Daily Update : 26-05-2017 | Download File :

BERITA GLOBAL

  • Bursa saham AS ditutup menguat didorong hasil pertemuan the Fed yang sejalan dengan ekspektasi pasar. The Fed membuka peluang untuk menaikkan suku bunganya apabila perlambatan ekonomi yang terjadi hanya bersifat sementara. Indeks Dow Jones dan S&P 500 ditutup menguat masing-masing sebesar 0,34 persen dan 0,44 persen. (Reuters )
  • Ekonomi UK tumbuh lebih lambat dibanding estimasi awal pada Q1-2017 seiring melambatnya pertumbuhan industri yang berfokus pada konsumen, seperti penjualan ritel dan akomodasi, akibat kenaikan harga yang terus berlanjut. Pertumbuhan ekonomi tercatat sebesar sebesar 0,2 persen qoq atau 2,0 persen secara yoy. (BBC News)
  • Kementerian Perdagangan dan Industri Singapura melaporkan pertumbuhan ekonomi negara tersebut pada Q1-2017 tercatat sebesar 2,7 persen yoy atau sejalan dengan estimasi awal. Pertumbuhan tersebut terutama didorong oleh kenaikan ekspor seiring meningkatnya permintaan global. (CNBC)
  • Inflasi Jepang pada bulan April 2017 tercatat sebesar 0,4 persen yoy dengan inflasi inti sebesar 0,3 persen yoy. Inflasi tersebut ditopang oleh kenaikan harga di sektor energi. (Bloomberg)
  • Lembaga pemeringkat Moody’s menurunkan peringkat kredit Tiongkok dari Aa3 menjadi A1 dan mengubah outlook-nya dari stabil menjadi negatif. Penurunan peringkat ini dipengaruhi beberapa faktor, di antaranya pandangan Moody’s bahwa utang non-finansial Tiongkok akan meningkat dengan cepat dan estimasi terhadap perlambatan ekonomi Tiongkok ke level 5,0 persen beberapa tahun ke depan. (CNBC)

BERITA DOMESTIK

  • Bank Indonesia (BI) memastikan, batas maksimal bunga transaksi kartu kredit akan turun mulai 2 Juni mendatang, yaitu dari 2,95 persen per bulan atau 35,4 persen per tahun menjadi 2,25 persen per bulan atau 27 persen per tahun. Sebagai informasi, per April 2017, BI mencatat jumlah kartu kredit yang beredar mencapai 17,7 juta keping dengan volume transaksi sebesar 26,7 juta transaksi. Adapun nilai transaksi kartu kredit mencapai lebih dari Rp23,41 triliun. (CNN Indonesia)
  • Perolehan laba bank asing sepanjang Q1-2017 turun sebesar 11,56 persen yoy menjadi Rp2,46 triliun. Berdasarkan data Otoritas Jasa keuangan, penurunan laba tersebut didorong oleh penurunan pendapatan bank asing, terutama pendapatan operasional nonbunga akibat penurunan keuntungan bank atas transaksi spot dan derivatif sebesar 30,45 persen menjadi Rp17,17 triliun. Selain itu, penurunan kinerja bank asing juga disebabkan oleh belum pulihnya kondisi perekonomian global dan domestik yang menahan kinerja industri dan korporasi. (CNN Indonesia)
  • Bank Pembangunan Asia (Asian Development Bank/ADB) menilai, perbaikan peringkat kemudahan berusaha (Ease of Doing Business/EoDB) di Indonesia sebanyak 15 peringkat pada tahun lalu belum mencerminkan pemerataan ekonomi. Hal ini terlihat dari masih adanya pemberlakuan izin yang tak memiliki legalitas kuat di beberapa daerah dan pola komunikasi antara pemerintah pusat dan daerah yang masih belum terjalin dengan baik juga menjadi alasan tidak efektifnya implementasi paket kebijakan ekonomi. (CNN Indonesia)

Sumber Data: Bloomberg, WEC, Bank Indonesia, Bisnis Indonesia, Reuters, FT, CNN Indonesia, CNBC, Investor Daily, Ipot News, BBC, Kompas, Antara News, Kontan.

