Kunjungan Mahasiswa Universitas Pembangunan Jaya


Jakarta, (21/4): Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan kembali menerima kunjungan dari dari kalangan akademisi dalam rangka diseminas informasi terkait kebijakan fiskal. Kali ini mahasiswa dari Universitas Pembangunan Jaya sebanyak kurang lebih 50 peserta yang terdiri dari dosen dan mahasiswa hadir di Ruang Rapat Analis-Fiskal lantai 3, Gedung R.M. Notohamiprodjo, Kompleks Kementerian Keuangan. Kegiatan sosialisasi yang telah diikuti untuk kedua kalinya oleh Universitas Pembangunan Jaya ini diawali dengan sambutan pembuka dari Kepala Bagian Organisasi dan Kepatuhan Internal BKF, Nursidik Istiawan. Dalam sambutannya, Kepala Bagian Organisasi dan Kepatuhan Internal ini menyampaikan bahwa salah satu tugas BKF sebagai nerve system dari Kementerian Keuangan adalah melakukan sinkronisasi antara penerimaan, pengeluaran dan pembiayaan negara agar dapat selaras dengan pembangunan nasional. Nursidik kemudian menambahkan bahwa BKF sangat terbuka kepada berbagai lembaga dan institusi yang ingin menggali informasi seputar kebijakan fiskal.

Sesi diskusi dari kegiatan ini dimoderatori oleh Dedy Sunaryo selaku Kepala Subbagian Protokol dan Tata Usaha  Pimpinan dan dihadiri oleh dua narasumber yaitu Adriyanto, Kepala Bidang Analisis Ekonomi Internasional dan Hubungan Investor, Pusat Kebijakan Ekonomi Makro (PKEM) serta Purwitohadi, Kepala Bidang Kebijakan Pajak dan PNBP II, Pusat Kebijakan Penerimaan Negara (PKPN) BKF.

Adriyanto berkesempatan menjadi narasumber pertama yang memberikan paparan tentang perkembangan serta kebijakan ekonomi dan fiskal di Indonesia terkini, mulai dari tantangan perkembangan ekonomi sampai dengan potensi ekonomi Indonesia di masa depan. Adriyanto menjelaskan bahwa diantara negara-negara emerging market, pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam kurun waktu lima tahun terakhir menempati urutan tiga besar. Ia menambahkan bahwa salah satu motor pertumbuhan ekonomi adalah permintaan domestik yaitu konsumsi rumah tangga, sedangkan tantangannya adalah masih tingginya tingkat kesenjangan dan kemiskinan di Indonesia. Selanjutnya paparan dilanjutkan dengan peran kebijakan fiskal khususnya APBN dalam mendukung pertumbuhan dan pembangunan, yaitu mendukung daya beli, mendukung investasi untuk membangun daya saing dan produktivitas serta menjaga stabilitas dan keamanan. Selain itu, Ia menambahkan bahwa Indonesia mempunyai potensi besar sebagai negara yang perekonomiannya maju mengingat kondisi demografi Indonesia yang didominasi oleh usia produktif.

Selanjutnya Purwitohadi sebagai narasumber kedua menjelaskan tentang kebijakan umum pemberian fasilitas di bidang perpajakan. Purwitohadi mengawali dengan menyampaikan profil penerimaan pajak serta menyampaikan peningkatan kontribusi penerimaan pajak dalam APBN yang terus meningkat dari tahun 2012 dengan rata-rata peningkatan sebesar 9,2% pertahun. Namun demikian, tren realisasi masih cenderung turun sejalan dengan kondisi perlambatan perekonomian, ekspor-impor serta penurunan harga komoditas. Selanjutnya Purwitohadi menjelaskan tentang peran ganda yang dilakukan pajak dalam perekonomian yaitu sebagai sumber penerimaan untuk pembiayaan dan sebagai instrumen fiskal. Paparan dilanjutkan dengan fasilitas-fasilitas yang ada dalam perpajakan dan ditujukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi seperti fasilitas tax holiday, yaitu berupa pengurangan PPh badan sebesar 10% s.d. 100%, yang bertujuan untuk mendorong investasi pada industri yang memiliki keterkaitan yang luas, memberi nilai tambah dan eksternalitas yang tinggi, memperkenalkan teknologi baru, serta memiliki nilai strategis bagi perekonomian nasional. Fasilitas lain yang menjadi fokus diskusi dan mendapat banyak perhatian dari peserta yaitu tax allowance yang bertujuan untuk mendorong investasi pada industri di daerah-daerah tertentu seperti kawasan berikat yang akan mendorong pertumbuhan ekonomi, pemerataan pembangunan dan percepatan pembangunan di daerah tertentu. Setelah pemaparan dari kedua narasumber, dibuka sesi tanya jawab yang mendapat antusiasme tinggi dari para peserta dan ditutup oleh Dedy Sunaryo selaku moderator dengan menyampaikan kesimpulan bahwa pemerintah akan terus meningkatkan pertumbuhan ekonomi dari sisi APBN khususnya penerimaan perpajakan. (ar/pg)

  Kurs Pajak : KMK Nomor 18/KM.10/2018,   USD : 13,858.00    AUD : 10,640.43    GBP : 19,446.43    SGD : 10,515.60    JPY : 12,837.21    EUR : 17,023.35    CNY : 2,203.15