Daily Update : 16-01-2018 | Download File :

BERITA GLOBAL

  • Harga minyak mentah menguat pada perdagangan Senin (15/1) menyusul seruan anggota OPEC untuk melanjutkan pembatasan produksi. Harga minyak Brent untuk pengiriman Maret ditutup menguat 39 sen di US$70,26 per barel di ICE Futures Europe Exchange. Harga minyak Brent ditutup di atas US$70 per barel untuk pertama kalinya dalam tiga tahun setelah Menteri Perminyakan Irak mengatakan pada hari Sabtu (13/1) bahwa pembatasan produksi telah memberi kontribusi terhadap stabilitas di pasar sehingga harus dipertahankan (Bisnis Indonesia).
  • Perusahaan batu bara milik Pemerintah Tiongkok menargetkan penurunan kapasitas batu bara sebesar 12,65 juta ton pada tahun 2018. Hal ini ditempuh untuk mengurangi pencemaran udara (Bisnis Indonesia).

BERITA DOMESTIK

  • Utang Luar Negeri Indonesia naik 9,1 persen yoy atau menjadi US$347,3 miliar per akhir November 2017 didorong oleh peningkatan utang swasta dan publik. Jumlah utang luar negeri (ULN) swasta naik 4,2 persen yoy pada November 2017 atau sebesar US$170,6 miliar, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan Oktober 2017 yang 1,3 persen yoy.  Jumlah ULN publik, atau pemerintah dan Bank Sentral, sebesar US$176,6 miliar, tumbuh 14,3 persen yoy atau meningkat dibanding Oktober 2017 yang sebesar 8,4 persen yoy (Bank Indonesia).
  • Upah nominal harian buruh tani dan bangunan pada bulan Desember 2017 masing-masing naik sebesar 0,24 persen dan 0,02 persen mtm. Namun demikian, namun upah riil para buruh mengalami penurunan akibat dampak inflasi bulan Desember 2017. Secara riil, upah buruh tani dan bangunan pada bulan Desember 2017 masing-masing turun 0,78 persen dan 0,69 persen mtm (Kompas, Badan Pusat Statistik).
  • Pemerintah Indonesia menerima dividen dari PT Freeport Indonesia untuk tahun 2017 sebesar Rp1,4 triliun, setelah perusahaan pertambangan tersebut absen menyetorkan dividen dalam tiga tahun. Kewajiban penyetoran dividen PT Freeport Indonesia kembali dilakukan, seiring dengan membaiknya harga komoditas di pasar global. Pemberian dividen ini memberikan kontribusi terhadap peningkatan realisasi pendapatan bagian laba BUMN tahun 2017 sebesar Rp44,3 triliun atau 108 persen dari target sebesar Rp41 triliun (Antara News).
  • Badan Pusat Statistik mencatat kenaikan harga beras telah mencapai 3persen sepanjang Januari 2018. Apabila kenaikan harga beras terus berlanjut, diperkirakan akan berpengaruh ke inflasi bulan Januari 2018 mengingat bobot beras terhadap inflasi mencapai 3,8 persen. Sebagai gambaran, data BPS memperlihatkan kontribusi kenaikan beras terhadap inflasi mencapai 0,08 persen pada bulan Desember 2017 (Bisnis Indonesia).
  • Kementerian Keuangan menargetkan aturan perpajakan e-commerce akan selesai pada bulan Februari 2018. Saat ini, Kementerian Keuangan bekerja sama dengan BPS sedang melakukan pengumpulan data dalam rangka menentukan kerangka kebijakan. Untuk itu, BPS menggandeng Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA) untuk menghimpun data terkait e-commerce. Data dari idEA adalah data untuk pemain e-commerce yang formal, sementara yang informal seperti pemakai platform media sosial akan didata selanjutnya (Kompas).

Sumber Data: Bloomberg, WEC, Bank Indonesia, Bisnis Indonesia, Reuters, FT, CNN Indonesia, CNBC, Investor Daily, Ipot News, BBC, Kompas, Antara News, Kontan.

Weekly Update : 08-01-2018 s.d 14-01-2018 | Download File :

 

 

Highlight  Minggu Ini

  • Indeks saham AS S&P 500 mengawali tahun ini dengan start terbaik sejak 2003.
  • Indeks dolar AS melanjutkan tren depresiasi terhadap sejumlah mata uang dunia.
  • IHSG pada penutupan pekan berada di level 6.370,07, menguat 0,26 persen secara mingguan.
  • Nilai tukar Rupiah terpantau menguat 0,47 persen secara mingguan dan berada di level Rp13.353 per USD.
  • Neraca perdagangan Indonesia 2017 mencatatkan surplus US$11,84 miliar.