Weekly Update : 15-05-2017 s.d 21-05-2017 | Download File :



“Perekonomian kawasan Eropa dan Jepang menunjukkan perkembangan positif di tengah tekanan politik AS dan rilis data ekonomi Tiongkok yang kurang menggembirakan”

Perekonomian negara maju

Produksi manufaktur AS pada bulan April mencatatkan kenaikan tertinggi dalam tiga tahun terakhir. Hasil ini mengindikasikan bahwa perlambatan ekonomi yang terjadi pada kuartal pertama hanya bersifat sementara dan membuka peluang bagi the Fed untuk kembali menaikkan suku bunganya. Kenaikan produksi tersebut terutama didorong oleh rebound pada produksi kendaraan bermotor dan suku cadangnya. Di sisi lain, pasar properti AS menunjukkan perlambatan di bulan April dengan pertumbuhan housing start dan building permit yang terkontraksi. Di sisi lain, permintaan terhadap perumahan tetap stabil dan diperkirakan akan terus meningkat seiring stabilnya sektor ketenagakerjaan dan keuangan, serta tingkat kepercayaan kontraktor perumahan yang berada pada level tertinggi kedua sejak tahun 2005.

Ekonomi kawasan Eropa pada Q1-2017 tumbuh 1,0 persen qoq didukung oleh perbaikan ekonomi di beberapa negara seperti Portugal, Spanyol, dan Jerman. Sejalan dengan pertumbuhan ekonomi, inflasi di kawasan mencatatkan rebound pada bulan April meskipun masih berada sedikit di bawah target bank sentral yang sebesar 2,0 persen. Kenaikan inflasi ditopang oleh tingginya biaya transportasi, paket liburan, serta kenaikan harga mentah, sementara harga pakaian dan biaya telekomunikasi mengalami penurunan.

Inflasi UK kembali meningkat di bulan April 2017, tertinggi sejak September 2013. Tingginya inflasi terutama dipicu oleh perayaan Paskah yang mendorong kenaikan biaya transportasi udara hingga mencapai 18,6 persen mom. Selain itu, kenaikan harga pakaian, bea keluar, dan tarif listrik juga menjadi penyumbang kenaikan inflasi di tengah harga bahan bakar yang mengalami penurunan.

Ekonomi Jepang berekspansi di Q1-2017 dengan mencatatkan pertumbuhan sebesar 2,2 persen yoy, lebih tinggi dari proyeksi para analis yang sebesar 1,7 persen. Pertumbuhan tersebut terutama didorong oleh penguatan ekspor dan rebound permintaan domestik.

Perekonomian negara berkembang

Rilis data ekonomi Tiongkok bulan April mengindikasikan perlambatan aktivitas ekonomi. Hal ini tercermin dari pertumbuhan produksi industri dan penjualan ritel yang lebih lambat dibanding bulan sebelumnya, sementara pertumbuhan investasi fixed-assets mencatatkan angka yang sama dengan bulan sebelumnya. Sebelumnya, para analis memperkirakan ekonomi Tiongkok tumbuh moderat di tahun 2017 seiring permintaan domestik yang tidak bergerak naik dan permasalahan utang berisiko yang tengah diselesaikan oleh Pemerintah setempat.

Seiring dengan kinerja yang cukup sehat di beberapa sektor, seperti minyak, tekstil, mesin, dan perhiasan, pertumbuhan ekspor India pada bulan April mampu mencapai 19,77 persen. Sementara itu, impor India tumbuh 49,07 persen didorong oleh melonjaknya impor emas di negara tersebut. Dengan hasil tersebut, defisit neraca perdagangan India pada bulan April tercatat berada pada level tertingginya dalam 29 bulan terakhir.

Berdasarkan data indeks aktivitas ekonomi yang disusun oleh bank sentral Brazil, ekonomi Brazil tumbuh sebesar 1,2 persen yoy pada Q1-2017. Indeks aktivitas ekonomi merupakan sebuah proxy yang mengonfirmasi proyeksi analis terhadap pertumbuhan ekonomi Brazil. Namun, upaya Brazil untuk keluar dari resesi kembali menemui hambatan setelah Presiden Michel Temer tersangkut skandal korupsi yang terungkap pekan ini.

Perekonomian nasional

Surplus neraca perdagangan Indonesia pada bulan April 2017 tercatat sebesar USD1,24 miliar, lebih rendah dibandingkan dengan surplus Maret 2017 yang sebesar USD1,40 miliar. Surplus yang lebih rendah tersebut dipengaruhi oleh turunnya surplus neraca perdagangan nonmigas  yang diakibatkan oleh penurunan ekspor lemak dan minyak hewan, bahan bakar mineral, karet dan barang dari karet, mesin/peralatan listrik, dan pakaian jadi bukan rajutan. Di sisi migas, defisit neraca perdagangan migas mengalami penurunan sejalan dengan penurunan impor migas yang melebihi penurunan ekspor migas.

Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada Q1-2017 berada pada posisi USD326,3 miliar, tumbuh 2,9 persen yoy atau sedikit meningkat dibanding Q4-2016 yang sebesar 2,0 persen yoy. Berdasarkan kelompok peminjam, peningkatan ULN tersebut dipengaruhi oleh lebih kecilnya kontraksi pertumbuhan ULN swasta pada Q1-2017, sementara ULN sektor publik tumbuh melambat dibanding kuartal sebelumnya. Dengan perkembangan tersebut, rasio ULN Indonesia terhadap produk domestik bruto (PDB) pada akhir Q1-2017 tercatat relatif stabil di kisaran 34 persen, namun menurun jika dibandingkan dengan Q1-2016 yang sebesar 37 persen.

Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan BI 7-day Reverse Repo Rate tetap sebesar 4,75 persen dengan suku bunga Deposit Facility dan Lending Facility masing-masing tetap sebesar 4,00 persen dan 5,50 persen, berlaku efektif sejak 19 Mei 2017. BI mengungkapkan bahwa pihaknya tetap mewaspadai sejumlah risiko, baik yang bersumber dari global maupun domestik. Dari sisi global, perkembangan kebijakan di AS dan geopolitik, khususnya di Semenanjung Korea merupakan sejumlah risiko yang perlu tetap diwaspadai. Sementara itu, beberapa risiko yang tetap perlu diwaspadai dari sisi domestik adalah dampak penyesuaian administered prices terhadap inflasi serta berlanjutnya konsolidasi korporasi dan perbankan.

Perkembangan komoditas global

Harga minyak mentah global pada pekan ini mengalami penguatan mingguan didorong oleh ekspektasi bahwa OPEC dan negara pengekspor minyak lainnya akan memperpanjang kesepakatan pemangkasan produksi minyak. OPEC dan negara penghasil minyak dijadwalkan akan mengadakan pertemuan pada tanggal 25 Mei 2017 mendatang dan diperkirakan akan menyepakati perpanjangan pemangkasan produksi 1,8 juta barel per hari s.d. akhir Maret 2018. Seiring menguatnya harga minyak global, harga komoditas batubara mengalami penguatan mingguan di tengah peningkatan produksi Tiongkok. Penguatan ditopang oleh sentimen positif atas rencana otoritas Tiongkok yang akan melakukan intervensi melalui pembatasan hari kerja dari 330 hari menjadi 270 hari jika harga batu bara domestik turun di bawah USD77 per ton. Harga emas kembali mencatatkan penguatan mingguan didukung oleh meningkatnya permintaan emas sebagai safe haven di tengah meningkatnya tekanan politik AS. Sementara itu, harga nikel mencatatkan penguatan mingguan walaupun terjadi peningkatan produksi oleh produsen utama nikel pasca kebijakan kelonggaran bagi tambang nikel di Filipina untuk menambah pasokan mereka. Dari komoditas perkebunan, harga CPO mengalami penguatan didorong oleh kenaikan harga miyak kedelai.

Perkembangan sektor keuangan

Indeks global pada perdagangan akhir pekan lalu ditutup bervariasi yang dipengaruhi oleh laporan ekonomi dan laporan keuangan beberapa emiten serta turunnya ekspektasi investor atas implementasi kebijakan pemotongan pajak dan kebijakan pro bisnis lainnya akibat meningkatnya tekanan politik di AS. Tekanan meningkat pasca pemecatan direktur FBI oleh Trump yang dinilai sebagai upaya intervensi Trump terhadap penyelidikan FBI serta komunikasi Trump dengan Menteri Luar Negeri Rusia yang membahas informasi rahasia terkait operasi Islamic State. Di tengah perkembangan indeks global, nilai tukar global terhadap Dolar AS ditutup sebagian besar menguat.

Dari pasar keuangan domestik, IHSG mencatatkan penguatan mingguan dan ditutup pada level 5.791,88 atau menguat 2,06 persen wow. Pada pekan ini, net buy oleh investor nonresiden tercatat sebesar Rp5,60 triliun dan secara ytd investor nonresiden mencatatkan net buy sebesar Rp27,92 triliun. Kenaikan indeks pekan ini cukup signifikan didorong upgrade rating oleh S&P.

