Geliat Perekonomian Kalsel Hadapi Tantangan Global


Banjarmasin (14/11): Kalimantan Selatan masih menggantungkan perekonomiannya terhadap komoditi batubara. Di tengah volatilitas perekonomian global, Kalsel memperoleh manfaat dari naiknya harga batubara di pasaran internasional.? Meskipun demikian, untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, Kalsel perlu melakukan transformasi struktural perekonomian.

?Kenaikan harga komoditi batubara yang merupakan komoditi ekspor utama Kalsel memiliki pengaruh yang signifikan dengan perekonomian di Kalsel. Untuk meningkatkan performa pertumbuhan ekonomi Kalsel yang saat ini mengalami peningkatan dari periode sebelumnya, pemerintah perlu melakukan upaya untuk mengurangi ketergantungan perekonomian dari sektor primer?, ujar Muhammad Handry Imansyah, akademisi dari Universitas Lambung Mangkurat dalam Seminar Ekonom Kementerian Keuangan di Banjarmasin. Handry menambahkan, sektor yang dapat dikembangkan adalah sektor industri yang berbasis pertanian dan sektor pariwisata. Untuk itu pemerintah daerah perlu mengondisikan agar tercipta iklim investasi yang nyaman dan mudah bagi para investor, serta melaksanakan belanja modal terutama infrastruktur yang efisien dan efektif untuk menunjang sektor pariwisata.

Terkait perekonomian Kalsel, Hermansyah, Asisten 3 bidang Perekonomian dan Pembangunan Pemprov Kalsel yang mewakili Gubernur Kalsel, menyampaikan bahwa sektor pertanian dan kehutanan menyumbang 0,99% dari pertumbuhan ekonomi Kalsel dan kontribusi konsumsi rumah tangga memberikan sumbangan 2,3% terhadap pertumbuhan. Oleh karena itu penciptaan lapangan kerja di Kalsel menjadi salah satu strategi pembangunan.

Dalam seminar tersebut, juga dibahas tentang perkembangan ekonomi terkini dan APBN 2019 yang disampaikan oleh Kurnia Chairi, Kasubdit Analisis Ekonomi Makro dan Pendapatan Negara, Direktorat Jenderal Anggaran. ?Dalam World Economic Outlook Oktober 2018, IMF menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global tahun 2018-2019 dari 3,9% menjadi 3,7%. ?Sementara itu, berdasarkan rilis BPS, ekonomi Indonesia pada kuartal 3 tahun 2018 tumbuh sebesar 5,17% (y-on-y)?, jelas Kurnia terkait pertumbuhan ekonomi global dan domestik.

Selain itu, Kurnia menyampaikan APBN 2019 masih akan menghadapi tantangan global sehingga perlu diantisipasi dan disusun secara realistis antara lain dengan menetapkan target menurunkan defisit anggaran menjadi 1,84% PDB, menurun dari target tahun-tahun sebelumnya. Defisit keseimbangan primer ?juga diturunkan hingga mendekati Rp 0 yang terus menurun dari tahun sebelumnya. Strategi lain adalah dengan meningkatkan tax ratio menjadi 12,2%, mendorong efisiensi belanja dan sinergi pemerintah pusat dan daerah, serta mengendalikan proporsi utang pada batas aman yaitu berkisar 30% dari PDB.

Dalam hal perkembangan pelaksanaan APBN dan pembangunan tahun 2018 di Kalsel, Usdek Rahyono, Kakanwil DJPB Provinsi Kalimantan Selatan, menyampaikan bahwa capaian output belanja pemerintah di Provinsi Kalsel sampai semester 1 2018 masih cukup rendah. Untuk itu Usdek menghimbau agar pelaksanaan kegiatan pembangunan dilakukan secara merata dalam rentang periode tahun anggaran dan tidak menumpuk di akhir tahun, agar masyarakat Kalsel dapat segera menikmati output dari pembangunan.

Selain itu Usdek menyampaikan bahwa penyaluran Dana Desa di Provinsi Kalsel sudah hampir mencapai 100%, memiliki output yang cukup baik, dan diharapkan mempunyai manfaat yang tinggi bagi seluruh masyarakat. Beberapa capaian output dari penyaluran dana desa antara lain pembangunan 8 ribu meter jaringan irigasi, 660 km jaringan jalan desa, 58 unit tambatan perahu, 778 unit jembatan desa, 226 unit polindes, 22 unit pasar, 1.460 unit PAUD, 200 unit posyandu, 1.980 unit MCK, 114 unit sarana olahraga, dan ribuan unit sarana dan prasarana lainnya. (hnr/rap)

  Kurs Pajak : KMK Nomor 52/KM.10/2018,   USD : 14,581.00    AUD : 10,496.87    GBP : 18,348.02    SGD : 10,611.04    JPY : 12,854.37    EUR : 16,522.28    CNY : 2,115.26