I.      Pasar Global

Pasar Saham. Wall Street kembali mencatatkan rekor tertinggi sepanjang sejarah di awal 2018 ini. Bahkan, performa indeks S&P 500 di awal tahun ini merupakan start terbaik sejak 2003. Indeks S&P 500 menguat 1,57 persen selama sepekan, sementara indeks Dow Jones menguat sekitar 2 persen. Penguatan bursa saham Wall Street didorong oleh rilis laporan keuangan emiten yang menunjukkan peningkatan pendapatan dan profit yang melebihi ekspektasi, terutama laporan keuangan bank – bank besar. Investor juga optimis untuk kinerja di 2018 ini seiring dengan peraturan perpajakan yang baru nantinya. Dari kawasan Eropa, indeks utama seperti FTSE 100 (Inggris) dan STOXX 600 kembali mencatatkan kenaikan secara mingguan. Selain dipengaruhi oleh ekspektasi investor atas peningkatan pendapatan emiten akhir 2017, sentimen positif juga datang dari Jerman dimana para pemimpin partai koalisi Jerman mencapai kesepakatan untuk membentuk pemerintahan yang baru. Secara sektoral, penguatan mingguan bursa saham Eropa didukung oleh performa saham – saham sektor otomotif dan retail. Sementara itu dari kawasan Asia, reli bursa saham di kawasan Asia berlanjut, didukung oleh positifnya data perdagangan Tiongkok sesuai ekspektasi investor.

Pasar Uang. Indeks dolar AS mengalami penurunan ke level 90,97 dari level 91,92 pada akhir pekan lalu. Beberapa sentimen yang mempengaruhi pergerakan dolar AS antara lain pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengatakan bahwa AS akan menghapuskan sanksi nuklir terhadap Iran dan memberikan kesempatan kepada Eropa dan AS untuk memperbaiki kesepakatan nuklir. Keinginan Tiongkok untuk mengurangi pembelian treasury AS juga semakin menambah sentimen negatif bagi dolar AS selama sepekan. Sementara itu, pada akhir pekan lalu, pound Inggris sempat mengalami apresiasi yang signifikan terhadap dolar AS menyusul kemajuan perundingan Brexit dengan Belanda dan Spanyol. Masih dari kawasan Eropa, apresiasi mata uang Euro Terhadap dolar AS sedikit banyak juga dipengaruhi oleh rilis risalah Bank Sentral Eropa (ECB) yang akan meninjau kembali kebijakan pengurangan stimulus moneternya di 2018.

Pasar Obligasi. Yield treasury AS tenor 2 tahun menyentuh rekor tertinggi sejak 2008 seiring semakin menguatnya ekspektasi atas kenaikan suku bunga the Fed pada bulan Maret mendatang. Hal ini didasarkan pada rilis data inflasi akhir 2017 lalu. Meskipun secara bulanan kenaikan inflasi secara keseluruhan di bawah ekspektasi, inflasi inti secara tahunan meningkat lebih tinggi, yaitu pada level 1,8 persen, lebih tinggi dari perkiraan para analis yang sebesar 1,7 persen. Selain itu, data penjualan eceran AS bulan Desember 2017 yang meningkat dan revisi lebih tinggi penjualan eceran November 2017 menunjukkan bahwa momentum pertumbuhan ekonomi AS dinilai sudah cukup kuat. Sementara itu, senat AS akan melakukan pemilihan suara yang kedua pada tanggal 17 Januari 2018 terkait nominasi Presiden AS Donald Trump atas Jerome Powell untuk memimpin the Fed. Apabila lolos, Powell akan memimpin pertemuan the Fed pada bulan Maret mendatang dengan proyeksi suku bunga acuan the Fed akan dinaikkan.

Pasar Komoditas. Harga acuan minyak mentah dunia melanjutkan penguatan mingguan seiring masih berlanjutnya penurunan cadangan minyak mentah mingguan AS. Sejalan dengan penguatan harga minyak, posisi Dolar AS yang melemah terhadap sebagian besar nilai tukar global mendorong penguatan harga emas di samping posisi beberapa indeks global yang dinilai overvalue mendorong shifting ke investasi emas.. Sementara itu, penangguhan penerapan bea ekspor CPO oleh Pemerintah Malaysia menjadi sentimen positif bagi kenaikan harga acuan CPO di pasar global.

II. Pasar Keuangan Domestik

  • Pada penutupan pekan, IHSG menguat 0,26 persen secara mingguan dan berada di level 6.370,07 dengan posisi beli bersih investor non residen, imbal hasil SBN seri benchmark bergerak mixed antara turun 5 bps hingga naik 1 bps dengan posisi kepemilikan investor non residen yang masih meningkat, dan nilai tukar Rupiah menguat 0,47 persen ke level Rp13.353 per USD..

IHSG tercatat menguat 0,26 persen dan ditutup pada level 6.370,07. Penguatan tersebut ditopang oleh aksi beli investor nonresiden yang mencapai Rp1,49 triliun. Nilai rata-rata transaksi perdagangan harian selama sepekan tercatat sebesar Rp7,61 triliun, meningkat dari pekan sebelumnya yang sebesar Rp6,68 triliun meliputi perdagangan di pasar reguler dan pasar nego. IHSG sendiri diperdagangkan di kisaran 6.344,04 – 6.412,03.

