Daily Update : 22-11-2017 | Download File :

BERITA GLOBAL

  • Bursa Wall Street ditutup menguat ditopang oleh penguatan saham sektor teknologi dan kesehatan. Indeks Dow Jones dan S&P 500 menguat masing-masing sebesar 0,69 persen dan 0,65 persen. (Bisnis Indonesia)
  • Existing home sales AS untuk bulan Oktober 2017 tercatat sebesar 5,48 juta, lebih tinggi dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang sebesar 5,37 juta serta lebih tinggi dari perkiraan analis yang sebesar 5,42 juta. Peningkatan ini seiring dengan kembali pulihnya kondisi ekonomi pasca badai yang terjadi beberapa waktu lalu. (CNBC)

BERITA DOMESTIK

  • Kementerian Energi dan Sumber Daya Manusia (ESDM) memastikan pemerintah belum akan membuka impor gas pada tahun 2019 karena masih banyak cadangan gas yang belum terserap (uncomitted cargo) untuk PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) dalam dua tahun mendatang. Peningkatan cadangan gas tersebut tidak terlepas dari sumur-sumur baru di dalam negeri yang mulai beroperasi. Beroperasinya sumur produksi baru akan menambah cadangan gas, seperti lapangan Blok A Aceh dengan cadangan gas 563 miliar kaki kubik (BSCF) yang rencananya akan berproduki pada kuartal IV tahun ini. Kemudian, Lapangan Jambaran Tiung Biru yang rencananya berproduksi pada 2020 sebanyak 127 juta kaki kubik per hari (MMCFD) dan memiliki cadangan 2,5 triliun kaki kubik (TCF). Proyek kilang Tangguh Train 3 juga mulai beroperasi pada 2020 yang diprediksi menambah pasokan hingga 3,8 juta ton per tahun (MTPA) dan Masela dengan cadangan gas 10,73 TFC yang rencananya mulai berproduksi pada 2026. (CNNIndonesia)
  • Bursa Efek Indonesia (BEI) bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan memperkuat peran perusahaan sekuritas dengan status non Anggota Bursa sehingga dapat memperluas akses masyarakat ke pasar modal. Penguatan peran perusahaan efek dengan status non Anggota Bursa ini masih dalam tahap kajian yang diharapkan selesai pada 2018 mendatang. Saat ini, terdapat beberapa aktivitas bisnis perusahaan efek non Anggota Bursa yang hanya dapat dilakukan dengan bekerja sama dengan perusahaan efek yang berstatus Anggota Bursa. (Antaranews)
  • Pemerintah melalui Kementerian Keuangan kemungkinan tidak akan melaksanakan lelang surat berharga negara (SBN) pada Desember mendatang. Hal ini karena penerbitan SBN yang telah dilakukan selama ini sudah mencukupi untuk menutup outlook defisit anggaran dalam APBN-P 2017. Hingga 14 November 2017, realisasi penerbitan Surat Utang Negara (SUN) bruto mencapai Rp516,4 triliun dan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) bruto mencapai Rp186,5 triliun sehingga total SBN yang telah terbit sebesar Rp702,98 triliun (98,6 persen) dari target sebesar Rp712,98 triliun sesuai outlook defisit 2,67 persen. Sementara itu, satu lelang yang tersisa merupakan lelang SBSN akan dilakukan pada 21 November 2017. Dalam lelang tersebut, pemerintah memasang target indikatif dari lelang ini sebesar Rp5 triliun. (Kontan)

Sumber Data: Bloomberg, WEC, Bank Indonesia, Bisnis Indonesia, Reuters, FT, CNN Indonesia, CNBC, Investor Daily, Ipot News, BBC, Kompas, Antara News, Kontan.

Weekly Update : 13-11-2017 s.d 19-11-2017 | Download File :

 

 

Highlight  Minggu Ini

  • Wall Street ditutup melemah seiring belum pastinya kapan RUU perpajakan akan disahkan menjadi UU.
  • Dolar AS mengalami pelemahan terhadap sejumlah mata uang dunia pada akhir pekan lalu.
  • Harga minyak mentah global mengalami pelemahan mingguan seiring meningkatnya produksi minyak mentah AS.
  • IHSG tercatat mengalami pelemahan mingguan sebesar 0,50 persen, sementara rupiah terdepresiasi sebesar 0,33 persen.
  • Neraca perdagangan Indonesia pada bulan Oktober 2017 mencatatkan surplus sebesar US$ 0,9 miliar.