Nilai tukar Rupiah mencatatkan penguatan dan ditutup pada level Rp13.325 per dolar AS. penguatan tersebut sejalan dengan penguatan mata uang global dan kawasan kecuali Rupee. Tekanan terhadap nilai tukar Rupiah relatif terjaga di sepanjang pekan dan tercatat menguat cukup signifikan di akhir pekan didorong oleh rilis peringkat utang Indonesia oleh S&P.

Dari pasar SBN, pergerakan yield SUN seri benchmark mengalami pergerakan bervariasi. Seri FR0059 dan FR0072 mengalami kenaikan 13 s.d. 22 bps sedangkan seri FR0069 dan FR0072 mengalami penurunan sebesar 20 s.d. 41 bps dalam sepekan. Berdasarkan data setelmen Bank Indonesia per tanggal 18 Mei 2017, kepemilikan nonresiden atas SBN tercatat sebesar Rp742,65 T (38,73%), atau secara nominal naik sebesar Rp2,54 T dibandingkan dengan pekan sebelumnya (12/05) yang sebesar Rp740,11 T (38,83%). Secara ytd kepemilikan nonresiden naik Rp76,84 triliun dan turun Rp3,17 triliun secara mtd.

ISU UTAMA: Performa Fiskal Membuat Indonesia Mendapatkan Investment Grade dari S&P

  • Indonesia akhirnya mendapatkan kenaikan rating dari Standard and Poors (S&P) dari BB+ menjadi BBB- (outlook stable), atau peringkat Investment Grade.
  • Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) memberikan opini wajar tanpa pengecualian (WTP) atas Laporan Keuangan Pemerintah Pusat 2016.
  • Pemerintah telah menyampaikan dokumen Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-pokok Kebijakan Fiskal tahun anggaran 2018 kepada Dewan Perwakilan Rakyat.

Kenaikan rating dari S&P

Pada tanggal 19 Mei 2017, Indonesia mendapatkan kenaikan rating dari Standard and Poors (S&P) dari BB+ menjadi BBB- (outlook stable), atau peringkat Investment Grade. Langkah ini menyusul pemberian Investment Grade dari lembaga pemeringkat lain yang sudah terjadi sejak beberapa tahun lalu: Moody’s (2012), Fitch (2011), JCRA (2010), R&I (2012).

Dalam rilisnya, S&P menyatakan bahwa faktor utama yang mendorong peningkatan rating dan pemberian investment grade ini adalah adanya langkah pemerintah yang kredibel di dalam mengambil kebijakan fiskal yang efektif di tengah sisi eksternal yang mengalami tekanan. APBN yang lebih realistis telah membatasi kemungkinan pemburukan defisit ke depan secara signifikan, sehingga risio fiskal berkurang. Selain itu, membaiknya performa fiskal juga tak terlepas dari program amnesti pajak beberapa waktu lalu. Seiring kebijakan fiskal yang kredibel, disiplin fiskal tercipta, sehingga tingkat defisit maupun utang Indonesia akan terus berada pada level yang aman.

Investment grade yang diperoleh Indonesia dari semua lembaga rating, dengan 4 diantaranya sudah memberikan positive outlook, semakin menggarisbawahi kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang sehat. Hal ini menjadi modal penting untuk menciptakan persepsi yang positif bagi investor, sehingga aliran investasi baik dalam maupun luar negeri akan terus meningkat. Kondisi ini diharapkan akan berujung pada penurunan biaya utang serta pertumbuhan yang terus meningkat dengan didorong oleh akselerasi investasi.

Opini WTP

Sebelumnya, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) memberikan opini wajar tanpa pengecualian (WTP) atas Laporan Keuangan Pemerintah Pusat 2016. Hasil ini merupakan yang pertama kali sejak 2004 atau 12 tahun yang lalu.  Pada LKPP 2015, Pemerintah mendapatkan opini wajar dengan pengecualian (WDP). Beberapa hal yang mencjadi catatan BPK pada LKPP 2015 antara lain adanya perbedaan antara realisasi belanja negara yang dilaporkan kementerian dan lembaga dan yang dicatat Bendahara Umum Negara. Capain ini menunjukkan bahwa pemerintah sebagai otoritas fiskal terus berbenah dan hal ini pastinya tidak lepas dari pengamatan S&P dalam melakukan asesmen sebelumnya.