Nilai tukar Rupiah terpantau menguat 0,47 persen secara mingguan dan berada di level Rp13.353 per USD. Tekanan terhadap nilai tukar Rupiah relatif terjaga, sebagaimana tercermin dari perkembangan spread harian antara nilai spot dan non deliverable forward 1 bulan selama sepekan yang lebih rendah dibandingkan pekan sebelumnya. Minggu ini Rupiah diperdagangkan di kisaran 13.346 – 13.479 per dolar AS.

Dari pasar SBN, yield SUN seri benchmark bergerak mixed di mana yield SBN tenor 20 tahun (FR0075) naik 1 bps sementara tenor 10 tahun mengalami penurunan yield 5 bps dalam sepekan. Berdasarkan data setelmen BI per 11 Januari 2018, kepemilikan nonresiden atas SBN tercatat sebesar Rp862,23 T (40,68%), naik Rp26,08T (3,12%) secara ytd dan mtd?.

III. Perekonomian Internasional

Dari kawasan Amerika, neraca perdagangan AS kembali mencatatkan defisit sebesar USD50,50 miliar, lebih besar dibanding defisit bulan sebelumnya yang sebesar USD48,90 miliar. Defisit ini merupakan yang terbesar sejak 2012. Hal ini dipengaruhi oleh besarnya kenaikan impor yang mencapai 2,5 persen dibandingkan dengan kenaikan ekspor 2,3 persen. Penjualan ritel AS tumbuh sebesar 0,4 persen pada bulan Desember 2017 didorong oleh penjualan materi pertamanan dan bangunan serta auto dealerships. Sementara itu, inflasi Brazil pada bulan Desember 2017 tercatat sebesar 2,95 persen yoy. Angka tersebut merupakan yang tertinggi sejak 19 tahun terakhir. Kondisi ini didorong oleh penurunan harga makanan.  

Dari kawasan Eropa, inflasi Eropa secara tahunan tercatat sebesar 1,4 persen pada bulan Desember 2017, sedikit lebih rendah dibanding bulan sebelumnya yang sebesar 1,5 persen. Sementara itu, inflasi inti tercatat sebesar 0,9 persen, berada di bawah perkiraan para analis yang sebesar 1 persen. Data produksi manufaktur Inggris untuk bulan November 2017 meningkat sebesar 0,4 persen mom, lebih tinggi dari bulan sebelumnya yang sebesar 0,3 persen mom. Kondisi ini dipengaruhi oleh penguatan pertumbuhan ekonomi global khususnya kawasan Eropa serta penurunan nilai mata uang Poundsterling. Di sisi lain, penjualan ritel Eropa untuk bulan November 2017 tumbuh sebesar 1,5 persen, lebih tinggi dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang mengalami kontraksi sebesar -1,1 persen. Pertumbuhan tersebut melebihi proyeksi analis sebesar 1,4 persen. Penjualan tertinggi terjadi pada kelompok produk non-pangan.

Dari kawasan Asia, inflasi Tiongkok secara tahunan tumbuh sebesar 1,8 persen, sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang sebesar 1,7 persen. Kenaikan ini didorong oleh kenaikan harga produk obat-obatan, produk housing-related, pendidikan, budaya, dan hiburan. Secara keseluruan inflasi Tingkok selama tahun 2017 tercatat sebesar 1,6 persen.

IV. Perekonomian Domestik

Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Desember 2017 mencapai 126,4, lebih tinggi dari IKK November 2017 yang sebesar 122,1. Meningkatnya keyakinan konsumen didorong oleh membaiknya persepsi konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini maupun ekspektasi konsumen terhadap kondisi ekonomi ke depan. Menguatnya optimisme konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini terjadi pada seluruh kelompok pengeluaran sejalan dengan membaiknya ketersediaan lapangan kerja dan pembelian barang tahan lama. Sementara itu, perbaikan ekspektasi kondisi ekonomi ke depan terutama ditopang oleh meningkatnya ekspektasi ketersediaan lapangan kerja, kegiatan dunia usaha, dan penghasilan.

Namun, di tengah optimisme konsumen, kegiatan dunia usaha menunjukkan perlambatan. Hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) yang dilakukan Bank Indonesia menujukkan bahwa Saldo Bersih Tertimbang (SBT) kegiatan usaha pada Q4-2017 hanya sebesar 7,4 persen, lebih rendah dibanding Q3-2017 sebesar 14,32 persen. Hal ini mengindikasikan bahwa kegiatan dunia usaha di Indonesia pada Q4 tumbuh lebih lambat dibanding Q3. Perlambatan kegiatan usaha di tiga bulan terakhir 2017 terjadi di hampir seluruh sektor, kecuali sektor listrik, gas, dan air bersih serta pengangkutan dan komunikasi. Penurunan terparah terjadi di sektor pertanian, perkebunan, peternakan kehutanan dan perikanan yang sebelumnya tumbuh positif jadi negatif.