I. Pasar Global

Pasar Saham. Pada akhir perdagangan pekan lalu Wall Street ditutup melemah seiring belum pastinya kapan RUU perpajakan akan disahkan menjadi UU, meskipun senat dari Partai Republik telah menyetujui RUU tersebut. Masih terdapat perbedaan pandangan antara senat dan DPR AS terkait pemberlakuan pemangkasan pajak perusahaan dari 35 persen menjadi 20 persen, yaitu antara tahun ini atau tahun depan. Sementara itu dari kawasan Eropa, bursa saham Eropa mengalami penguatan secara mingguan seiring prospek laba yang kuat sektor-sektor seperti jasa keuangan, teknologi, dan otomotif. Di Asia, saham-saham Tokyo ditutup menguat pada khir minggu yang sama seiring solidnya pertumbuhan pendapatan perusahaan. Hal ini menambah kepercayaan diri investor di pasar saham Asia.

Pasar Uang. Ketidakpastian kapan RUU perpajakan AS akan disahkan menjadi UU menyebabkan dolar AS berfluktuasi dan ditutup melemah terhadap sejumlah mata uang dunia pada akhir pekan lalu. Sementara itu, dari kawasan Eropa, mata uang euro dan poundsterling mengalami penguatan secara mingguan terhadap dolar AS di tengah kegagalan Kanselir Jerman Angela Merkel membentuk koalisi dengan the Greens dan the pro-business Free Democrats (FDP). Penguatan euro didukung oleh rilis data-data ekonomi yang menunjukkan peningkatan dan spekulasi stance kebijakan moneter Bank Sentral Eropa (ECB) yang diperkirakan akan lebih hawkish.

Pasar Obligasi. Di tengah ketidakpastian rencana pemotongan pajak AS, imbal hasil UST 10 tahun masih datar. Investor menantikan hasil pertemuan FOMC pada hari Rabu pekan ini. Goldman Sachs memperkirakan bahwa the Fed akan menaikkan suku bunga the Fed sebanyak empat kali pada tahun depan. The Fed melihat bahwa momentum pertumbuhan ekonomi AS sudah cukup kuat dan tingkat pengangguran juga sudah berada di bawah ekspektasi the Fed.

Pasar Komoditas. Harga minyak mentah global mengalami pelemahan mingguan. Hal tersebut diakibatkan oleh peningkatan produksi minyak mentah AS yang diikuti dengan minimnya sentimen positif terhadap harga minyak. Harga batubara juga mengalami pelemahan mengikuti pergerakan harga minyak. Pada saat yang sama, harga Emas kembali mengalami penguatan secara mingguan setelah dolar AS bergerak melemah serta ekspektasi kenaikan suku bunga AS bulan depan.

Dari komoditi logam, harga nikel mengalami pelemahan mingguan dipicu oleh kekhawatiran atas turunnya permintaan nikel di Tiongkok dan rendahnya konsumsi nikel selama musim dingin di negara tersebut.

Sementara itu, dari pasar CPO, harga CPO masih mengalami pelemahan meskipun terdapat Ekspektasi kenaikan impor minyak sawit India. Ekspektasi kenaikan impor ini tak lepas dari tingginya permintaan untuk festival Diwali antara bulan September dan November.


II. Pasar Keuangan Domestik

  • Seminggu, IHSG naik 0,50 persen, imbal hasil SBN 1-10 bps, Rupiah terapresiasi 009 ersen, dan investor asing di pasar modal catat net sell Rp3,73 triliun dalam sepekan.

IHSG tercatat mengalami penguatan mingguan sebesar 0,50 persen dan ditutup pada level 6.051,732. Investor nonresiden mencatatkan net sell sebesar Rp3,73 triliun selama sepekan. Secara akumulasi, investor nonresiden masih mencatatkan net sell sebesar Rp11,84 triliun dalam sebulan dan secara ytd investor nonresiden mencatatkan net sell  sebesar Rp28,78 triliun. Volume rata-rata perdagangan harian selama sepekan kemarin tercatat sebesar Rp7,57 triliun meliputi perdagangan di pasar reguler dan pasar nego. IHSG sendiri diperdagangkan di kisaran 5.972,31 – 6.093,79.

