Daily Update : 22-09-2017 | Download File :

BERITA GLOBAL

  • Bursa AS ditutup melemah akibat penurunan saham sektor teknologi. dan spekulasi investor atas kenaikan suku bunga AS sampai dengan akhir tahun ini serta pemerintah AS yang mengumumkan sanksi baru terhadap Korea Utara. Indeks Dow Jones dan S&P 500 ditutup melemah masing-masing sebesar 0,24 persen dan 0,30 persen. (Reuters)
  • The Fed mempertahankan suku bunga acuan untuk bulan Agustus pada level 1,25 persen. The Fed juga perlahan mulai melepas beberapa kebijakan stimulus moneter mereka. Proses normalisasi kebijakan akan dilakukan oleh the Fed secara bertahap dan hati-hati. (The Guardian)
  • Existing homes sales AS pada bulan Agustus mengalami penurunan menjadi 5,35 juta dari sebelumnya sebesar 5,44 juta, merupakan penjualan terendah selama tahun 2017. Kondisi ini dipengaruhi oleh penurunan tajam penjualan rumah di Negara bagian Houston akibat badai Harvey serta penurunan penjualan rumah di Negara bagian Florida akibat Badai Irma. (Bloomberg)
  • Pertumbuhan penjualan ritel Inggris pada bulan Agustus naik dari 0,6 persen menjadi 1,0 persen. Kenaikan ini mengindikasikan penguatan daya beli konsumen di negara tesebut. Beberapa analis juga berpendapat kenaikan ini dapat memengaruhi keputusan BOE untuk menentukan suku bunga acuan mereka dalam waktu dekat. (The Independent)
  • Bank sentral Jepang mempertahankan suku bunga acuan merek pada level -0,10 persen. Bank of Japan tetap menjaga view positif dari ekonomi Jepang sebagai keyakinan bahwa perbaikan ekonomi akan membuat inflasi mencapai target sebesar 2 persen secara alami tanpa adanya stimulus. (CNBC)

BERITA DOMESTIK

  • Pada 20 September 2017, Bank Indonesia menerbitkan Peraturan Anggota Dewan Gubernur No.19/10/PADG/2017 tentang Gerbang Pembayaran Nasional/National Payment Gateway (PADG GPN). PADG GPN merupakan aturan pelaksanaan dari Peraturan Bank Indonesia No.19/8/PBI/2017 tentang GPN. PADG GPN menetapkan mekanisme bagi seluruh pihak, baik penyelenggara GPN maupun pihak-pihak yang terhubung dengan GPN. Aturan ini disusun untuk memastikan tercapainya sasaran GPN yaitu menciptakan ekosistem interkoneksi (saling terhubung), interoperabel (saling dapat beroperasi) dan mampu melaksanakan pemrosesan transaksi pembayaran ritel domestik yang aman, efisien, andal, dan lancar.  Secara garis besar, terdapat beberapa hal yang diatur dalam PADG GPN, yaitu prosedur penetapan kelembagaan GPN, mekanisme kerja sama, branding nasional serta skema harga. (Bank Indonesia)
  • Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mempertimbangkan untuk menghapus ketentuan pembatasan maksimum (capping) bunga deposito. Selama ini, Bank Umum Kelompok Usaha (BUKU) 3 dan 4 terkena aturan capping bunga deposito maksimal 100 basis poin (bps) di atas suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) untuk bank BUKU 4 dan maksimum 75 bps di atas BI rate untuk bank BUKU 3. Aturan saat ini masih menggunakan instrumen BI rate bertenor 12 bulan. OJK menganggap capping bunga deposito tidak lagi diperlukan karena suku bunga simpanan di industri bank umum sudah turun. (CNNIndonesia)
  • Menteri BUMN menargetkan pembentukan gabungan usaha (holding) BUMN sektor tambang serta sektor minyak dan gas (Migas) selesai sebelum akhir 2017. Setelah dua holding tersebut selanjutnya akan dilanjutkan dengan pembentukan holding lainnya pada 2018 seperti holding BUMN jasa keuangan, holding BUMN konstruksi, holding BUMN jalan tol, dan holding BUMN perumahan. Pembentukan holding BUMN diharapkan dapat mendorong kinerja BUMN karena akan memacu efisiensi bisnis dan operasional. Melalui holding BUMN tersebut juga bisa memperbesar tingkat leverage, termasuk kapasitas produksi yang lebih besar dari sebelumnya. (AntaraNews)

Sumber Data: Bloomberg, WEC, Bank Indonesia, Bisnis Indonesia, Reuters, FT, CNN Indonesia, CNBC, Investor Daily, Ipot News, BBC, Kompas, Antara News, Kontan.