Sementara itu, dari sektor ritel, indeks penjualan eceran pada November 2017 mencapai 206,7 atau tumbuh 2,5 persen yoy, lebih baik dibandingkan pertumbuhan pada Oktober 2017 yang sebesar 2,2 persen. Pertumbuhan tersebut berasal dari penjualan kelompok makanan minuman yang tumbuh 7,8 persen yoy dan bahan bakar kendaraan yang tumbuh 5,8 persen. Penjualan eceran kelompok lainnya masih tumbuh negatif, dengan tingkat penurunan yang melambat. Peningkatan pertumbuhan penjualan eceran diperkirakan akan berlanjut pada Desember 2017 dengan IPR (Indeks Penjualan Riil)  yang lebih tinggi yakni sebesar 2,6 persen (yoy).

Dari sektor eksternal, cadangan devisa Indonesia akhir Desember 2017 tercatat sebesar USD130,20 miliar, lebih tinggi dibanding posisi akhir November 2017 yang sebesar USD125,97 miliar. Peningkatan tersebut terutama dipengaruhi oleh penerimaan devisa, antara lain berasal dari penerbitan global bonds pemerintah serta penerimaan pajak dan devisa ekspor migas bagian pemerintah. Penerimaan devisa tersebut melampaui kebutuhan devisa terutama untuk pembayaran utang luar negeri pemerintah dan Surat Berharga Bank Indonesia (SBBI) valas jatuh tempo.

Neraca Perdagangan 2017: Fundamental Perekonomian Domestik Semakin Kuat

  • Neraca perdagangan Indonesia tahun 2017 mencatatkan surplus sebesar US$11,84 miliar.
  • Ekspor sepanjang tahun 2017 mencapai US$168,73 miliar atau tumbuh sebesar 16,22 persen yoy.
  • Impor tahun 2017 mencapai US$156,89 miliar atau tumbuh 15,66 persen yoy.
  • Surplus neraca perdagangan nonmigas tercatat sebesar US$20,41 miliar, sementara migas masih mengalami defisit US$ 8,57 miliar.

Nilai ekspor Indonesia pada bulan Desember 2017 mencapai US$14,79 miliar atau turun sebesar 3,45 persen dibandingkan realisasi ekspor November 2017 yang mencapai US$15,32 miliar. Secara tahunan, nilai ekspor pada bulan Desember 2017 tumbuh 6,93 persen yoy, sedikit melambat dibandingkan pertumbuhan ekspor bulan November yang mencapai 13,18 persen yoy. Secara kumulatif, realisasi ekspor sepanjang tahun 2017 mencapai US$168,73 miliar atau lebih tinggi 16,22 persen dibandingkan tahun 2016 yang mencapai US$145,19 miliar.

Sedikit melambatnya kinerja ekspor pada Desember 2017 terutama dipengaruhi oleh turunnya ekspor nonmigas dari US$14,04 miliar pada November 2017 menjadi US$13,28 miliar pada Desember 2017 atau turun sebesar 5,41 persen, meskipun secara tahunan ekspor nonmigas masih tumbuh positif sebesar 5,56 persen. Tercatat dua sektor yang mengalami penurunan ekspor pada bulan Desember 2017 yaitu hasil pertanian dan industri pengolahan. Sektor pertanian membukukan nilai ekspor US$0,28 miliar atau turun 12,82 persen mtm dipengaruhi oleh turunnya ekspor kopi, lada hitam dan biji kakao, sementara itu industri pengolahan turun -9,98 persen mtm menjadi US$10,33 miliar.

Di sisi lain, ekspor migas naik sebesar 17,96 persen mom dari US$1,28 miliar pada November 2017 menjadi US$1,51 miliar pada bulan Desember 2001. Secara tahunan, ekspor migas pada bulan Desember 2017 tumbuh sebesar 20,78 persen. Selain dipengaruhi oleh kenaikan volume ekspor minyak mentah dan gas alam yang masing-masing tumbuh 5,39 persen dan 19,38 persen, tingginya ekspor migas bulan Desember 2017 juga dipengaruhi oleh kenaikan harga minyak mentah Indonesia (ICP) dari US$59,34 per barel pada bulan November menjadi US$60,90 per barel pada Desember 2017.

Melambatnya ekspor pada bulan Desember 2017 diikuti dengan perlambatan impor. Nilai impor Indonesia Desember 2017 mencapai US$15,06 miliar atau turun 0,29 persen dibanding November 2017. Secara tahunan, impor Desember masih tumbuh 17,83 persen, sedikit melambat dibandingkan bulan November yang tumbuh 19,62 persen. Secara kumulatif, total impor tahun 2017 mencapai US$156,89 miliar atau tumbuh 15,66 persen dibanding tahun 2016. Perlambatan impor pada Desember terutama dipengaruhi melambatnya impor nonmigas yang turun sebesar 3,05 persen dari US$12,92 miliar pada bulan November menjadi US$12,51 miliar. Sementara itu, impor migas pada bulan Desember 2017 mencapai US$2,55 miliar atau naik 15,89 persen dibanding November 2017 atau tumbuh 50,10 persen yoy.