Nilai tukar Rupiah mengalami penguatan mingguan, berada di level Rp13531 per USD atau menguat sebesar 0,09 persen. Tekanan terhadap nilai tukar Rupiah relatif lebih rendah dibanding pekan sebelumnya, sebagaimana tercermin dari perkembangan spread harian antara nilai spot dan non deliverable forward 1 bulan selama sepekan. Mata uang negara di kawasan secara umum tidak mengalami tekanan yang berarti. Minggu ini rupiah diperdagangkan di kisaran 13.476 – 13.556 per dolar AS.

Dari pasar SBN, pergerakan yield SUN seri benchmark rata-rata mengalami kenaikan sebesar 1 s.d. 10 bps selama sepekan. Berdasarkan data setelmen BI per 16 November 2017, kepemilikan nonresiden atas SBN tercatat sebesar Rp816,02 T (38,60 persen) atau mengalami penurunan sebesar Rp4,97 T dalam sepekan. Kepemilikan Non Residen naik Rp150.22 T (22.56persen) secara year to date (YTD) dan naik Rp19.83 T (2.49 persen) secara month to date (MTD)?


III. Perekonomian Internasional

Dari kawasan Amerika, inflasi AS pada bulan Oktober tercatat sebesar 0,1 persen mom, lebih rendah dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 0,5 persen. Inflasi pada bulan oktober tersebut didorong olh kenaikan biaya sewa dan kesehatan. Selain itu, Penjualan ritel AS pada bulan Oktober tumbuh sebesar 0,2 persen (mom). Angka tersebut lebih rendah dibandingkan dengan penjualan ritel bulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 1,9 persen. Pertumbuhan penjualan ritel pada bulan tersebut disebabkan oleh peningkatan pembelian kendaraan bermotor serta persiapan konsumen menjelang musim liburan.

Masih dari kawasan Amerika, Inflasi Brazil untuk bulan Oktober 2017 tercatat sebesar 2,7 persen yoy, lebih tinggi dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang sebesar 2,54 persen. Angka tersebut masih di bawah target yang ditetapkan bank sentral Brazil sebesar 4,5 persen ±1,5. Sehingga masih memungkinkan bagi bank sentral negara tersebut untuk melakukan pemotongan suku bunga di waktu yang akan datang.

Dari kawasan Eropa, perekonomian Eropa tumbuh sebesar 0,6 persen (qoq) pada Q3 2017, sedikit lebih lambat dibandingkan pertumbuhan Q2 yang mencapai 0,7 persen (yoy). Secara tahunan, pertumbuhan ekonomi Eropa mencapai 2,5 persen, lebih tinggi dari pertumbuhan AS pada Q3 2017 sebesar 2,3 persen (yoy). Peningkatan ini terutama didorong pertumbuhan investasi yang positif.

Neraca perdagangan Inggris kembali mencatatkan defisit pada bulan September 2017. Defisit yang tercatat pada bulan tersebut mencapai £11,25 miliar, lebih rendah dibandingkan dengan defisit yang terjadi pada bulan sebelumnya yang sebesar £12,35 miliar. Defisit yang berkurang ini didorong oleh produksi sektor manufaktur dan industri yang tumbuh positif.

Dari kawasan Asia, perekonomian Jepang tumbuh sebesar 1,4 persen (yoy) atau 0,3 persen (qoq) pada Q3 2017. Dengan capaian ini, perekonomian Jepang tercatat tumbuh secara positif dalam delapan kuartal berturut-turut. Kontributor utama dari pertumbuhan ekonomi Jepang dalam Q3 2017 adalah net ekspor yang mencatatkan kontribusi sebesar 0,5 persen.

Inflasi India untuk bulan Oktober 2017 tercatat naik dari 3,28 persen yoy menjadi 3,58 persen yoy. Inflasi pada bulan tersebut didorong oleh kenaikan harga sayuran dan bahan bakar. Kenaikan inflasi ini membuat semakin kecilnya harapan untuk Bank sentral India melakukan pemotongan suku bunga pada bulan depan.


IV. Perekonomian Domestik

Bank Indonesia memutuskan BI 7-day Reverse Repo Rate tetap di level 4,25 persen dengan Deposit Facility di level 3,50 persen dan Lending Facility di level 5,00 persen. BI memandang tingkat suku bunga acuan tersebut masih cukup memadai untuk mendukung upaya menjaga laju inflasi sesuai target dan defisit transaksi berjalan pada level yang sehat.