Weekly Update : 11-09-2017 s.d 17-09-2017 | Download File :

 

 

“Optimisme masih mewarnai ekspektasi pasar atas data perekonomian global di tengah tekanan geopolitik dan bencana badai yang menerpa AS”

Perekonomian Negara Maju

Penjualan ritel AS mengalami kontraksi sebesar 2 persen pada bulan Agustus, lebih rendah dibandingkan kinerja bulan sebelumnya yang tumbuh 3 persen dan merupakan penurunan terdalam sejak tahun 2009. Tekanan terhadap sektor ritel AS diperkirakan merupakan dampak dari Badai Harvey yang melanda Texas pada pekan terakhir Agustus 2017. Sementara itu, Departemen Tenaga Kerja AS menyatakan Inflasi AS tercatat naik dari 1,7 persen yoy pada bulan Juli 2017 menjadi 1,9 persen yoy pada bulan Agustus yang didorong oleh peningkatan biaya gas dan biaya penyewaan.

Bank of England memutuskan untuk mempertahankan tingkat suku bunga acuannya pada level 0,25 persen. Namun, BoE masih membuka kemungkinan untuk menaikkan tingkat suku bunga acuannya di bulan November untuk memperbaiki tekanan fluktuasi harga dan pertumbuhan upah yang lambat.

Inflasi Inggris pada bulan Agustus naik menjadi 2,9 persen yoy dari 2,6 persen pada bulan sebelumnya. Kenaikan ini terjadi akibat penurunan nilai mata uang negara tersebut sejak Brexit yang memicu kenaikan harga barang dan jasa. Kenaikan inflasi juga didorong oleh harga bahan bakar yang semakin mahal.

Dari pasar tenaga kerja, tingkat pengangguran Inggris pada bulan Juli sedikit menurun menjadi 4,3 persen dari bulan sebelumnya yang sebesar 4,4 persen. Tingkat pengangguran tersebut merupakan yang terendah dalam 45 tahun.

Tingkat pengangguran Australia tetap berada pada level 5,6 persen. Pada bulan Agustus sendiri, tercipta sebanyak 54.000 lapangan pekerjaan yang didominasi oleh pekerjaan waktu penuh.

Perekonomian Negara Berkembang

Surplus neraca perdagangan Tiongkok menurun pada bulan Agustus dari USD46,73 miliar menjadi USD41,99 miliar. Penurunan surplus ini terjadi akibat penurunan aktivitas ekspor Tiongkok. Pada bulan yang sama, aktivitas industri Tiongkok mengalami penurunan di mana industrial production Tiongkok turun dari 6,4 persen pada bulan sebelumnya menjadi 6,0 persen. Kondisi ini didorong oleh output sektor industri dan penjualan ritel yang melambat. Di sisi lain, rilis data the National Bureau of Statistics menunjukkan inflasi Tiongkok tercatat sebesar 1,8 persen pada bulan Agustus, lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 1,4 persen. Kenaikan ini terutama disebabkan oleh peningkatan harga telur dan sayuran akibat faktor cuaca. Kondisi ini dipandang oleh investor sebagai peluang bagi pembuat kebijakan moneter di Tiongkok untuk melakukan relaksasi sebelum akhir tahun.

Penjualan ritel di Brazil pada bulan Juli tercatat stagnan secara mom namun tumbuh 3,1 persen secara yoy, besaran ini lebih tinggi dari pertumbuhan pada bulan sebelumnya yang sebesar 2,9 persen yoy. Kondisi ini dipengaruhi oleh pengenaan pajak atas bahan bakar yang menyebabkan perubahan pada pola pengeluaran dari konsumen.