Nilai impor yang lebih tinggi dibanding ekspor menyebabkan neraca perdagangan bulan Desember 2017 mengalami defisit sebesar US$270 juta atau defisit secara bulanan yang kedua sepanjang tahun 2017 setelah bulan Juli. Namun demikian, neraca perdagangan Indonesia tahun 2017 masih mencatatkan surplus sebesar US$11,84 miliar atau US$3,06 miliar (24,24 persen yoy) lebih tinggi dibandingkan surplus tahun 2016 yang sebesar US$8,78 miliar. Tingginya surplus perdagangan tahun 2017 ditopang dari surplus neraca perdagangan nonmigas sebesar US$20,41 miliar, sementara migas masih mengalami defisit US$ 8,57 miliar. Surplus neraca perdagangan tahun 2017 juga merupakan yang tertinggi dalam 5 tahun terakhir.

Dengan demikian, kinerja ekspor dan impor sepanjang tahun 2017 masih menunjukkan sinyal positif seiring dengan aktivitas perekonomian domestik yang menguat, konsumsi yang terjaga serta dukungan dari penguatan harga komoditas. Namun demikian, harga minyak mentah dunia yang diperkirakan masih dalam tren penguatan pada tahun 2018 harus terus diwaspadai mengingat tingginya defisit neraca perdagangan migas.


Sumber Data: Bloomberg, WEC, Bank Indonesia, Bisnis Indonesia, Reuters, FT, CNN Indonesia, CNBC, Investor Daily, Ipot News, BBC, Kompas, Antara News, Kontan.

 

 

Highlight  Minggu Ini

  • Indeks saham AS S&P 500 mengawali tahun ini dengan start terbaik sejak 2003.
  • Indeks dolar AS melanjutkan tren depresiasi terhadap sejumlah mata uang dunia.
  • IHSG pada penutupan pekan berada di level 6.370,07, menguat 0,26 persen secara mingguan.
  • Nilai tukar Rupiah terpantau menguat 0,47 persen secara mingguan dan berada di level Rp13.353 per USD.
  • Neraca perdagangan Indonesia 2017 mencatatkan surplus US$11,84 miliar.

I.      Pasar Global

Pasar Saham. Wall Street kembali mencatatkan rekor tertinggi sepanjang sejarah di awal 2018 ini. Bahkan, performa indeks S&P 500 di awal tahun ini merupakan start terbaik sejak 2003. Indeks S&P 500 menguat 1,57 persen selama sepekan, sementara indeks Dow Jones menguat sekitar 2 persen. Penguatan bursa saham Wall Street didorong oleh rilis laporan keuangan emiten yang menunjukkan peningkatan pendapatan dan profit yang melebihi ekspektasi, terutama laporan keuangan bank – bank besar. Investor juga optimis untuk kinerja di 2018 ini seiring dengan peraturan perpajakan yang baru nantinya. Dari kawasan Eropa, indeks utama seperti FTSE 100 (Inggris) dan STOXX 600 kembali mencatatkan kenaikan secara mingguan. Selain dipengaruhi oleh ekspektasi investor atas peningkatan pendapatan emiten akhir 2017, sentimen positif juga datang dari Jerman dimana para pemimpin partai koalisi Jerman mencapai kesepakatan untuk membentuk pemerintahan yang baru. Secara sektoral, penguatan mingguan bursa saham Eropa didukung oleh performa saham – saham sektor otomotif dan retail. Sementara itu dari kawasan Asia, reli bursa saham di kawasan Asia berlanjut, didukung oleh positifnya data perdagangan Tiongkok sesuai ekspektasi investor.

Pasar Uang. Indeks dolar AS mengalami penurunan ke level 90,97 dari level 91,92 pada akhir pekan lalu. Beberapa sentimen yang mempengaruhi pergerakan dolar AS antara lain pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengatakan bahwa AS akan menghapuskan sanksi nuklir terhadap Iran dan memberikan kesempatan kepada Eropa dan AS untuk memperbaiki kesepakatan nuklir. Keinginan Tiongkok untuk mengurangi pembelian treasury AS juga semakin menambah sentimen negatif bagi dolar AS selama sepekan. Sementara itu, pada akhir pekan lalu, pound Inggris sempat mengalami apresiasi yang signifikan terhadap dolar AS menyusul kemajuan perundingan Brexit dengan Belanda dan Spanyol. Masih dari kawasan Eropa, apresiasi mata uang Euro Terhadap dolar AS sedikit banyak juga dipengaruhi oleh rilis risalah Bank Sentral Eropa (ECB) yang akan meninjau kembali kebijakan pengurangan stimulus moneternya di 2018.