Perkembangan Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada Q3-2017 tercatat sebesar USD343,1 miliar atau tumbuh 4,5 persen (yoy). Berdasarkan kelompok peminjam, pertumbuhan ULN dikontribusi terutama oleh ULN sektor swasta yang tumbuh 0,6 persen (yoy), setelah pada triwulan sebelumnya terkontraksi 1,7 persen (yoy). Sementara itu, ULN publik (pemerintah dan bank sentral) tumbuh 8,5 persen (yoy), lebih tinggi dari 7,3 persen (yoy) pada triwulan sebelumnya. Perkembangan ULN ini sejalan dengan kebutuhan pembiayaan untuk pembangunan infrastruktur. Berdasarkan jangka waktu, komposisi ULN Indonesia pada akhir Q3-2017 tetap didominasi oleh ULN jangka panjang.

Presiden mengesahkan Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2017 tentang Instrumen Ekonomi Lingkungan Hidup. Dalam aturan tersebut, pendanaan Lingkungan Hidup terkait dengan pengelolaan dana untuk perlindungan lingkungan diantaranya diambil dari pajak dan retribusi daerah, serta pembiayaan dari perusahaan. Pajak pusat dan daerah itu dikenakan pada air tanah, air permukaan, sarang burung wallet, mineral logam, bukan logam dan batuan, bahan bakar kendaraan bermotor, kendaraan bermotor, dan kegiatan lainnya yang sesuai dengan kriteria dampak lingkungan hidup.


Sumber Data: Bloomberg, WEC, Bank Indonesia, Bisnis Indonesia, Reuters, FT, CNN Indonesia, CNBC, Investor Daily, Ipot News, BBC, Kompas, Antara News, Kontan.

 

 

Highlight  Minggu Ini

  • Wall Street ditutup melemah seiring belum pastinya kapan RUU perpajakan akan disahkan menjadi UU.
  • Dolar AS mengalami pelemahan terhadap sejumlah mata uang dunia pada akhir pekan lalu.
  • Harga minyak mentah global mengalami pelemahan mingguan seiring meningkatnya produksi minyak mentah AS.
  • IHSG tercatat mengalami pelemahan mingguan sebesar 0,50 persen, sementara rupiah terdepresiasi sebesar 0,33 persen.
  • Neraca perdagangan Indonesia pada bulan Oktober 2017 mencatatkan surplus sebesar US$ 0,9 miliar.

I. Pasar Global

Pasar Saham. Pada akhir perdagangan pekan lalu Wall Street ditutup melemah seiring belum pastinya kapan RUU perpajakan akan disahkan menjadi UU, meskipun senat dari Partai Republik telah menyetujui RUU tersebut. Masih terdapat perbedaan pandangan antara senat dan DPR AS terkait pemberlakuan pemangkasan pajak perusahaan dari 35 persen menjadi 20 persen, yaitu antara tahun ini atau tahun depan. Sementara itu dari kawasan Eropa, bursa saham Eropa mengalami penguatan secara mingguan seiring prospek laba yang kuat sektor-sektor seperti jasa keuangan, teknologi, dan otomotif. Di Asia, saham-saham Tokyo ditutup menguat pada khir minggu yang sama seiring solidnya pertumbuhan pendapatan perusahaan. Hal ini menambah kepercayaan diri investor di pasar saham Asia.

Pasar Uang. Ketidakpastian kapan RUU perpajakan AS akan disahkan menjadi UU menyebabkan dolar AS berfluktuasi dan ditutup melemah terhadap sejumlah mata uang dunia pada akhir pekan lalu. Sementara itu, dari kawasan Eropa, mata uang euro dan poundsterling mengalami penguatan secara mingguan terhadap dolar AS di tengah kegagalan Kanselir Jerman Angela Merkel membentuk koalisi dengan the Greens dan the pro-business Free Democrats (FDP). Penguatan euro didukung oleh rilis data-data ekonomi yang menunjukkan peningkatan dan spekulasi stance kebijakan moneter Bank Sentral Eropa (ECB) yang diperkirakan akan lebih hawkish.

Pasar Obligasi. Di tengah ketidakpastian rencana pemotongan pajak AS, imbal hasil UST 10 tahun masih datar. Investor menantikan hasil pertemuan FOMC pada hari Rabu pekan ini. Goldman Sachs memperkirakan bahwa the Fed akan menaikkan suku bunga the Fed sebanyak empat kali pada tahun depan. The Fed melihat bahwa momentum pertumbuhan ekonomi AS sudah cukup kuat dan tingkat pengangguran juga sudah berada di bawah ekspektasi the Fed.

