Ekspor Jadi Penyumbang Terbesar Pertumbuhan Ekonomi di Sulawesi Utara


Manado (17/10)  “Meskipun melambat dibandingkan triwulan I tahun 2018, ekonomi Sulawesi Utara triwulan II tahun 2018 tumbuh sebesar 5,87%, tercatat masih lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan rata-rata nasional sebesar 5,27%”, ujar M. Rudy Mokoginta, Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Sulawesi Utara ketika membuka Seminar Forum Ekonom Kementerian Keuangan (FEKK) di Manado.

Noldy Tureah, Ekonom FEKK Provinsi Sulawesi Utara, mengatakan pertumbuhan ekonomi yang tinggi di Sulawesi Utara disumbangkan oleh kinerja ekspor yang meningkat, dimana penyumbang ekspor tersebut berasal dari industri pengolahan dan perikanan. Namun demikian ada beberapa hal yang menjadi tantangan dalam menciptakan pertumbuhan yang optimal. “Koordinasi antarkabupaten dan kota menjadi kunci penting dalam mencapai pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi di Sulawesi Utara”, ungkapnya. Dengan koordinasi yang baik, pertumbuhan yang optimal akan tercipta dengan sendirinya.

Dalam seminar tersebut, disampaikan pula strategi kebijakan yang akan dijalankan pemerintah tahun anggaran 2019. Pemerintah pusat akan terus berupaya untuk menciptakan pertumbuhan yang merata, meskipun saat ini perekonomian Indonesia dihadapkan dengan tekanan ekonomi global. Kurnia Chairi, Kasubdit Analisis Ekonomi Makro dan Pendapatan Negara, Direktorat Jenderal Anggaran mengungkapkan beberapa strategi telah disiapkan pemerintah yang dituangkan dalam RAPBN 2019. Dari sisi penerimaan, pemerintah akan memberikan insentif pajak untuk menjaga daya beli masyarakat dan perekonomian seperti menaikkan Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) dan menurunkan tarif PPh, serta pemberian insentif pajak bagi dunia usaha seperti tax holiday dan tax allowance. Dari sisi belanja, pemerintah berfokus pada peningkatan investasi di bidang pendidikan, penguatan program perlindungan sosial, serta kesinambungan pembangunan infrastruktur.

Sedangkan dari sisi pembiayaan, Ihda Muktiyanto, Kasubdit Pengembangan Pengelolaan Pembiayaan, Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko menyampaikan beberapa strategi antara lain: mengendalikan rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), menggunakan utang dalam negeri, mengelola aset dengan baik, serta melakukan lindung nilai dan penjaminan terhadap proyek-proyek besar. Ia meyakinkan, pemerintah akan terus berupaya untuk mengelola utang dengan professional, hati-hati, transparan, dan terukur.

Seminar FEKK ini merupakan kolaborasi dari Badan Kebijakan Fiskal, Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan Provinsi Sulawesi Utara, dan Biro KLI Sekretariat Jenderal Kementerian Keuangan. Peserta pada seminar ini berasal dari kalangan akademisi, ekonom, lembaga keuangan, perbankan, serta pemerintah daerah di Sulawesi Utara.

Selain seminar, diselenggarakan pula kuliah umum perkembangan kebijakan fiskal dan ekonomi terkini di Universitas Sam Ratulangi dan Universitas Katolik De La Salle, Manado. Kuliah umum tersebut bertujuan untuk diseminasi kebijakan kepada akademisi terutama para mahasiswa. (is/lnf)

  Kurs Pajak : KMK Nomor 47/KM.10/2018,   USD : 14,702.00    AUD : 10,626.17    GBP : 19,077.64    SGD : 10,663.83    JPY : 12,913.31    EUR : 16,637.73    CNY : 2,117.26