Pasar Obligasi. Yield treasury AS tenor 2 tahun menyentuh rekor tertinggi sejak 2008 seiring semakin menguatnya ekspektasi atas kenaikan suku bunga the Fed pada bulan Maret mendatang. Hal ini didasarkan pada rilis data inflasi akhir 2017 lalu. Meskipun secara bulanan kenaikan inflasi secara keseluruhan di bawah ekspektasi, inflasi inti secara tahunan meningkat lebih tinggi, yaitu pada level 1,8 persen, lebih tinggi dari perkiraan para analis yang sebesar 1,7 persen. Selain itu, data penjualan eceran AS bulan Desember 2017 yang meningkat dan revisi lebih tinggi penjualan eceran November 2017 menunjukkan bahwa momentum pertumbuhan ekonomi AS dinilai sudah cukup kuat. Sementara itu, senat AS akan melakukan pemilihan suara yang kedua pada tanggal 17 Januari 2018 terkait nominasi Presiden AS Donald Trump atas Jerome Powell untuk memimpin the Fed. Apabila lolos, Powell akan memimpin pertemuan the Fed pada bulan Maret mendatang dengan proyeksi suku bunga acuan the Fed akan dinaikkan.

Pasar Komoditas. Harga acuan minyak mentah dunia melanjutkan penguatan mingguan seiring masih berlanjutnya penurunan cadangan minyak mentah mingguan AS. Sejalan dengan penguatan harga minyak, posisi Dolar AS yang melemah terhadap sebagian besar nilai tukar global mendorong penguatan harga emas di samping posisi beberapa indeks global yang dinilai overvalue mendorong shifting ke investasi emas.. Sementara itu, penangguhan penerapan bea ekspor CPO oleh Pemerintah Malaysia menjadi sentimen positif bagi kenaikan harga acuan CPO di pasar global.

II. Pasar Keuangan Domestik

  • Pada penutupan pekan, IHSG menguat 0,26 persen secara mingguan dan berada di level 6.370,07 dengan posisi beli bersih investor non residen, imbal hasil SBN seri benchmark bergerak mixed antara turun 5 bps hingga naik 1 bps dengan posisi kepemilikan investor non residen yang masih meningkat, dan nilai tukar Rupiah menguat 0,47 persen ke level Rp13.353 per USD..

IHSG tercatat menguat 0,26 persen dan ditutup pada level 6.370,07. Penguatan tersebut ditopang oleh aksi beli investor nonresiden yang mencapai Rp1,49 triliun. Nilai rata-rata transaksi perdagangan harian selama sepekan tercatat sebesar Rp7,61 triliun, meningkat dari pekan sebelumnya yang sebesar Rp6,68 triliun meliputi perdagangan di pasar reguler dan pasar nego. IHSG sendiri diperdagangkan di kisaran 6.344,04 – 6.412,03.

Nilai tukar Rupiah terpantau menguat 0,47 persen secara mingguan dan berada di level Rp13.353 per USD. Tekanan terhadap nilai tukar Rupiah relatif terjaga, sebagaimana tercermin dari perkembangan spread harian antara nilai spot dan non deliverable forward 1 bulan selama sepekan yang lebih rendah dibandingkan pekan sebelumnya. Minggu ini Rupiah diperdagangkan di kisaran 13.346 – 13.479 per dolar AS.

Dari pasar SBN, yield SUN seri benchmark bergerak mixed di mana yield SBN tenor 20 tahun (FR0075) naik 1 bps sementara tenor 10 tahun mengalami penurunan yield 5 bps dalam sepekan. Berdasarkan data setelmen BI per 11 Januari 2018, kepemilikan nonresiden atas SBN tercatat sebesar Rp862,23 T (40,68%), naik Rp26,08T (3,12%) secara ytd dan mtd?.

III. Perekonomian Internasional

Dari kawasan Amerika, neraca perdagangan AS kembali mencatatkan defisit sebesar USD50,50 miliar, lebih besar dibanding defisit bulan sebelumnya yang sebesar USD48,90 miliar. Defisit ini merupakan yang terbesar sejak 2012. Hal ini dipengaruhi oleh besarnya kenaikan impor yang mencapai 2,5 persen dibandingkan dengan kenaikan ekspor 2,3 persen. Penjualan ritel AS tumbuh sebesar 0,4 persen pada bulan Desember 2017 didorong oleh penjualan materi pertamanan dan bangunan serta auto dealerships. Sementara itu, inflasi Brazil pada bulan Desember 2017 tercatat sebesar 2,95 persen yoy. Angka tersebut merupakan yang tertinggi sejak 19 tahun terakhir. Kondisi ini didorong oleh penurunan harga makanan.  