Pasar Komoditas. Harga minyak mentah global mengalami pelemahan mingguan. Hal tersebut diakibatkan oleh peningkatan produksi minyak mentah AS yang diikuti dengan minimnya sentimen positif terhadap harga minyak. Harga batubara juga mengalami pelemahan mengikuti pergerakan harga minyak. Pada saat yang sama, harga Emas kembali mengalami penguatan secara mingguan setelah dolar AS bergerak melemah serta ekspektasi kenaikan suku bunga AS bulan depan.

Dari komoditi logam, harga nikel mengalami pelemahan mingguan dipicu oleh kekhawatiran atas turunnya permintaan nikel di Tiongkok dan rendahnya konsumsi nikel selama musim dingin di negara tersebut.

Sementara itu, dari pasar CPO, harga CPO masih mengalami pelemahan meskipun terdapat Ekspektasi kenaikan impor minyak sawit India. Ekspektasi kenaikan impor ini tak lepas dari tingginya permintaan untuk festival Diwali antara bulan September dan November.


II. Pasar Keuangan Domestik

  • Seminggu, IHSG naik 0,50 persen, imbal hasil SBN 1-10 bps, Rupiah terapresiasi 009 ersen, dan investor asing di pasar modal catat net sell Rp3,73 triliun dalam sepekan.

IHSG tercatat mengalami penguatan mingguan sebesar 0,50 persen dan ditutup pada level 6.051,732. Investor nonresiden mencatatkan net sell sebesar Rp3,73 triliun selama sepekan. Secara akumulasi, investor nonresiden masih mencatatkan net sell sebesar Rp11,84 triliun dalam sebulan dan secara ytd investor nonresiden mencatatkan net sell  sebesar Rp28,78 triliun. Volume rata-rata perdagangan harian selama sepekan kemarin tercatat sebesar Rp7,57 triliun meliputi perdagangan di pasar reguler dan pasar nego. IHSG sendiri diperdagangkan di kisaran 5.972,31 – 6.093,79.

Nilai tukar Rupiah mengalami penguatan mingguan, berada di level Rp13531 per USD atau menguat sebesar 0,09 persen. Tekanan terhadap nilai tukar Rupiah relatif lebih rendah dibanding pekan sebelumnya, sebagaimana tercermin dari perkembangan spread harian antara nilai spot dan non deliverable forward 1 bulan selama sepekan. Mata uang negara di kawasan secara umum tidak mengalami tekanan yang berarti. Minggu ini rupiah diperdagangkan di kisaran 13.476 – 13.556 per dolar AS.

Dari pasar SBN, pergerakan yield SUN seri benchmark rata-rata mengalami kenaikan sebesar 1 s.d. 10 bps selama sepekan. Berdasarkan data setelmen BI per 16 November 2017, kepemilikan nonresiden atas SBN tercatat sebesar Rp816,02 T (38,60 persen) atau mengalami penurunan sebesar Rp4,97 T dalam sepekan. Kepemilikan Non Residen naik Rp150.22 T (22.56persen) secara year to date (YTD) dan naik Rp19.83 T (2.49 persen) secara month to date (MTD)?


III. Perekonomian Internasional

Dari kawasan Amerika, inflasi AS pada bulan Oktober tercatat sebesar 0,1 persen mom, lebih rendah dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 0,5 persen. Inflasi pada bulan oktober tersebut didorong olh kenaikan biaya sewa dan kesehatan. Selain itu, Penjualan ritel AS pada bulan Oktober tumbuh sebesar 0,2 persen (mom). Angka tersebut lebih rendah dibandingkan dengan penjualan ritel bulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 1,9 persen. Pertumbuhan penjualan ritel pada bulan tersebut disebabkan oleh peningkatan pembelian kendaraan bermotor serta persiapan konsumen menjelang musim liburan.

Masih dari kawasan Amerika, Inflasi Brazil untuk bulan Oktober 2017 tercatat sebesar 2,7 persen yoy, lebih tinggi dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang sebesar 2,54 persen. Angka tersebut masih di bawah target yang ditetapkan bank sentral Brazil sebesar 4,5 persen ±1,5. Sehingga masih memungkinkan bagi bank sentral negara tersebut untuk melakukan pemotongan suku bunga di waktu yang akan datang.