Kerangka ekonomi makro dan pokok-pokok kebijakan fiskal 2018

Sesuai dengan Undang-undang Keuangan Negara No 17 tahun 2003, Pemerintah pada tanggal 19 Mei 2017 telah menyampaikan dokumen Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-pokok Kebijakan Fiskal tahun anggaran 2018 kepada Dewan Perwakilan Rakyat. Tema kebijakan fiskal yang disampaikan adalah: “Memantapkan Pengelolaan Fiskal untuk Mengakselerasi Pertumbuhan yang Berkeadilan”. Pokok-pokok kebijakan fiskal yang disusun oleh Pemerintah ditujukan agar kebijakan fiskal dapat diarahkan secara lebih produktif, efisien, berdaya tahan dan mampu mengendalikan risiko baik jangka pendek dan jangka panjang. Kebijakan fiskal yang disusun tersebut dimaksudkan untuk mengatasi beberapa tantangan pembangunan, antara lain: (1) Upaya pengurangan kemiskinan dan kesenjangan, (2) mendorong pengurangan pengangguran dan meningkatkan produktivitas, (3) meningkatkan kapasitas fiskal, dan (4) menjaga stabilitas makro ekonomi.

Beberapa sasaran yang ingin dicapai pada tahun 2018 antara lain pertumbuhan ekonomi di kisaran 5,4– 6,1 persen; tingkat pengangguran terbuka ditekan ke kisaran 5,1 – 5,4 persen; angka kemiskinan 9 – 10 persen; Rasio Gini 0,38; dan Indeks Pembangunan Manusia 71,38. Melihat perkembangan berbagai indikator seperti peningkatan penjualan eceran dan optimisme konsumen, target pertumbuhan ekonomi di kisaran 5,4– 6,1 persen merupakan angka yang realistis.


Sumber Data: Bloomberg, WEC, Bank Indonesia, Bisnis Indonesia, Reuters, FT, CNN Indonesia, CNBC, Investor Daily, Ipot News, BBC, Kompas, Antara News, Kontan.



“Perekonomian kawasan Eropa dan Jepang menunjukkan perkembangan positif di tengah tekanan politik AS dan rilis data ekonomi Tiongkok yang kurang menggembirakan”

Perekonomian negara maju

Produksi manufaktur AS pada bulan April mencatatkan kenaikan tertinggi dalam tiga tahun terakhir. Hasil ini mengindikasikan bahwa perlambatan ekonomi yang terjadi pada kuartal pertama hanya bersifat sementara dan membuka peluang bagi the Fed untuk kembali menaikkan suku bunganya. Kenaikan produksi tersebut terutama didorong oleh rebound pada produksi kendaraan bermotor dan suku cadangnya. Di sisi lain, pasar properti AS menunjukkan perlambatan di bulan April dengan pertumbuhan housing start dan building permit yang terkontraksi. Di sisi lain, permintaan terhadap perumahan tetap stabil dan diperkirakan akan terus meningkat seiring stabilnya sektor ketenagakerjaan dan keuangan, serta tingkat kepercayaan kontraktor perumahan yang berada pada level tertinggi kedua sejak tahun 2005.

Ekonomi kawasan Eropa pada Q1-2017 tumbuh 1,0 persen qoq didukung oleh perbaikan ekonomi di beberapa negara seperti Portugal, Spanyol, dan Jerman. Sejalan dengan pertumbuhan ekonomi, inflasi di kawasan mencatatkan rebound pada bulan April meskipun masih berada sedikit di bawah target bank sentral yang sebesar 2,0 persen. Kenaikan inflasi ditopang oleh tingginya biaya transportasi, paket liburan, serta kenaikan harga mentah, sementara harga pakaian dan biaya telekomunikasi mengalami penurunan.

Inflasi UK kembali meningkat di bulan April 2017, tertinggi sejak September 2013. Tingginya inflasi terutama dipicu oleh perayaan Paskah yang mendorong kenaikan biaya transportasi udara hingga mencapai 18,6 persen mom. Selain itu, kenaikan harga pakaian, bea keluar, dan tarif listrik juga menjadi penyumbang kenaikan inflasi di tengah harga bahan bakar yang mengalami penurunan.

Ekonomi Jepang berekspansi di Q1-2017 dengan mencatatkan pertumbuhan sebesar 2,2 persen yoy, lebih tinggi dari proyeksi para analis yang sebesar 1,7 persen. Pertumbuhan tersebut terutama didorong oleh penguatan ekspor dan rebound permintaan domestik.