Perekonomian Nasional

Cadangan devisa Indonesia pada Agustus 2017 berada di level USD128,8 miliar, lebih tinggi dibandingkan dengan posisi bulan Juli 2017 yang sebesar USD127,8 miliar. Peningkatan tersebut terutama dipengaruhi oleh penerimaan devisa yang berasal dari penerimaan pajak dan devisa hasil ekspor migas bagian Pemerintah serta hasil lelang Surat Berharga Bank Indonesia (SBBI) valas. Penerimaan devisa tersebut melampaui kebutuhan devisa terutama untuk pembayaran utang luar negeri Pemerintah dan SBBI valas jatuh tempo.

Penjualan eceran pada bulan Juli 2017 menurun dibandingkan bulan sebelumnya sejalan dengan kembali normalnya pola konsumsi masyarakat pasca Ramadhan dan Idul Fitri. Tingkat pertumbuhan penjualan eceran Juli 2017 turun menjadi 3,3 persen yoy dari bulan sebelumnya yang tumbuh 6,3 persen. Penurunan pertumbuhan penjualan ritel terjadi baik pada kelompok makanan maupun kelompok non makanan. Secara regional, penurunan pertumbuhan terjadi di beberapa kota seperti Semarang, Denpasar, dan Manado.

Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menurunkan Tingkat Bunga Penjaminan simpanan dalam Rupiah di Bank Umum dan Bank Perkreditan Rakyat sebesar 25 bps yang masing-masing menjadi 6,00 persen dan 8,5 persen, namun untuk Tingkat Bunga Penjaminan simpanan dalam valuta asing tetap dipertahankan pada level 0,75 persen. Keputusan ini berlaku untuk periode 15 September 2017 sampai dengan 15 Januari  2018. Penyesuaian ini dilakukan dengan mempertimbangkan perkembangan suku bunga simpanan bank benchmark LPS yang menunjukkan tren penurunan serta adanya pelonggaran kebijakan moneter oleh Bank Indonesia (BI).

Neraca perdagangan Indonesia pada bulan Agustus membukukan surplus USD1,72 miliar, membaik dibandingkan kinerja bulan sebelumnya yang mengalami defisit USD0,27 miliar. Surplus tersebut didukung oleh peningkatan surplus neraca perdagangan nonmigas yang lebih besar dari peningkatan defisit neraca perdagangan migas. Secara kumulatif, pada periode Januari  s.d. Agustus 2017 surplus neraca perdagangan tercatat di level USD9,11 miliar, lebih tinggi dibandingkan surplus pada periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar USD5,13 miliar.

Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada akhir Juli 2017 tercatat sebesar USD339,9 miliar, tumbuh 3,9 persen secara yoy. Berdasarkan kelompok peminjam, pertumbuhan tahunan ULN sektor swasta mengalami penurunan sementara ULN sektor publik mengalami peningkatan. ULN sektor swasta tercatat di level USD165,5 miliar (48,7 persen dari total ULN) atau turun 1,2 persen yoy, lebih dalam dibandingkan dengan penurunan pada Juni 2017 yang sebesar 0,7 persen yoy. Sementara itu, posisi ULN sektor publik pada Juli 2017 tercatat sebesar USD174,3 miliar (51,3 persen dari total ULN) atau tumbuh 9,2 persen yoy, lebih tinggi dari 7,3 persen yoy pada bulan sebelumnya. Berdasarkan jangka waktu, ULN jangka panjang tumbuh terkendali sementara pertumbuhan ULN jangka pendek tercatat mengalami penurunan. ULN jangka panjang tumbuh 2,6 persen yoy pada Juli 2017, sedikit meningkat dibandingkan dengan pertumbuhan bulan sebelumnya yang sebesar 2,0 persen yoy. Sementara itu, ULN berjangka pendek tumbuh 12,6 persen yoy, lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 14,3 persen yoy.  

Perkembangan Komoditas Global

Harga minyak mentah global pekan ini kembali menguat di tengah meredanya badai yang melanda AS. Harga batu bara juga mengalami penguatan setelah adanya sinyal meningkatnya permintaan dari India dan Tiongkok yang menaikkan konsumsi listrik yang mengandalkan batubara. Harga emas mengalami pelemahan akibat data ekonomi AS yang menunjukkan hasil positif. Hal ini membuat pelaku pasar menilai akan adanya peluang kenaikan suku bunga The Fed meningkat. Dari sisi komoditas perkebunan, harga CPO menguat didukung oleh kenaikan permintaan minyak sawit mentah.

