa di kawasan Asia, termasuk IHSG, cemas menantikan rilis survei manufaktur global bulan April untuk memastikan apakah pelambatan ekonomi pada Q1 2018 hanya merupakan fenomena temporer setelah indikasi pertumbuhan ekonomi di negara-negara besar di bawah ekspektasi. Ekspor Cina Maret secara tak terduga turun 2,7 persen dari tahun sebelumnya, inflasi produsen juga turun ke level terendah 17-bulan. Ekspor Jerman juga merosot secara tak terduga pada bulan Februari dan indeks kejutan ekonomi Citigroup. CESIG10 untuk ekonomi G10 berada pada level terendah sejak pertengahan 2017 dan menjadi bahasan pertemuan musim semi IMF/WB dengan Bank Sentral dan Menteri Keuangan dunia yang tengah berlangsung di Washington DC.

Memasuki pertengahan pekan, tekanan mulai dihadapi oleh pasar saham secara global seiring kenaikan tajam imbal hasil obligasi Pemerintah AS yang dipicu oleh kenaikan harga minyak. Penurunan persediaan minyak AS dan pembatasan pasokan oleh anggota OPEC dan produsen non-OPEC mendorong kenaikan harga minyak acuan global Brent hingga menyentuh level 74,06 pada penutupan pekan (20/04) atau yang tertinggi dalam 3 tahun terakhir. Kenaikan minyak yang tajam meningkatkan kekhawatiran akan inflasi yang tinggi sehingga mendorong kenaikan yield US Treasury tenor 10 tahun menyentuh titik tertingginya sejak Januari 2014 di 2,968 pada hari Jumat (20/04) atau mendekati threshold psikologis di 3 persen. Terakhir kali US Treasury tenor 10 tahun mendekati angka ini terjadi pada tahun 2013 yang menurunkan risk appetite dan mendorong pasar saham global anjlok menjelang taper tantrum.

Naiknya yield US Treasury tenor 10 tahun memberikan tekanan yang kuat pada pasar saham global dan nilai tukar mata uang terhadap dolar AS di seluruh dunia. Dari bursa saham di kawasan Asia, indeks Hangseng dan Shanghai melemah masing-masing 1,47 dan 0,94 persen dalam perdagangan Jumat (20/04) sementara Indeks MSCI Asia tercatat turun 0,70 persen. Dari pasar valuta asing, kenaikan yield US Treasury tenor 10 tahun memberikan tenaga bagi penguatan dolar AS. Indeks dolar AS tercatat menguat 0,79 persen dalam sepekan dan berakhir di  90,48 yang merupakan titik tertinggi dalam dua pekan. Tercatat seluruh mata uang utama di kawasan Asia melemah pada hari Jumat (20/04), dimana Rupiah di pasar spot mencatatkan pelemahan tertinggi di kawasan Asia sebesar 0,78 persen, diikuti oleh Won dan Rupee yang masing-masing terdepresiasi sebesar 0,53 dan 0,47 persen. Dari kawasan Eropa, Euro terdepresiasi sebesar 0,47 persen sedangkan Pounsterling terdepresiasi sebesar 0,60 persen dalam satu hari perdagangan (20/04).

Beberapa analis memperkirakan kenaikan harga minyak lebih lanjut sebesar U$5/barel akan cukup untuk mendorong  kenaikan yield US Treasury tenor 10 tahun melampaui threshold psikologis 3 persen. Dengan harga minyak berada di titik tertingginya dalam tiga tahun terakhir, kenaikan harga yang lebih tinggi akan memicu volatilitas foreign exchange lebih besar dan pasar ekuitas yang lebih luas. Secara tradisional, dolar AS memiliki korelasi negatif yang rendah dengan harga minyak, terutama apabila penyebab dominan pelemahan dolar AS berasal dari kenaikan harga minyak. Jika harga minyak global membantu mendorong kenaikan yield US Treasury tenor 10 tahun pada fase saat ini, maka terjadi perubahan korelasi antara harga minyak dan dolar AS menjadi positif.

OPEC dan negara-negara produsen minyak non-OPEC berencana memperpanjang pembatasan pasokan minyak hingga tahun 2019 Hal ini berpotensi dorong naiknya volatitas pasar keuangan seiring dorongan inflasi terhadap kenaikan yield US Treasury dan penguatan dolar AS yang berdampak pada arus modal global.

Dari sisi APBN 2018, harga minyak yang jauh lebih tinggi dari asumsi dasar ICP US$48 per barel tentu berdampak positif terhadap APBN mengingat sensitivitas ICP yang bernilai positif terhadap penerimanaan negara, terutama berasal dari kenaikan penerimaan migas baik PNBP maupun Pajak Penghasilan. Namun, Pemerintah dan otoritas moneter harus terus waspada apabila kenaikan harga minyak dunia ternyata memicu penguatan dolar AS lebih lanjut karena dapat mempengaruhi psikologis investor sekaligus meningkatkan tekanan di sektor keuangan domestik.

Download Publication
Data Source: Bloomberg, WEC, Bank Indonesia, Bisnis Indonesia, Reuters, FT, CNN Indonesia, CNBC, Investor Daily, Ipot News, BBC, Kompas, Antara News, Kontan.

Briefing Notes Update

Alternative text - include a link to the PDF!


ESELON I KEMENTERIAN KEUANGAN


KONTAK: Jl. Dr. Wahidin No. 1 Gd. R. M. Notohamiprodjo, Jakarta Pusat 10710
email: ikp@fiskal.depkeu.go.id

  Kurs Pajak : KMK Nomor 18/KM.10/2018,   USD : 13,858.00    AUD : 10,640.43    GBP : 19,446.43    SGD : 10,515.60    JPY : 12,837.21    EUR : 17,023.35    CNY : 2,203.15