Perekonomian negara berkembang

Rilis data ekonomi Tiongkok bulan April mengindikasikan perlambatan aktivitas ekonomi. Hal ini tercermin dari pertumbuhan produksi industri dan penjualan ritel yang lebih lambat dibanding bulan sebelumnya, sementara pertumbuhan investasi fixed-assets mencatatkan angka yang sama dengan bulan sebelumnya. Sebelumnya, para analis memperkirakan ekonomi Tiongkok tumbuh moderat di tahun 2017 seiring permintaan domestik yang tidak bergerak naik dan permasalahan utang berisiko yang tengah diselesaikan oleh Pemerintah setempat.

Seiring dengan kinerja yang cukup sehat di beberapa sektor, seperti minyak, tekstil, mesin, dan perhiasan, pertumbuhan ekspor India pada bulan April mampu mencapai 19,77 persen. Sementara itu, impor India tumbuh 49,07 persen didorong oleh melonjaknya impor emas di negara tersebut. Dengan hasil tersebut, defisit neraca perdagangan India pada bulan April tercatat berada pada level tertingginya dalam 29 bulan terakhir.

Berdasarkan data indeks aktivitas ekonomi yang disusun oleh bank sentral Brazil, ekonomi Brazil tumbuh sebesar 1,2 persen yoy pada Q1-2017. Indeks aktivitas ekonomi merupakan sebuah proxy yang mengonfirmasi proyeksi analis terhadap pertumbuhan ekonomi Brazil. Namun, upaya Brazil untuk keluar dari resesi kembali menemui hambatan setelah Presiden Michel Temer tersangkut skandal korupsi yang terungkap pekan ini.

Perekonomian nasional

Surplus neraca perdagangan Indonesia pada bulan April 2017 tercatat sebesar USD1,24 miliar, lebih rendah dibandingkan dengan surplus Maret 2017 yang sebesar USD1,40 miliar. Surplus yang lebih rendah tersebut dipengaruhi oleh turunnya surplus neraca perdagangan nonmigas  yang diakibatkan oleh penurunan ekspor lemak dan minyak hewan, bahan bakar mineral, karet dan barang dari karet, mesin/peralatan listrik, dan pakaian jadi bukan rajutan. Di sisi migas, defisit neraca perdagangan migas mengalami penurunan sejalan dengan penurunan impor migas yang melebihi penurunan ekspor migas.

Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada Q1-2017 berada pada posisi USD326,3 miliar, tumbuh 2,9 persen yoy atau sedikit meningkat dibanding Q4-2016 yang sebesar 2,0 persen yoy. Berdasarkan kelompok peminjam, peningkatan ULN tersebut dipengaruhi oleh lebih kecilnya kontraksi pertumbuhan ULN swasta pada Q1-2017, sementara ULN sektor publik tumbuh melambat dibanding kuartal sebelumnya. Dengan perkembangan tersebut, rasio ULN Indonesia terhadap produk domestik bruto (PDB) pada akhir Q1-2017 tercatat relatif stabil di kisaran 34 persen, namun menurun jika dibandingkan dengan Q1-2016 yang sebesar 37 persen.

Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan BI 7-day Reverse Repo Rate tetap sebesar 4,75 persen dengan suku bunga Deposit Facility dan Lending Facility masing-masing tetap sebesar 4,00 persen dan 5,50 persen, berlaku efektif sejak 19 Mei 2017. BI mengungkapkan bahwa pihaknya tetap mewaspadai sejumlah risiko, baik yang bersumber dari global maupun domestik. Dari sisi global, perkembangan kebijakan di AS dan geopolitik, khususnya di Semenanjung Korea merupakan sejumlah risiko yang perlu tetap diwaspadai. Sementara itu, beberapa risiko yang tetap perlu diwaspadai dari sisi domestik adalah dampak penyesuaian administered prices terhadap inflasi serta berlanjutnya konsolidasi korporasi dan perbankan.