Dari kawasan Eropa, perekonomian Eropa tumbuh sebesar 0,6 persen (qoq) pada Q3 2017, sedikit lebih lambat dibandingkan pertumbuhan Q2 yang mencapai 0,7 persen (yoy). Secara tahunan, pertumbuhan ekonomi Eropa mencapai 2,5 persen, lebih tinggi dari pertumbuhan AS pada Q3 2017 sebesar 2,3 persen (yoy). Peningkatan ini terutama didorong pertumbuhan investasi yang positif.

Neraca perdagangan Inggris kembali mencatatkan defisit pada bulan September 2017. Defisit yang tercatat pada bulan tersebut mencapai £11,25 miliar, lebih rendah dibandingkan dengan defisit yang terjadi pada bulan sebelumnya yang sebesar £12,35 miliar. Defisit yang berkurang ini didorong oleh produksi sektor manufaktur dan industri yang tumbuh positif.

Dari kawasan Asia, perekonomian Jepang tumbuh sebesar 1,4 persen (yoy) atau 0,3 persen (qoq) pada Q3 2017. Dengan capaian ini, perekonomian Jepang tercatat tumbuh secara positif dalam delapan kuartal berturut-turut. Kontributor utama dari pertumbuhan ekonomi Jepang dalam Q3 2017 adalah net ekspor yang mencatatkan kontribusi sebesar 0,5 persen.

Inflasi India untuk bulan Oktober 2017 tercatat naik dari 3,28 persen yoy menjadi 3,58 persen yoy. Inflasi pada bulan tersebut didorong oleh kenaikan harga sayuran dan bahan bakar. Kenaikan inflasi ini membuat semakin kecilnya harapan untuk Bank sentral India melakukan pemotongan suku bunga pada bulan depan.


IV. Perekonomian Domestik

Bank Indonesia memutuskan BI 7-day Reverse Repo Rate tetap di level 4,25 persen dengan Deposit Facility di level 3,50 persen dan Lending Facility di level 5,00 persen. BI memandang tingkat suku bunga acuan tersebut masih cukup memadai untuk mendukung upaya menjaga laju inflasi sesuai target dan defisit transaksi berjalan pada level yang sehat.

Perkembangan Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada Q3-2017 tercatat sebesar USD343,1 miliar atau tumbuh 4,5 persen (yoy). Berdasarkan kelompok peminjam, pertumbuhan ULN dikontribusi terutama oleh ULN sektor swasta yang tumbuh 0,6 persen (yoy), setelah pada triwulan sebelumnya terkontraksi 1,7 persen (yoy). Sementara itu, ULN publik (pemerintah dan bank sentral) tumbuh 8,5 persen (yoy), lebih tinggi dari 7,3 persen (yoy) pada triwulan sebelumnya. Perkembangan ULN ini sejalan dengan kebutuhan pembiayaan untuk pembangunan infrastruktur. Berdasarkan jangka waktu, komposisi ULN Indonesia pada akhir Q3-2017 tetap didominasi oleh ULN jangka panjang.

Presiden mengesahkan Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2017 tentang Instrumen Ekonomi Lingkungan Hidup. Dalam aturan tersebut, pendanaan Lingkungan Hidup terkait dengan pengelolaan dana untuk perlindungan lingkungan diantaranya diambil dari pajak dan retribusi daerah, serta pembiayaan dari perusahaan. Pajak pusat dan daerah itu dikenakan pada air tanah, air permukaan, sarang burung wallet, mineral logam, bukan logam dan batuan, bahan bakar kendaraan bermotor, kendaraan bermotor, dan kegiatan lainnya yang sesuai dengan kriteria dampak lingkungan hidup.

Download Publication
Data Source: Bloomberg, WEC, Bank Indonesia, Bisnis Indonesia, Reuters, FT, CNN Indonesia, CNBC, Investor Daily, Ipot News, BBC, Kompas, Antara News, Kontan.

Briefing Notes Update

Alternative text - include a link to the PDF!


ESELON I KEMENTERIAN KEUANGAN


KONTAK: Jl. Dr. Wahidin No. 1 Gd. R. M. Notohamiprodjo, Jakarta Pusat 10710
email: ikp@fiskal.depkeu.go.id

  Kurs Pajak : KMK Nomor 46/KM.10/2017,   USD : 13,538.00    AUD : 10,270.01    GBP : 17,854.48    SGD : 9,975.68    JPY : 12,011.46    EUR : 15,945.16    CNY : 2,040.14