Dari kawasan Eropa, inflasi Eropa secara tahunan tercatat sebesar 1,4 persen pada bulan Desember 2017, sedikit lebih rendah dibanding bulan sebelumnya yang sebesar 1,5 persen. Sementara itu, inflasi inti tercatat sebesar 0,9 persen, berada di bawah perkiraan para analis yang sebesar 1 persen. Data produksi manufaktur Inggris untuk bulan November 2017 meningkat sebesar 0,4 persen mom, lebih tinggi dari bulan sebelumnya yang sebesar 0,3 persen mom. Kondisi ini dipengaruhi oleh penguatan pertumbuhan ekonomi global khususnya kawasan Eropa serta penurunan nilai mata uang Poundsterling. Di sisi lain, penjualan ritel Eropa untuk bulan November 2017 tumbuh sebesar 1,5 persen, lebih tinggi dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang mengalami kontraksi sebesar -1,1 persen. Pertumbuhan tersebut melebihi proyeksi analis sebesar 1,4 persen. Penjualan tertinggi terjadi pada kelompok produk non-pangan.

Dari kawasan Asia, inflasi Tiongkok secara tahunan tumbuh sebesar 1,8 persen, sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang sebesar 1,7 persen. Kenaikan ini didorong oleh kenaikan harga produk obat-obatan, produk housing-related, pendidikan, budaya, dan hiburan. Secara keseluruan inflasi Tingkok selama tahun 2017 tercatat sebesar 1,6 persen.

IV. Perekonomian Domestik

Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Desember 2017 mencapai 126,4, lebih tinggi dari IKK November 2017 yang sebesar 122,1. Meningkatnya keyakinan konsumen didorong oleh membaiknya persepsi konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini maupun ekspektasi konsumen terhadap kondisi ekonomi ke depan. Menguatnya optimisme konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini terjadi pada seluruh kelompok pengeluaran sejalan dengan membaiknya ketersediaan lapangan kerja dan pembelian barang tahan lama. Sementara itu, perbaikan ekspektasi kondisi ekonomi ke depan terutama ditopang oleh meningkatnya ekspektasi ketersediaan lapangan kerja, kegiatan dunia usaha, dan penghasilan.

Namun, di tengah optimisme konsumen, kegiatan dunia usaha menunjukkan perlambatan. Hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) yang dilakukan Bank Indonesia menujukkan bahwa Saldo Bersih Tertimbang (SBT) kegiatan usaha pada Q4-2017 hanya sebesar 7,4 persen, lebih rendah dibanding Q3-2017 sebesar 14,32 persen. Hal ini mengindikasikan bahwa kegiatan dunia usaha di Indonesia pada Q4 tumbuh lebih lambat dibanding Q3. Perlambatan kegiatan usaha di tiga bulan terakhir 2017 terjadi di hampir seluruh sektor, kecuali sektor listrik, gas, dan air bersih serta pengangkutan dan komunikasi. Penurunan terparah terjadi di sektor pertanian, perkebunan, peternakan kehutanan dan perikanan yang sebelumnya tumbuh positif jadi negatif.

Sementara itu, dari sektor ritel, indeks penjualan eceran pada November 2017 mencapai 206,7 atau tumbuh 2,5 persen yoy, lebih baik dibandingkan pertumbuhan pada Oktober 2017 yang sebesar 2,2 persen. Pertumbuhan tersebut berasal dari penjualan kelompok makanan minuman yang tumbuh 7,8 persen yoy dan bahan bakar kendaraan yang tumbuh 5,8 persen. Penjualan eceran kelompok lainnya masih tumbuh negatif, dengan tingkat penurunan yang melambat. Peningkatan pertumbuhan penjualan eceran diperkirakan akan berlanjut pada Desember 2017 dengan IPR (Indeks Penjualan Riil)  yang lebih tinggi yakni sebesar 2,6 persen (yoy).

Dari sektor eksternal, cadangan devisa Indonesia akhir Desember 2017 tercatat sebesar USD130,20 miliar, lebih tinggi dibanding posisi akhir November 2017 yang sebesar USD125,97 miliar. Peningkatan tersebut terutama dipengaruhi oleh penerimaan devisa, antara lain berasal dari penerbitan global bonds pemerintah serta penerimaan pajak dan devisa ekspor migas bagian pemerintah. Penerimaan devisa tersebut melampaui kebutuhan devisa terutama untuk pembayaran utang luar negeri pemerintah dan Surat Berharga Bank Indonesia (SBBI) valas jatuh tempo.

Neraca Perdagangan 2017: Fundamental Perekonomian Domestik Semakin Kuat

  • Neraca perdagangan Indonesia tahun 2017 mencatatkan surplus sebesar US$11,84 miliar.
  • Ekspor sepanjang tahun 2017 mencapai US$168,73 miliar atau tumbuh sebesar 16,22 persen yoy.
  • Impor tahun 2017 mencapai US$156,89 miliar atau tumbuh 15,66 persen yoy.
  • Surplus neraca perdagangan nonmigas tercatat sebesar US$20,41 miliar, sementara migas masih mengalami defisit US$ 8,57 miliar.