Perkembangan komoditas global

Harga minyak mentah global pada pekan ini mengalami penguatan mingguan didorong oleh ekspektasi bahwa OPEC dan negara pengekspor minyak lainnya akan memperpanjang kesepakatan pemangkasan produksi minyak. OPEC dan negara penghasil minyak dijadwalkan akan mengadakan pertemuan pada tanggal 25 Mei 2017 mendatang dan diperkirakan akan menyepakati perpanjangan pemangkasan produksi 1,8 juta barel per hari s.d. akhir Maret 2018. Seiring menguatnya harga minyak global, harga komoditas batubara mengalami penguatan mingguan di tengah peningkatan produksi Tiongkok. Penguatan ditopang oleh sentimen positif atas rencana otoritas Tiongkok yang akan melakukan intervensi melalui pembatasan hari kerja dari 330 hari menjadi 270 hari jika harga batu bara domestik turun di bawah USD77 per ton. Harga emas kembali mencatatkan penguatan mingguan didukung oleh meningkatnya permintaan emas sebagai safe haven di tengah meningkatnya tekanan politik AS. Sementara itu, harga nikel mencatatkan penguatan mingguan walaupun terjadi peningkatan produksi oleh produsen utama nikel pasca kebijakan kelonggaran bagi tambang nikel di Filipina untuk menambah pasokan mereka. Dari komoditas perkebunan, harga CPO mengalami penguatan didorong oleh kenaikan harga miyak kedelai.

Perkembangan sektor keuangan

Indeks global pada perdagangan akhir pekan lalu ditutup bervariasi yang dipengaruhi oleh laporan ekonomi dan laporan keuangan beberapa emiten serta turunnya ekspektasi investor atas implementasi kebijakan pemotongan pajak dan kebijakan pro bisnis lainnya akibat meningkatnya tekanan politik di AS. Tekanan meningkat pasca pemecatan direktur FBI oleh Trump yang dinilai sebagai upaya intervensi Trump terhadap penyelidikan FBI serta komunikasi Trump dengan Menteri Luar Negeri Rusia yang membahas informasi rahasia terkait operasi Islamic State. Di tengah perkembangan indeks global, nilai tukar global terhadap Dolar AS ditutup sebagian besar menguat.

Dari pasar keuangan domestik, IHSG mencatatkan penguatan mingguan dan ditutup pada level 5.791,88 atau menguat 2,06 persen wow. Pada pekan ini, net buy oleh investor nonresiden tercatat sebesar Rp5,60 triliun dan secara ytd investor nonresiden mencatatkan net buy sebesar Rp27,92 triliun. Kenaikan indeks pekan ini cukup signifikan didorong upgrade rating oleh S&P.

Nilai tukar Rupiah mencatatkan penguatan dan ditutup pada level Rp13.325 per dolar AS. penguatan tersebut sejalan dengan penguatan mata uang global dan kawasan kecuali Rupee. Tekanan terhadap nilai tukar Rupiah relatif terjaga di sepanjang pekan dan tercatat menguat cukup signifikan di akhir pekan didorong oleh rilis peringkat utang Indonesia oleh S&P.

Dari pasar SBN, pergerakan yield SUN seri benchmark mengalami pergerakan bervariasi. Seri FR0059 dan FR0072 mengalami kenaikan 13 s.d. 22 bps sedangkan seri FR0069 dan FR0072 mengalami penurunan sebesar 20 s.d. 41 bps dalam sepekan. Berdasarkan data setelmen Bank Indonesia per tanggal 18 Mei 2017, kepemilikan nonresiden atas SBN tercatat sebesar Rp742,65 T (38,73%), atau secara nominal naik sebesar Rp2,54 T dibandingkan dengan pekan sebelumnya (12/05) yang sebesar Rp740,11 T (38,83%). Secara ytd kepemilikan nonresiden naik Rp76,84 triliun dan turun Rp3,17 triliun secara mtd.

ISU UTAMA: Performa Fiskal Membuat Indonesia Mendapatkan Investment Grade dari S&P

  • Indonesia akhirnya mendapatkan kenaikan rating dari Standard and Poors (S&P) dari BB+ menjadi BBB- (outlook stable), atau peringkat Investment Grade.
  • Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) memberikan opini wajar tanpa pengecualian (WTP) atas Laporan Keuangan Pemerintah Pusat 2016.
  • Pemerintah telah menyampaikan dokumen Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-pokok Kebijakan Fiskal tahun anggaran 2018 kepada Dewan Perwakilan Rakyat.

Kenaikan rating dari S&P

Pada tanggal 19 Mei 2017, Indonesia mendapatkan kenaikan rating dari Standard and Poors (S&P) dari BB+ menjadi BBB- (outlook stable), atau peringkat Investment Grade. Langkah ini menyusul pemberian Investment Grade dari lembaga pemeringkat lain yang sudah terjadi sejak beberapa tahun lalu: Moody’s (2012), Fitch (2011), JCRA (2010), R&I (2012).

