Jokowi Ibaratkan Perekonomian Global Layaknya Game of Thrones


Nusa Dua-Bali (12/10), Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) gebrak tradisi sejarah retorika di hadapan lebih dari 15,000 peserta Annual Meeting Plenary pagi ini. Bertempat di BNDCC, Jokowi membuka Plenary dengan menghadirkan Games of Thrones sebagai perumpamaan perekonomian global dan hubungan antar negara-negara maju saat ini.

Jokowi menyatakan bahwa dalam beberapa dekade terakhir, negara ekonomi maju telah mendorong negara ekonomi berkembang untuk lebih ‘membuka diri’ dan ikut dalam perdagangan bebas serta keuangan terbuka. Globalisasi dan keterbukaan ekonomi internasional ini telah memberikan banyak sekali keuntungan baik bagi negara maju maupun negara berkembang. Lebih jauh, berkat kepeduliaan dan bantuan dari negara ekonomi maju, negara-negara berkembang mampu memberikan kontribusi besar bagi pertumbuhan ekonomi dunia.

“Namun akhir-akhir ini, hubungan antar negara ekonomi maju semakin lama semakin terlihat seperti Game of Thrones”, ungkap Jokowi yang didukung dengan visual cuplikan film Game of Thrones sebagai latar belakang.

Keseimbangan kekuasaan dan aliansi antar negara ekonomi maju tengah mengalami keretakan. Lemahnya kerjasama dan koordinasi telah menyebabkan terjadinya banyak masalah seperti peningkatan drastis harga minyak mentah serta kekacauan di pasar mata uang yang dialami negara-negara berkembang, tambah Jokowi.

Tantangan ekonomi yang sedang dihadapi bersama seluruh negara juga dibahas oleh Managing Director International Monetary Fund Christine Lagarde yang menekankan sebuah lanskap ekonomi baru dan kebutuhan untuk adanya multilateralisme baru yang lebih inklusif, lebih memusat pada khalayak, dan lebih berorientasi pada hasil.

Lebih jauh, Presiden Bank Dunia, Jim Yong Kim menjelaskan, “Penurunan kemiskinan saat ini sedang melambat yang berarti kita harus mengakselerasi usaha-usaha dari strategi human Capital kita. Membantu negara agar dapat berinvestasi lebih pada masyarakat demi mempersiapkan besarnya kebutuhan digital di masa depan adalah fokus kami di beberapa tahun terakhir”.

Membangun human capital tentunya memerlukan waktu yang tidak sebentar, namun untuk jangka panjangnya akan terlihat pertumbuhan yang lebih cepat dan besarnya penurunan angka kemiskinan. Seluruh negara akan menghadapi masa depan yang serba digital. Oleh karenanya penting untuk memiliki sarana dan prasarana yang jauh lebih mumpuni untuk membantu membangun human capital yang kuat. Dengan disertai aspirasi dan mengubah budaya kerja, teknologi dan investasi dalam pengembangan manusia menjadi hal yang genting.

“Para pemimpin dunia sudah seharusnya mengambil sejumlah pendekatan: prioritaskan investasi untuk pengembangan masyarakat. Seiring dengan inovasi-inovasi yang terus berakselerasi, akan semakin sulit untuk kita mengejarnya jika tidak ikut di dalamnya. Jika Anda tidak membangun human capital, ekonomi dan negara Anda, akan semakin tertinggal jauh di belakang”, tutup Presiden Kim.

  Kurs Pajak : KMK Nomor 47/KM.10/2018,   USD : 14,702.00    AUD : 10,626.17    GBP : 19,077.64    SGD : 10,663.83    JPY : 12,913.31    EUR : 16,637.73    CNY : 2,117.26