Perkembangan Sektor Keuangan

Indeks global pada perdagangan akhir pekan ditutup bervariasi, sejalan dengan pergerakan nilai tukar global terhadap Dolar AS, dipengaruhi oleh rilis data laporan ekonomi dan keuangan serta perkembangan geopolitik global. Dari pasar keuangan domestik, IHSG tercatat mengalami penguatan mingguan sebesar 0,26 persen dan ditutup pada level 5.872,39 di tengah tekanan jual oleh investor non residen yang kembali mencatatkan jual bersih sebesar Rp1,66 triliun dalam sepekan dan secara ytd mencatatkan net sell  sebesar Rp7,69 triliun. Nilai tukar Rupiah melemah 0,42 persen secara mingguan, berada di level Rp13.240 per USD. Di tengah pelemahan tersebut, tekanan terhadap nilai tukar Rupiah di sepanjang pekan relatif terjaga sebagaimana tercermin dari perkembangan spread harian antara nilai spot dan non deliverable forward 1 bulan.

Dari pasar SBN terpantau adanya sedikit tekanan di mana yield SUN seri benchmark mengalami kenaikan sebesar 6 s.d. 17 bps selama sepekan. Di tengah tekanan terhadap pasar SBN, berdasarkan data setelmen BI per 14 September 2017 menunjukkan minat beli investor non residen masih terjaga. Kepemilikan nonresiden atas SBN tercatat sebesar ke Rp816,94 T (40,31 persen) atau secara nominal naik Rp25,42 triliun dibandingkan posisi pada 7 September 2017 yang sebesar Rp791,52 T (39,08 persen). Kepemilikan non residen naik Rp151,13 T (22,70 persen) secara ytd dan naik Rp31,8 T (4,05 persen) secara mtd.

ISU UTAMA: Neraca Perdagangan Agustus 2017 Mencatatkan Surplus

  • Neraca perdagangan Indonesia pada bulan Agustus 2017 mencatatkan surplus sebesar USD1,72 miliar.
  • Dibanding bulan sebelumnya, nilai ekspor mengalami kenaikan, sementara nilai impor mengalami penurunan.
  • Namun, berdasarkan penggunaan, impor bahan baku/penolong, barang konsumsi, dan barang modal masih mengalami peningkatan.
  • Jawa Barat menjadi pengekspor terbesar, sementara Tiongkok menjadi negara pemasok impor terbesar.

Neraca perdagangan Agustus 2017

Setelah mengalami defisit sebesar USD270 juta pada bulan Juli 2017, neraca perdagangan Indonesia pada bulan Agustus 2017 mencatatkan surplus sebesar USD1,72 miliar. Secara tahun berjalan (ytd), neraca perdagangan Januari-Agustus 2017 mencatatkan surplus sebesar USD9,11 miliar atau lebih tinggi dibandingkan dengan Januari-Agustus 2016 yang sebesar USD4,38 miliar. Surplus ini merupakan yang tertinggi sejak 2012 dan secara kumulatif, surplus ini telah mendekati surplus selama setahun pada tahun 2016.

Surplus neraca perdagangan pada bulan Agustus 2017 tersebut terjadi seiring kenaikan nilai ekspor (mom) dan penurunan nilai impor (mom). Nilai ekspor Indonesia pada bulan Agustus 2017 mencapai USD15,21 miliar atau meningkat 11,73 persen dibanding bulan sebelumnya atau meningkat sebesar 9,24 persen dibanding bulan yang sama tahun sebelumnya. Baik ekspor migas maupun nonmigas mengalami kenaikan, masing-masing sebesar 9,61 persen (mom) dan 11,93 persen (mom).

Sementara itu, nilai impor Indonesia pada bulan Agustus 2017 tercatat sebesar USD13,49 miliar atau turun 2,88 persen dibandingkan dengan Juli 2017, tetapi meningkat sebesar 8,89 persen apabila dibandingkan dengan Agustus 2016. Impor migas tercatat meningkat sebesar 10,16 persen (mom) dan impor nonmigas tercatat turun 4,8 persen (mom) dengan penurunan terbesar pada golongan perhiasan dan permata. Di sisi lain, berdasarkan penggunaan, beberapa jenis barang masih mengalami peningkatan impor dengan peningkatan terbesar terjadi pada impor bahan baku/penolong (15,4 persen, ytd), diikuti oleh barang konsumsi (11,8 persen, ytd), dan barang modal (9,1 persen, ytd).

