Menkeu Update Kinerja Perekonomian Terkini kepada Analis


Jakarta, (20/8): “Meskipun secara global perekonomian dapat dikatakan pulih, namun kebijakan Amerika Serikat baik moneter dan fiskal saat ini memberikan pengaruh cukup besar bagi dinamika perekonomian global”, ungkap Menteri Keuangan dalam acara Analyst Meeting yang digelar di Jakarta. Dinamika ekonomi global saat ini, tambah Menkeu, akan terus berlanjut hingga 2019. Setidaknya dinamika tersebut akan berlanjut minimal 18 bulan. Oleh karena itu, ia menyampaikan perlunya kewaspadaan terhadap volatilitas yang meningkat.

Menkeu mengatakan, meskipun perekonomian global saat ini mengalami dinamika, fundamental ekonomi Indonesia terbilang cukup baik. “Ekonomi saat ini denyutnya sudah naik. Harga komoditas yang membaik dan impor nonmigas seperti bahan baku dan barang konsumsi yang meningkat double digit menunjukkan adanya perbaikan dan akselerasi ekonomi”, lanjut Menkeu.

Oleh karena itu, konsentrasi kebijakan pemerintah saat ini ialah berupaya menjaga momentum pertumbuhan sembari meng-address isu – isu yang akan menyebabkan vulnerability sebagai akibat dari dinamika global yang terjadi. “Kita harus bisa mengombinasikan kebijakan untuk menjaga momentum dan confidence, namun di sisi lain tetap meningkatkan kewaspadaan”, ujar Menkeu.

Menkeu melanjutkan, dilihat dari Kinerja APBN 2018, sampai dengan 31 Juli 2018 realisasi pendapatan dan belanja meningkat masing-masing sebesar 16,5% dan 7,7% dibanding periode yang sama tahun 2017. Hal ini mengakibatkan realiasi defisit periode ini lebih kecil dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Ini mengindikasikan bahwa meski risiko global cukup tinggi, namun fundamental ekonomi Indonesia menguat. Dengan kondisi tersebut, pemerintah akan terus berupaya mengelola APBN dengan hati – hati.

Selain menyampaikan perkembangan ekonomi terkini Indonesia, dalam kesempatan tersebut Menkeu juga menjelaskan tentang RAPBN 2019 yang baru saja disampaikan oleh Presiden dalam Sidang Paripurna pada 16 Agustus lalu. Dalam penjelasannya, pemerintah mematok asumsi makro dengan nilai pertumbuhan ekonomi sebesar 5,3%, nilai tukar Rp 14.400/USD, inflasi 3,5%, suku bunga SPN 3 bulan 5,3%, harga minyak USD70 per barrel, lifting minyak 750 ribu barrel/hari, dan lifting gas 1.250 ribu barrel/hari.

Dengan melihat asumsi tersebut, RAPBN 2019 diarahkan agar lebih sehat, adil dan mandiri. Lebih sehat dilihat dari defisit yang menurun dibandingkan tahun sebelumnya. Adil karena menyeimbangkan belanja fisik dan sumber daya manusia, pembangunan pusat dan daerah, serta pajak yang progresif. Mandiri karena revenue dari pajak merupakan sumber utama belanja negara.

Analyst Meeting merupakan salah satu bentuk kegiatan konsultasi publik yang dilakukan oleh Badan Kebijakan Fiskal dengan tujuan untuk melakukan dialog terkait kondisi perekonoman dengan para analis sektor keuangan, pengamat ekonomi, pelaku pasar, dan akademisi. Hasil dari Analyst Meeting ini akan dimanfaatkan sebagai bahan pandangan dan masukan bagi perbaikan kebijakan fiskal ke depan. (is/atw)

  Kurs Pajak : KMK Nomor 47/KM.10/2018,   USD : 14,702.00    AUD : 10,626.17    GBP : 19,077.64    SGD : 10,663.83    JPY : 12,913.31    EUR : 16,637.73    CNY : 2,117.26