Nilai ekspor Indonesia pada bulan Desember 2017 mencapai US$14,79 miliar atau turun sebesar 3,45 persen dibandingkan realisasi ekspor November 2017 yang mencapai US$15,32 miliar. Secara tahunan, nilai ekspor pada bulan Desember 2017 tumbuh 6,93 persen yoy, sedikit melambat dibandingkan pertumbuhan ekspor bulan November yang mencapai 13,18 persen yoy. Secara kumulatif, realisasi ekspor sepanjang tahun 2017 mencapai US$168,73 miliar atau lebih tinggi 16,22 persen dibandingkan tahun 2016 yang mencapai US$145,19 miliar.

Sedikit melambatnya kinerja ekspor pada Desember 2017 terutama dipengaruhi oleh turunnya ekspor nonmigas dari US$14,04 miliar pada November 2017 menjadi US$13,28 miliar pada Desember 2017 atau turun sebesar 5,41 persen, meskipun secara tahunan ekspor nonmigas masih tumbuh positif sebesar 5,56 persen. Tercatat dua sektor yang mengalami penurunan ekspor pada bulan Desember 2017 yaitu hasil pertanian dan industri pengolahan. Sektor pertanian membukukan nilai ekspor US$0,28 miliar atau turun 12,82 persen mtm dipengaruhi oleh turunnya ekspor kopi, lada hitam dan biji kakao, sementara itu industri pengolahan turun -9,98 persen mtm menjadi US$10,33 miliar.

Di sisi lain, ekspor migas naik sebesar 17,96 persen mom dari US$1,28 miliar pada November 2017 menjadi US$1,51 miliar pada bulan Desember 2001. Secara tahunan, ekspor migas pada bulan Desember 2017 tumbuh sebesar 20,78 persen. Selain dipengaruhi oleh kenaikan volume ekspor minyak mentah dan gas alam yang masing-masing tumbuh 5,39 persen dan 19,38 persen, tingginya ekspor migas bulan Desember 2017 juga dipengaruhi oleh kenaikan harga minyak mentah Indonesia (ICP) dari US$59,34 per barel pada bulan November menjadi US$60,90 per barel pada Desember 2017.

Melambatnya ekspor pada bulan Desember 2017 diikuti dengan perlambatan impor. Nilai impor Indonesia Desember 2017 mencapai US$15,06 miliar atau turun 0,29 persen dibanding November 2017. Secara tahunan, impor Desember masih tumbuh 17,83 persen, sedikit melambat dibandingkan bulan November yang tumbuh 19,62 persen. Secara kumulatif, total impor tahun 2017 mencapai US$156,89 miliar atau tumbuh 15,66 persen dibanding tahun 2016. Perlambatan impor pada Desember terutama dipengaruhi melambatnya impor nonmigas yang turun sebesar 3,05 persen dari US$12,92 miliar pada bulan November menjadi US$12,51 miliar. Sementara itu, impor migas pada bulan Desember 2017 mencapai US$2,55 miliar atau naik 15,89 persen dibanding November 2017 atau tumbuh 50,10 persen yoy.

Nilai impor yang lebih tinggi dibanding ekspor menyebabkan neraca perdagangan bulan Desember 2017 mengalami defisit sebesar US$270 juta atau defisit secara bulanan yang kedua sepanjang tahun 2017 setelah bulan Juli. Namun demikian, neraca perdagangan Indonesia tahun 2017 masih mencatatkan surplus sebesar US$11,84 miliar atau US$3,06 miliar (24,24 persen yoy) lebih tinggi dibandingkan surplus tahun 2016 yang sebesar US$8,78 miliar. Tingginya surplus perdagangan tahun 2017 ditopang dari surplus neraca perdagangan nonmigas sebesar US$20,41 miliar, sementara migas masih mengalami defisit US$ 8,57 miliar. Surplus neraca perdagangan tahun 2017 juga merupakan yang tertinggi dalam 5 tahun terakhir.

Dengan demikian, kinerja ekspor dan impor sepanjang tahun 2017 masih menunjukkan sinyal positif seiring dengan aktivitas perekonomian domestik yang menguat, konsumsi yang terjaga serta dukungan dari penguatan harga komoditas. Namun demikian, harga minyak mentah dunia yang diperkirakan masih dalam tren penguatan pada tahun 2018 harus terus diwaspadai mengingat tingginya defisit neraca perdagangan migas.

Download Publication
Data Source: Bloomberg, WEC, Bank Indonesia, Bisnis Indonesia, Reuters, FT, CNN Indonesia, CNBC, Investor Daily, Ipot News, BBC, Kompas, Antara News, Kontan.

Briefing Notes Update

Alternative text - include a link to the PDF!


ESELON I KEMENTERIAN KEUANGAN


KONTAK: Jl. Dr. Wahidin No. 1 Gd. R. M. Notohamiprodjo, Jakarta Pusat 10710
email: ikp@fiskal.depkeu.go.id

  Kurs Pajak : KMK Nomor 2/KM.10/2018,   USD : 13,445.00    AUD : 10,556.43    GBP : 18,232.76    SGD : 10,123.64    JPY : 11,924.68    EUR : 16,191.33    CNY : 2,072.20