Pengekspor dan pemasok impor

Jawa Barat menjadi provinsi pengekspor terbesar, sementara Tiongkok merupakan negara pemasok impor terbesar. Total ekspor Jawa Barat selama Januari-Agustus 2017 tercatat sebesar USD19,00 miliar (17,46 persen). Provinsi pengekspor terbesar selanjutnya adalah Jawa Timur USD12,13 miliar (11,15 persen) dan Kalimantan Timur  USD11,25  miliar (10,34 persen). Berdasarkan tujuan negaranya, ekspor nonmigas bulan Agustus 2017 terbesar adalah ke Tiongkok (USD1,95 miliar), disusul Amerika Serikat (USD1,61 miliar) dan Jepang (USD1,27 miliar), dengan total kontribusi mencapai 34,64 persen. Sementara itu, ekspor ke Uni Eropa (28 negara) tercatat sebesar USD1,41 miliar.

Dari sisi impor, Tiongkok menjadi pemasok barang impor nonmigas terbesar selama Januari–Agustus 2017 dengan nilai USD21,88 miliar (25,94 persen), diikuti oleh Jepang USD9,69 miliar (11,49 persen), dan Thailand USD6,13 miliar (7,27 persen). Sementara itu, impor nonmigas dari kawasan ASEAN sendiri mencapai 20,54 persen, sementara dari Uni Eropa 9,41 persen.

Ke depan, kinerja neraca perdagangan diperkirakan akan terus membaik seiring dengan perbaikan pertumbuhan ekonomi dunia, terutama Tiongkok dan Amerika Serikat, dan juga perkembangan harga komoditas global yang tetap tinggi. Perkembangan tersebut tentunya akan mendukung kinerja transaksi berjalan dan perbaikan prospek pertumbuhan ekonomi.



Sumber Data: Bloomberg, WEC, Bank Indonesia, Bisnis Indonesia, Reuters, FT, CNN Indonesia, CNBC, Investor Daily, Ipot News, BBC, Kompas, Antara News, Kontan.

 

 

“Optimisme masih mewarnai ekspektasi pasar atas data perekonomian global di tengah tekanan geopolitik dan bencana badai yang menerpa AS”

Perekonomian Negara Maju

Penjualan ritel AS mengalami kontraksi sebesar 2 persen pada bulan Agustus, lebih rendah dibandingkan kinerja bulan sebelumnya yang tumbuh 3 persen dan merupakan penurunan terdalam sejak tahun 2009. Tekanan terhadap sektor ritel AS diperkirakan merupakan dampak dari Badai Harvey yang melanda Texas pada pekan terakhir Agustus 2017. Sementara itu, Departemen Tenaga Kerja AS menyatakan Inflasi AS tercatat naik dari 1,7 persen yoy pada bulan Juli 2017 menjadi 1,9 persen yoy pada bulan Agustus yang didorong oleh peningkatan biaya gas dan biaya penyewaan.

Bank of England memutuskan untuk mempertahankan tingkat suku bunga acuannya pada level 0,25 persen. Namun, BoE masih membuka kemungkinan untuk menaikkan tingkat suku bunga acuannya di bulan November untuk memperbaiki tekanan fluktuasi harga dan pertumbuhan upah yang lambat.

Inflasi Inggris pada bulan Agustus naik menjadi 2,9 persen yoy dari 2,6 persen pada bulan sebelumnya. Kenaikan ini terjadi akibat penurunan nilai mata uang negara tersebut sejak Brexit yang memicu kenaikan harga barang dan jasa. Kenaikan inflasi juga didorong oleh harga bahan bakar yang semakin mahal.

Dari pasar tenaga kerja, tingkat pengangguran Inggris pada bulan Juli sedikit menurun menjadi 4,3 persen dari bulan sebelumnya yang sebesar 4,4 persen. Tingkat pengangguran tersebut merupakan yang terendah dalam 45 tahun.

Tingkat pengangguran Australia tetap berada pada level 5,6 persen. Pada bulan Agustus sendiri, tercipta sebanyak 54.000 lapangan pekerjaan yang didominasi oleh pekerjaan waktu penuh.