Dalam rilisnya, S&P menyatakan bahwa faktor utama yang mendorong peningkatan rating dan pemberian investment grade ini adalah adanya langkah pemerintah yang kredibel di dalam mengambil kebijakan fiskal yang efektif di tengah sisi eksternal yang mengalami tekanan. APBN yang lebih realistis telah membatasi kemungkinan pemburukan defisit ke depan secara signifikan, sehingga risio fiskal berkurang. Selain itu, membaiknya performa fiskal juga tak terlepas dari program amnesti pajak beberapa waktu lalu. Seiring kebijakan fiskal yang kredibel, disiplin fiskal tercipta, sehingga tingkat defisit maupun utang Indonesia akan terus berada pada level yang aman.

Investment grade yang diperoleh Indonesia dari semua lembaga rating, dengan 4 diantaranya sudah memberikan positive outlook, semakin menggarisbawahi kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang sehat. Hal ini menjadi modal penting untuk menciptakan persepsi yang positif bagi investor, sehingga aliran investasi baik dalam maupun luar negeri akan terus meningkat. Kondisi ini diharapkan akan berujung pada penurunan biaya utang serta pertumbuhan yang terus meningkat dengan didorong oleh akselerasi investasi.

Opini WTP

Sebelumnya, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) memberikan opini wajar tanpa pengecualian (WTP) atas Laporan Keuangan Pemerintah Pusat 2016. Hasil ini merupakan yang pertama kali sejak 2004 atau 12 tahun yang lalu.  Pada LKPP 2015, Pemerintah mendapatkan opini wajar dengan pengecualian (WDP). Beberapa hal yang mencjadi catatan BPK pada LKPP 2015 antara lain adanya perbedaan antara realisasi belanja negara yang dilaporkan kementerian dan lembaga dan yang dicatat Bendahara Umum Negara. Capain ini menunjukkan bahwa pemerintah sebagai otoritas fiskal terus berbenah dan hal ini pastinya tidak lepas dari pengamatan S&P dalam melakukan asesmen sebelumnya.

Kerangka ekonomi makro dan pokok-pokok kebijakan fiskal 2018

Sesuai dengan Undang-undang Keuangan Negara No 17 tahun 2003, Pemerintah pada tanggal 19 Mei 2017 telah menyampaikan dokumen Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-pokok Kebijakan Fiskal tahun anggaran 2018 kepada Dewan Perwakilan Rakyat. Tema kebijakan fiskal yang disampaikan adalah: “Memantapkan Pengelolaan Fiskal untuk Mengakselerasi Pertumbuhan yang Berkeadilan”. Pokok-pokok kebijakan fiskal yang disusun oleh Pemerintah ditujukan agar kebijakan fiskal dapat diarahkan secara lebih produktif, efisien, berdaya tahan dan mampu mengendalikan risiko baik jangka pendek dan jangka panjang. Kebijakan fiskal yang disusun tersebut dimaksudkan untuk mengatasi beberapa tantangan pembangunan, antara lain: (1) Upaya pengurangan kemiskinan dan kesenjangan, (2) mendorong pengurangan pengangguran dan meningkatkan produktivitas, (3) meningkatkan kapasitas fiskal, dan (4) menjaga stabilitas makro ekonomi.

Beberapa sasaran yang ingin dicapai pada tahun 2018 antara lain pertumbuhan ekonomi di kisaran 5,4– 6,1 persen; tingkat pengangguran terbuka ditekan ke kisaran 5,1 – 5,4 persen; angka kemiskinan 9 – 10 persen; Rasio Gini 0,38; dan Indeks Pembangunan Manusia 71,38. Melihat perkembangan berbagai indikator seperti peningkatan penjualan eceran dan optimisme konsumen, target pertumbuhan ekonomi di kisaran 5,4– 6,1 persen merupakan angka yang realistis.

Download Publication
Data Source: Bloomberg, WEC, Bank Indonesia, Bisnis Indonesia, Reuters, FT, CNN Indonesia, CNBC, Investor Daily, Ipot News, BBC, Kompas, Antara News, Kontan.

Briefing Notes Update

Alternative text - include a link to the PDF!


ESELON I KEMENTERIAN KEUANGAN


KONTAK: Jl. Dr. Wahidin No. 1 Gd. R. M. Notohamiprodjo, Jakarta Pusat 10710
email: ikp@fiskal.depkeu.go.id

  Kurs Pajak : KMK Nomor 21/KM.10/2017,   USD : 13,323.00    AUD : 9,907.37    GBP : 17,281.27    SGD : 9,582.96    JPY : 11,933.93    EUR : 14,852.52    CNY : 1,937.44