Perekonomian Negara Berkembang

Surplus neraca perdagangan Tiongkok menurun pada bulan Agustus dari USD46,73 miliar menjadi USD41,99 miliar. Penurunan surplus ini terjadi akibat penurunan aktivitas ekspor Tiongkok. Pada bulan yang sama, aktivitas industri Tiongkok mengalami penurunan di mana industrial production Tiongkok turun dari 6,4 persen pada bulan sebelumnya menjadi 6,0 persen. Kondisi ini didorong oleh output sektor industri dan penjualan ritel yang melambat. Di sisi lain, rilis data the National Bureau of Statistics menunjukkan inflasi Tiongkok tercatat sebesar 1,8 persen pada bulan Agustus, lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 1,4 persen. Kenaikan ini terutama disebabkan oleh peningkatan harga telur dan sayuran akibat faktor cuaca. Kondisi ini dipandang oleh investor sebagai peluang bagi pembuat kebijakan moneter di Tiongkok untuk melakukan relaksasi sebelum akhir tahun.

Penjualan ritel di Brazil pada bulan Juli tercatat stagnan secara mom namun tumbuh 3,1 persen secara yoy, besaran ini lebih tinggi dari pertumbuhan pada bulan sebelumnya yang sebesar 2,9 persen yoy. Kondisi ini dipengaruhi oleh pengenaan pajak atas bahan bakar yang menyebabkan perubahan pada pola pengeluaran dari konsumen.

Perekonomian Nasional

Cadangan devisa Indonesia pada Agustus 2017 berada di level USD128,8 miliar, lebih tinggi dibandingkan dengan posisi bulan Juli 2017 yang sebesar USD127,8 miliar. Peningkatan tersebut terutama dipengaruhi oleh penerimaan devisa yang berasal dari penerimaan pajak dan devisa hasil ekspor migas bagian Pemerintah serta hasil lelang Surat Berharga Bank Indonesia (SBBI) valas. Penerimaan devisa tersebut melampaui kebutuhan devisa terutama untuk pembayaran utang luar negeri Pemerintah dan SBBI valas jatuh tempo.

Penjualan eceran pada bulan Juli 2017 menurun dibandingkan bulan sebelumnya sejalan dengan kembali normalnya pola konsumsi masyarakat pasca Ramadhan dan Idul Fitri. Tingkat pertumbuhan penjualan eceran Juli 2017 turun menjadi 3,3 persen yoy dari bulan sebelumnya yang tumbuh 6,3 persen. Penurunan pertumbuhan penjualan ritel terjadi baik pada kelompok makanan maupun kelompok non makanan. Secara regional, penurunan pertumbuhan terjadi di beberapa kota seperti Semarang, Denpasar, dan Manado.

Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menurunkan Tingkat Bunga Penjaminan simpanan dalam Rupiah di Bank Umum dan Bank Perkreditan Rakyat sebesar 25 bps yang masing-masing menjadi 6,00 persen dan 8,5 persen, namun untuk Tingkat Bunga Penjaminan simpanan dalam valuta asing tetap dipertahankan pada level 0,75 persen. Keputusan ini berlaku untuk periode 15 September 2017 sampai dengan 15 Januari  2018. Penyesuaian ini dilakukan dengan mempertimbangkan perkembangan suku bunga simpanan bank benchmark LPS yang menunjukkan tren penurunan serta adanya pelonggaran kebijakan moneter oleh Bank Indonesia (BI).

Neraca perdagangan Indonesia pada bulan Agustus membukukan surplus USD1,72 miliar, membaik dibandingkan kinerja bulan sebelumnya yang mengalami defisit USD0,27 miliar. Surplus tersebut didukung oleh peningkatan surplus neraca perdagangan nonmigas yang lebih besar dari peningkatan defisit neraca perdagangan migas. Secara kumulatif, pada periode Januari  s.d. Agustus 2017 surplus neraca perdagangan tercatat di level USD9,11 miliar, lebih tinggi dibandingkan surplus pada periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar USD5,13 miliar.

Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada akhir Juli 2017 tercatat sebesar USD339,9 miliar, tumbuh 3,9 persen secara yoy. Berdasarkan kelompok peminjam, pertumbuhan tahunan ULN sektor swasta mengalami penurunan sementara ULN sektor publik mengalami peningkatan. ULN sektor swasta tercatat di level USD165,5 miliar (48,7 persen dari total ULN) atau turun 1,2 persen yoy, lebih dalam dibandingkan dengan penurunan pada Juni 2017 yang sebesar 0,7 persen yoy. Sementara itu, posisi ULN sektor publik pada Juli 2017 tercatat sebesar USD174,3 miliar (51,3 persen dari total ULN) atau tumbuh 9,2 persen yoy, lebih tinggi dari 7,3 persen yoy pada bulan sebelumnya. Berdasarkan jangka waktu, ULN jangka panjang tumbuh terkendali sementara pertumbuhan ULN jangka pendek tercatat mengalami penurunan. ULN jangka panjang tumbuh 2,6 persen yoy pada Juli 2017, sedikit meningkat dibandingkan dengan pertumbuhan bulan sebelumnya yang sebesar 2,0 persen yoy. Sementara itu, ULN berjangka pendek tumbuh 12,6 persen yoy, lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 14,3 persen yoy.  

Perkembangan Komoditas Global

Harga minyak mentah global pekan ini kembali menguat di tengah meredanya badai yang melanda AS. Harga batu bara juga mengalami penguatan setelah adanya sinyal meningkatnya permintaan dari India dan Tiongkok yang menaikkan konsumsi listrik yang mengandalkan batubara. Harga emas mengalami pelemahan akibat data ekonomi AS yang menunjukkan hasil positif. Hal ini membuat pelaku pasar menilai akan adanya peluang kenaikan suku bunga The Fed meningkat. Dari sisi komoditas perkebunan, harga CPO menguat didukung oleh kenaikan permintaan minyak sawit mentah.

Perkembangan Sektor Keuangan

Indeks global pada perdagangan akhir pekan ditutup bervariasi, sejalan dengan pergerakan nilai tukar global terhadap Dolar AS, dipengaruhi oleh rilis data laporan ekonomi dan keuangan serta perkembangan geopolitik global. Dari pasar keuangan domestik, IHSG tercatat mengalami penguatan mingguan sebesar 0,26 persen dan ditutup pada level 5.872,39 di tengah tekanan jual oleh investor non residen yang kembali mencatatkan jual bersih sebesar Rp1,66 triliun dalam sepekan dan secara ytd mencatatkan net sell  sebesar Rp7,69 triliun. Nilai tukar Rupiah melemah 0,42 persen secara mingguan, berada di level Rp13.240 per USD. Di tengah pelemahan tersebut, tekanan terhadap nilai tukar Rupiah di sepanjang pekan relatif terjaga sebagaimana tercermin dari perkembangan spread harian antara nilai spot dan non deliverable forward 1 bulan.

Dari pasar SBN terpantau adanya sedikit tekanan di mana yield SUN seri benchmark mengalami kenaikan sebesar 6 s.d. 17 bps selama sepekan. Di tengah tekanan terhadap pasar SBN, berdasarkan data setelmen BI per 14 September 2017 menunjukkan minat beli investor non residen masih terjaga. Kepemilikan nonresiden atas SBN tercatat sebesar ke Rp816,94 T (40,31 persen) atau secara nominal naik Rp25,42 triliun dibandingkan posisi pada 7 September 2017 yang sebesar Rp791,52 T (39,08 persen). Kepemilikan non residen naik Rp151,13 T (22,70 persen) secara ytd dan naik Rp31,8 T (4,05 persen) secara mtd.

ISU UTAMA: Neraca Perdagangan Agustus 2017 Mencatatkan Surplus

  • Neraca perdagangan Indonesia pada bulan Agustus 2017 mencatatkan surplus sebesar USD1,72 miliar.
  • Dibanding bulan sebelumnya, nilai ekspor mengalami kenaikan, sementara nilai impor mengalami penurunan.
  • Namun, berdasarkan penggunaan, impor bahan baku/penolong, barang konsumsi, dan barang modal masih mengalami peningkatan.
  • Jawa Barat menjadi pengekspor terbesar, sementara Tiongkok menjadi negara pemasok impor terbesar.

Neraca perdagangan Agustus 2017

Setelah mengalami defisit sebesar USD270 juta pada bulan Juli 2017, neraca perdagangan Indonesia pada bulan Agustus 2017 mencatatkan surplus sebesar USD1,72 miliar. Secara tahun berjalan (ytd), neraca perdagangan Januari-Agustus 2017 mencatatkan surplus sebesar USD9,11 miliar atau lebih tinggi dibandingkan dengan Januari-Agustus 2016 yang sebesar USD4,38 miliar. Surplus ini merupakan yang tertinggi sejak 2012 dan secara kumulatif, surplus ini telah mendekati surplus selama setahun pada tahun 2016.

Surplus neraca perdagangan pada bulan Agustus 2017 tersebut terjadi seiring kenaikan nilai ekspor (mom) dan penurunan nilai impor (mom). Nilai ekspor Indonesia pada bulan Agustus 2017 mencapai USD15,21 miliar atau meningkat 11,73 persen dibanding bulan sebelumnya atau meningkat sebesar 9,24 persen dibanding bulan yang sama tahun sebelumnya. Baik ekspor migas maupun nonmigas mengalami kenaikan, masing-masing sebesar 9,61 persen (mom) dan 11,93 persen (mom).

Sementara itu, nilai impor Indonesia pada bulan Agustus 2017 tercatat sebesar USD13,49 miliar atau turun 2,88 persen dibandingkan dengan Juli 2017, tetapi meningkat sebesar 8,89 persen apabila dibandingkan dengan Agustus 2016. Impor migas tercatat meningkat sebesar 10,16 persen (mom) dan impor nonmigas tercatat turun 4,8 persen (mom) dengan penurunan terbesar pada golongan perhiasan dan permata. Di sisi lain, berdasarkan penggunaan, beberapa jenis barang masih mengalami peningkatan impor dengan peningkatan terbesar terjadi pada impor bahan baku/penolong (15,4 persen, ytd), diikuti oleh barang konsumsi (11,8 persen, ytd), dan barang modal (9,1 persen, ytd).

Pengekspor dan pemasok impor

Jawa Barat menjadi provinsi pengekspor terbesar, sementara Tiongkok merupakan negara pemasok impor terbesar. Total ekspor Jawa Barat selama Januari-Agustus 2017 tercatat sebesar USD19,00 miliar (17,46 persen). Provinsi pengekspor terbesar selanjutnya adalah Jawa Timur USD12,13 miliar (11,15 persen) dan Kalimantan Timur  USD11,25  miliar (10,34 persen). Berdasarkan tujuan negaranya, ekspor nonmigas bulan Agustus 2017 terbesar adalah ke Tiongkok (USD1,95 miliar), disusul Amerika Serikat (USD1,61 miliar) dan Jepang (USD1,27 miliar), dengan total kontribusi mencapai 34,64 persen. Sementara itu, ekspor ke Uni Eropa (28 negara) tercatat sebesar USD1,41 miliar.

Dari sisi impor, Tiongkok menjadi pemasok barang impor nonmigas terbesar selama Januari–Agustus 2017 dengan nilai USD21,88 miliar (25,94 persen), diikuti oleh Jepang USD9,69 miliar (11,49 persen), dan Thailand USD6,13 miliar (7,27 persen). Sementara itu, impor nonmigas dari kawasan ASEAN sendiri mencapai 20,54 persen, sementara dari Uni Eropa 9,41 persen.

Ke depan, kinerja neraca perdagangan diperkirakan akan terus membaik seiring dengan perbaikan pertumbuhan ekonomi dunia, terutama Tiongkok dan Amerika Serikat, dan juga perkembangan harga komoditas global yang tetap tinggi. Perkembangan tersebut tentunya akan mendukung kinerja transaksi berjalan dan perbaikan prospek pertumbuhan ekonomi.


Download Publication
Data Source: Bloomberg, WEC, Bank Indonesia, Bisnis Indonesia, Reuters, FT, CNN Indonesia, CNBC, Investor Daily, Ipot News, BBC, Kompas, Antara News, Kontan.

Briefing Notes Update

Alternative text - include a link to the PDF!


ESELON I KEMENTERIAN KEUANGAN


KONTAK: Jl. Dr. Wahidin No. 1 Gd. R. M. Notohamiprodjo, Jakarta Pusat 10710
email: ikp@fiskal.depkeu.go.id

  Kurs Pajak : KMK Nomor 37/KM.10/2017,   USD : 13,226.00    AUD : 10,591.85    GBP : 17,745.58    SGD : 9,819.87    JPY : 11,959.78    EUR : 15,782.37    CNY : 2,020.92